
Ivan berdiri dijendela apartementnya. Tempat favoritnya apabila dia pulang. Memandang kerlap-kerlip lampu kota Jakarta.
Bram sedang mandi, dia tadi mengajak ivan, kalo dia menuruti kemauan Bram yang ada ritual mandinya berubah…hehehe.
Bram hanya mengenakan celana panjang khaki warna hitam dan bertelanjang dada, dia mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia berjalan menghampiri ivan. Diletakkan kepalanya di bahu ivan. Dia memeluk pingang ivan. Mengecup perlahan lehernya.
“Mandilah van… kamu mau makan apa?” tanya Bram, ivan memutar badannya menghadap Bram, tangannya merangkul leher Bram.
Dia memiringkan kepalanya, mendekatkan wajahnya. Bibirnya hanya beberapa centi saja dari bibir Bram. Dia ingin merengkuhnya tapi dia tahu Bram tak akan suka. Akhirnya dia menyadarkan kepalanya di bahu Bram. Menahan keinginan untuk mencium Bram.
“Nasi omelette…aku mau itu.”
“Okay…mandilah. Aku akan masak buat kamu.”
“Ya…”
“Plaaaakkk…” bram memukul pantat ivan yang bulat.
“Iiishhh sakit tau..”
“Habis kamu lesu amat…sana mandi jangan pakai lama, waktuku terbatas disini.”
“Kamu gak mau nginap?”
“Mandi ivan cepetan…”
“Iya…” ivan pun meninggalkan Bram.
“Duh gimana ngomongnya ya…gw memang pernah sih bahas mo cari cewek buat dinikahin kontrak sama ivan, tapi bukan bahas monica.” Guman Bram.
Bram membuka lemari es mereka, melihat isinya. Mengeluarkan bahan-bahan yang dia butuhkan. Dan mengolahnya sesuai apa yang diinginkan ivan. Gak lama ivan selesai mandinya. Dia mencium wangi masakan.
“Hmmm harum…pasti enak.” Puji Ivan.
“Cup…kamu lebih harum dan lebih enak dari semua ini” goda Bram.
“Gombal ahh…”
“Hahahha…duduklah kita makan.” Ajaknya. Ivanpun duduk di hadapan bram. Mereka menikmati makan malam mereka tanpa banyak bicara.
“Sini biar aku saja yang cuci piring… kamu duduk sana dulu.”
“Sipp…” Bram menuju sofa, duduk menonton Tv.
Dia gak bisa fokus dengan acara di televisi. Ivan dengan cepat merapihkan peralatan makan mereka. Dia mengambil 2 buah Bir.
“Nih…” ivan memberikan 2 buah kaleng Bir.
“Thanx ya yank…”
“Hmmm…eh kamu beneran gak bisa nginap ya.”
“Maaf…Van aku ingin bicara serius.” Bram menegak birnya, menghilangkan kegugupannya.
“Soal keberangkatanku lagi kah?”
“Bukan…”
“Jadi…”
“Van...kamu ingat tentang rencanaku tentang menikah kontrak itu kan?”
“Ya…hingga kau menyingkirkanku…” jawabnya, ada nada terluka dari suara ivan.
“Maaf van…bukan itu maksudku” entah mengapa perasaan bram juga terluka jika memikirkan kepergian Ivan.
“Jadi…”
“Aku menemukannya..”
"Maksudmu... siapa?"
“Wanita yang bisa ku nikahi tanpa aku merasa jijik atau mual.”
“wanita yang membuatmu normal..maksudmu?”
“Bukan itu sayang maksudku…”
“Tapi memang benarkan…jika dia mampu membuatmu berlaku normal dihadapan publik, apa pernikahan kalian hanya setahun?” hatinya terasa sakit. Bram tidak mampu menjawab pertanyaan ivan.
“Jawab aku Bram…”
“Maaf…” hanya itu yang terucap dari mulutnya. Dia tak bisa berkata apapun, berjanji apapun pada Ivan.
“Pulanglah…” ujar ivan. Dia menundukan kepalanya menatap lantai dibawahnya.
“Ivan…” Bram merengkuh ivan dalam pelukkannya.
“Bram…pernahkah kau mencintaiku? Atau aku hanya sebuah objek bagimu? Pelacurmu?” ucapnya lirih.
Deg… sial bukan ini yang ingin dia lakukan. Tidak dalam menyakiti hati ivan.
“Ivan, bukan itu maksudku…aku janji padamu hanya 1 tahun.”
“Benarkah…dan setelah kau akan kembali ke sisi ku?”
“Iya…aku janji.”
“Jika kau tak bisa bagaimana? Apa yang kau lakukan?”
“Aku akan tetap menceraikannya…” ujar Bram, ada nada keraguan dalam suaranya.
Sebenarnya dia pun tidak yakin dengan perkataannya. Tadinya dia ingin menunjukan proposal perjanjian pernikahannya pada ivan. Tapi dia mengurungkannya.
“Bram…Pulanglah. Aku ingin sendiri.”
“Tidak…aku akan menginap.” Saat ini dia tidak bisa meninggalkan ivan sendiri. Dia takut ivan akan melakukan hal yang lebih berbahaya.
“Aku tak akan melakukan hal yang bodoh lagi Bram, jadi kumohon pulanglah…” pinta ivan, dia memberanikan diri menatap bram.
Bram menarik napasnya dalam-dalam. Dia berdiri dan seketika itu juga bram membopong tubuh ivan, membawa pria itu masuk ke dalam kamarnya.
“Kyyaaakkk lepas, turunkan aku bram”
“Tidak diamlah…” Perintahnya, dia mempercepat langkahnya, bram menurunkan ivan di tempat tidur.
Dia melangkah ke lemari pakaian, melepas kemeja dan celana panjangnya menggantikan dengan celana boxer tanpa menggunakan kaos.
“Kau bukan pelacurku ivan…tidak pernah aku menganggapmu seperti itu. Kau kekasihku. Satu-satunya yang nyata yang bisa aku sentuh, baik secara fisik, maupun jiwa.” Tegas bram. Di hempaskannya tubuhnya ke atas tempat tidur, disamping Ivan.
“Bram, aku tak bermaksud membuatmu marah. Aku hanya ingin kau mengerti 1 hal, bahwa aku bukan mainanmu.”
“Hmmm…kemarilah. Aku hanya ingin memelukmu.” Bram meyakinkan Ivan ketika dilihatnya Ivan tidak bergerak sama sekali. Perlahan ivan masuk dalam pelukan Bram.
“Tidur…ini sudah malam. Aku tak akan pergi tengah malam, aku janji akan tinggal sampai besok. Jadi tidurlah.”
Ivan menjadikan lengan Bram bantalan kepalanya. Dia menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Bram. Alunan napas Bram menuntunnya ke alam mimpi.
“Van…I love you too.” Bisik bram, kata-kata yang sangat ingin ivan dengar, di ucapkan bram di dalam gelap, ketika ivan terlelap, terbuai dalam mimpi.
“Kau curang Bram…”batin bram.
Anggaplah dia pengecut, ya dia memang pengecut. Jika soal cinta dia tidak berani mengungkapkannya, apa yang dia lakukan dan katakan terkadang berbeda, ketidak-mengertian membuat dia tertutup tak berani mengungkap kebenaran sehingga melukai orang yang paling dia sayangi.
Anggaplah dia tak adil, itu juga benar, dia Bram Mahesa Adiputra, hari-hari kedepan dia akan melukai orang-orang yang mencintai dirinya atau bahkan orang yang dia cintai.
Jika di tanya mengapa dia lakukan ini semua. Jawabannya hanya 1, kejujuran yang akan menghancurkan kebahagian semua orang. Dia punya kelemahan, dan kelemahan itu tidak diterima di masyarakat.
“Dit…gw belum ngomong ke ivan soal Monica.” aku Bram.
“Bukannya tadi malam lw nginap di apartement kalian?”
“Ya…”
“Lalu kenapa gak bilang…?”
“Gw gak sanggup…shit…ini berat tahu gak sih.”
“Kalo begitu jangan lakukan…” saran aditya.
“Maksud lw..”
“Kalo lw beranggap apa yang lw lakukan tidak adil buat ivan maka jangan lakukan. Tapi lw harus hadapi keluarga lw dan bantu gw lepasin Liani dari perjodohan.” Pinta Aditya.
“Shit…”
“Sorry Bram…salah satu dari kita harus berkorban. Jujur gw gak bisa tanpa Liani. Dia matahari bagi diriku Bram.” sambungnya lagi.
“Jadi gw gak ada pilihan, begitu maksud lw dit…?” tanya Bram
“Untuk sementara ya…”
“Sinting… sial…”
“Bram…jawab jujur, apa lw suka sama Monica?”
“Gw gak tahu apa yang gw rasa terhadap monica yang pasti gw nyaman dekat dia.”
“Setahun…sanggup lw?”
“Mungkin…”
“Lalu ivan…bagaimana perasaan lw sama ivan…?” tanya Aditya.
Ivan sudah berdiri di depan pintu kantor Bram mendengar semua percakapan Bram dan Aditya. Dan saat ini dia tak ingin mendengarkan apapun yang melukai hatinya. Di dorongnya pintu kantor bram tepat sebelum Bram menjawab.
Aditya dan Bram, keduanya terkejut dengan kedatangan Ivan yang tiba-tiba. Dalam hati mereka bertanya-tanya apakah ivan mendengar semua percakapan mereka.
“Ivan…sayang kok gak telepon kalo mo datang…” kata bram menyembunyikan keterkejutannya, wajahnya waspada melihat ivan.
“Ini sudah ku tanda-tangani…aku akan pergi dalam 3 hari lagi.” Ivan menyerahkan 2 buah amplop yang 1 merupakan formulir kampus, yang lain surat perjanjian untuk melepaskan Bram, mengijinkan pria itu untuk menikah dengan wanita manapun. Tanpa menunggu jawaban Bram, ivan melangkah keluar.
“Ivan…tunggu…van.” Panggil Bram.
“Stop Bram, jangan…aku mohon jangan mendekat, jangan lakukan apapun. Kau punya keluarga Bram. Ada orangtua yang membesarkanmu yang tak pantas kau sakiti. Jadi jangan lakukan apapun untukku. Biarkan seperti ini…aku mohon biarkan.”
“Van please tunggu, biar aku jelaskan…please dengar dulu.” Bram memohon pada ivan agar mau mendengarkan penjelasannya.
“Dit...tinggalkan kami…” perintah bram. Aditya melangkah keluar ruangan meninggalkan Bram dan Aditya.
“Apa yang mau dibahas bram…kurasa tak perlu lagi. Aku mengerti sangat mengerti.”
“Tidak kau tak mengerti sama sekali…aku tak punya pilihan van. Aku harus menikah dengan Auliani, itu perintah dari mama dan oma ku. Dan kau sangat mengerti siapa itu Auliani buat Aditya….aku..”
“Stop…aku paham…sangat paham. Jadi aku yang akan mengalah…” ivan menatap Bram. Hatinya, jiwanya hancur.
Dulu dia hancur karena seorang wanita, kini dia hatinya hancur berkeping-keping karena Pria ini.
Ya mereka punya keluarga sedangkan aku tidak, mereka kalangan terhormat, namun tidak dengan dirinya. Dia kotor, tak berguna. Orang buangan.
“Aku pergi…jangan ke apartement dulu. Biarkan aku sendiri…bye bram.”
“Oh…no…no..no…kau tidak boleh pergi dalam kondisi seperti ini.” Bram menahan ivan. Dia tahu ivan sangat rapuh dan mampu melakukan hal berbahaya tidak masuk diakal.
“Ijinkan aku pergi…aku tak akan lakukan hal konyol apapun, aku janji…tolonglah bram.” akhirnya Bram mengijinkan ivan pergi.
Mungkin ini akan menjernihkan semua masalah yang terbentang antara mereka.
“Van…aku bukan ingin melepaskanmu atau membuangmu. Tolong kamu ingat itu.”
“Ya…tapi kau juga tidak memilihku.” Batinnya. Ivan melangkah keluar ruangan.
“Kau tenang saja dit…auliani tetap jadi milikmu.” Katanya sambil menepuk pundak Aditya. ya... biarkan dia yang pergi, yang mengalah, batin ivan.
“Van…aku…”
“Ssssttt…jangan. Please.”
“Ok… thanx..!” ivan berjalan melangkah menjauh. Ya ini yang terbaik buat mereka bertiga. Sepeninggalan ivan, Aditya langsung masuk ke dalam ruangan, untuk melihat kondisi Bram.
“Bram…” Panggil Aditya.
“Tolong tinggalkan aku sendiri…” pinta Bram. Aditya menurutinya, diluar ruangan bram Aditya menyandarkan punggungnya di pintu.
“Apakah ini yang terbaik…”gumannya.
Apakah hubungannya dengan Bram akan terpecah? Shit dia jadi bingung sekarang. Dia tahu kepergian ivan adalah keputusan yang berat buat Bram dan buat ivan sendiri. Namun dia pun tak bisa jika harus kehilangan Auliani.