UnderCover Wife

UnderCover Wife
Chapter 18: Something Mess...



"Ting tong...Ting tong...." Bel rumah Monica berbunyi. Monica terbangun dan melihat jam nya, waktu menunjukkan pukul 1 malam.


"Iiissshhh siapa sih... Malam-malam begini" gerutunya. Monica tersentak kaget ketika dilihatnya Bram berdiri di hadapannya.


"Bram...."


"Ijinkan aku masuk..."


"Astaga kau kenapa.... masuklah." Ujar Monica kaget melihat kondisi Bram, pria itu terlihat kusut, matanya merah sembab.


Monica mempersilahkan Bram masuk. Dan dia pun menutup pintu kembali. Tiba-tiba Bram memeluknya dan menangis.


Monica bingung dengan sikap Bram. Ini pertama kalinya pria itu menangis. Biasanya kalo sudah meluk pasti dia mencium Monica. Tapi ini malah nangis...


"Duduk dulu Bram..." Monica melepaskan pelukan Bram, menarik Bram untuk duduk di sofa.


"Nah katakan ada apa?"


"Maaf...aku gak bisa bilang, hanya ijinkan aku memeluk mu sebentar saja."


"Okay peluk aja ya..."


"Ya...." Karena itu yang di butuhkan Bram. Bram mengingat kata-kata ivan yang terakhir untuknya.


Jujur dia bingung harus bagaimana. Dia pun terluka. Dia tahu perasaannya terhadap Ivan bukan fatamorgana.


Dalam pelukan Monica dia menangis, menumpahkan kesedihan dan keputusasaannya pada Monica.


Bram akhirnya menginap di rumah Monica. Dia terlelap di sofa. Namun pagi-pagi, dia sudah meninggalkan rumah Monica. Monica heran dengan sikap Bram. Datang malam-malam dan pergi pagi-pagi.


"Aditya, ada apa dengan Bram?" tanya Monica, melalui telepon.


"Dia ada di rumah mu?"


"Sudah pulang, tadi malam dia datang, Adit ini pertama kali nya aku melihatnya sesedih itu. Dia seperti hancur. Ada apa?"


"Tidak ada hanya masalah keluarga. Mon bisakah kau membantu kami? Tolong ya.." bujuk Aditya.


"Akan ku pikirkan..."


Seminggu berlalu sejak kepergian Ivan Noya ke Amerika. Sebenarnya untuk seorang Bram ngapain juga harus sedih dengan kepergian Ivan Noya.


Dia kan punya pesawat pribadi sendiri. Bisalah tiap Minggu bolak-balik Jakarta-California, tapi bukan itu yang di pikirkan Bram.


Bram butuh waktu, waktu untuk menata hatinya, menata hidupnya kembali. Jika dia ingin melangkah melakukan pernikahan kontrak itu, maka dia harus menghindari Ivan terlebih dahulu. Karena jika ivan disisinya, dia pasti akan membatalkan pernikahan kontrak tersebut. Bram baru menyadari cintanya pada Ivan Noya.


Monica sedikit bingung, karena semenjak bertemu dengan Bram, hidupnya penuh dengan gejolak. Dia tak percaya bahwa Bram melamarnya, mereka baru saja saling kenal, dan memang banyak hal yang telah terjadi diantara mereka.


Yaaa…mereka sudah berciuman tapi itu bukan menjadi dasar dari pernikahan kan. Monica pun belum yakin sepenuhnya dengan perasaannya terhadap Bram.


“Ciihh siapa yang mau dengan Pria arogan, tak tahu diri nan mesum, bibir dan tangan main nyosor aja, memang sih dia baik tapi mesum…!” gerutu monica sambil gadis itu memotong-motong makanan yang ada dihadapannya.


“Si mon-mon kenapa feb…kok dia ngoceh sendiri gitu?” bisik Ratna, teman febiola yang kebetulan kenal dengan Monica.


“Gw juga tahu dia kenapa Na…”


“Dia gak gini kan…” Ratna menaruh miring jarinya di jidatnya.


“ yaaa gak lah… masa iya miring...?"


“Habis ngoceh sendiri githu seram tau…”


“Betul juga sih loe na…bentar…Braaakkkk…” Febiola menggebrak meja kantin membuat semua orang terkejut termasuk Monica.


“Kyaaaakkk…” Jerit Monica dan Ratna berbarengan karena terkejut.


“Plaaaakkk…pllaaakk…” Refleks aja Ratna memukuli lengan Febiola.


“Dasar gila…ngagetin orang..kebangetan amat si loe feb…” protes Monica.


“Habis lw ngoceh-ngoceh gak jelas…tuh makanan buat dimakan bukan disiksa sampai hancur begitu…” tunjuk febiola pada piring Monica. Monica menatap makanannya yang hancur gak jelas.


“Dddrrrrrttt…Ddrrrrttt…” sebuah panggilan masuk datang ke handphone Monica. di bacanya nama yang tertera di screen. Aditya. Monica mengeryitkan dahinya. Ada apa ya kenapa dia menelpon dirinya. Bram…!


“Halo…dit…apa Bram baik-baik saja?”


“Bram…siapa tuh?pacarnya?”bisik Ratna kepada febiola.


“Orang yang nolongin sean…tumben ada apa ya?.” Febiola membalas bisikan Ratna.


“Mon kamu ada dimana?”


“Kampus…dit bilang ada apa dengannya…”


“Entah apa yang terjadi dengannya... hingga kemarin dia baik-baik saja. Mungkin terjadi sesuatu di rumahnya. Dia tidak menceritakan apa pun padaku. Bisa kah kau datang ke kantornya?”


“Okay baiklah… tunggu, hmm adit, tapi nanti tolong jemput sean ya…”


“Ya..biar nanti sean aku yang urus…”


“Thanx…”


“Aku yang berterima-kasih padamu Mon…” Aditya pun menutup teleponnya. Dia berdiri di pintu kantor Bram tanpa bisa lakukan apapun.


“Susan…berapa lama dia mengunci diri di dalam…?” Tanya Aditya.


“Sejak tadi pagi pak…”


“Mengapa kau baru menghubungiku?”


“Karena ku pikir bapak langsung keluar lagi…tadi setelah taruh tas saya ke toilet dulu. Begitu kembali beliau tidak ada dan pintu memang belum terkunci. Lalu saya ke ruangan Pak Jason memberikan berkas yang sudah di tanda-tangani. Saya tidak mengecek ruangan kembali.” Jelas Susan panjang lebar.


“Maafkan saya pak Aditya…”


“Ya… sudahlah…”


“Brraaakkk…brrraakkk…” suara barang-barang berjatuhan terdengar dari dalam. Bram mengunci pintu ruangannya dan tidak ada yang tahu dengan pasti, entah sudah berapa lama Bram ada di dalam sana.


“Braaammm…Bukkaaaa brengsek….baakkk…bbaaaakkk….Braaaammm wooiii…!!” Aditya berusaha menggedor pintu Ruangan Bram.


“Diaaammm Pergi lw dit…biar gw sendiri…PERGIII….aarrrrgggghhhh…!! “ Usirnya dari dalam.


“Aditya…” panggil Monica.


“Mon…tolong gw mon.”


“Mana Bram…?”


“Didalam…dia mengunci diri disana…” jawab Aditya


“Braaammm…. Buka…ini gw Monica…!” monica mencoba membujuk Bram untuk keluar.


“Daaammnnn get lost…All of You just Fucking Assholle…Damned…!!” teriaknya dari dalam. Saat ini Bram sedang mengalami kondisi buruk. Tidak tahu apa yang terjadi.


Flashback tadi malam di rumah Bram.


“Malam…” Sapa Bram yang baru tiba di rumahnya. Di halaman dia melihat beberapa mobil yang jelas bukan milik keluarganya. Namun dia mengenali salah satu mobil. Honda Jazz Merah milik Auliani Sanders.


“Malam…Bram akhirnya kamu sampai juga, duduklah kami ingin bicara.” Perintah oma nya.


“Bram ganti baju dulu oma gak enak ini seharian dari luarkan…”


“Baiklah…cepat ya jangan lama.”


“Ya oma…” Bram pun segera meninggalkan semua yang ada diruang tamu. Ternyata yang datang benaran Auliani dan keluarganya. Hhmmm… ada apa ini.


Tak lama kemudian Bram turun dan langsung menuju meja makan. Mereka sudah menunggu di meja makan.


“Ada apa sih kok Om dan Tante Sanders juga hadir… apa karena oma datang.”


“Kebetulan kamu tanya…Bram kami ingin kamu dan Auliani Menikah.”


“Apaaa… weitss, bentar mom…kan Bram sudah bilang, bram…”


“Stooopp… gak alesan lagi… pokoknya sabtu ini adalah hari pertunangan kalian dan tgl 12 July nanti kalian akan menikah…” jelas Oma nya Bram.


“Iya Nak Bram… kami selaku orangtua Auliani sudah menerima lamaran dari mama & papa kamu, juga oma.” Ayah dari Auliani membenarkan perkataan oma nya.


“Shit...kenapa jadi begini…”batinnya.


“Maaf ma…om, tante…oma, Bram gak bisa dengan Auliani, papa dan mama tahu sendiri kan bram gak bisa berdekatan dengan wanita, termasuk auliani. Lagi pula Bram benaran sudah ada calonnya sendiri..” jelas Bram


“Liani bisa kita bicara sebentar… ikut ke ruang depan…” perintahnya, bram jalan duluan.


“Jangan mendekat, tetap disana gw pusing gak kuat..” sambungnya lagi ketika mereka sudah didalam ruang studi.


“Sorry…jadi gimana nih..”


“Aditya apa dia tahu?”tanya adit.


“Belom…bram gw udah nolak kemarin waktu oma datang ke rumah. Gw udah mohon-mohon…tapi mereka tetap pada planning mereka…kita harus bagaimana?”


“Aarrrggghhh…sial…!!kenapa juga sih mereka gak mau ngerti juga.”


“Terus kita gimana…?”


“Tolaklah… shit banget gak sih… gw baru kehilangan ivan, gak mungkin gw harus kehilangan adit… lw harta dia yang paling berharga…gila kenapa sial banget sih hidup gw…”


“Kita harus kompak nolak…”


“Ya…”


“Bram…boleh aku bertanya sesuatu?”


“Tanyalah…”


“Ivan pacarmu?” bisiknya perlahan, Auliani tidak ingin ada orang yang mendengar pertanyaannya. Bram terpaku mendengarnya.


“Ya…Aku harus mengirimnya keluar dari Jakarta. Kebayangkan apa yang akan terjadi jika kita menikah. Aku akan kehilangan Aditya juga. Aku gak mau itu terjadi. Tolong rahasiakan ini…”


“Okay…yuk balik ke ruang makan?”


“Yuk…”


Segala cara untuk menolak sudah mereka lakukan tapi para orangtua tetap pada pendirian mereka. Bram ngerasa putus asa. Dia gak bisa curhat pada Aditya. Dulu jika dia dalam kondisi seperti ini ada Ivan yang menenangkan hatinya. Dengan cepat dia pergi dari rumah ke apartemennya.


“Van…I need you..” gumannya. Di raihnya handphonenya, di bukanya gallery teleponnya. Ada beberapa foto dirinya bersama ivan. Dia bukan pria yang romantis namun dia selalu memberikan yang terbaik buat Ivan. Bram membuka pesan terakhir yang Ivan tinggalkan untuknya Membacanya perlahan. I love you too…batinnya. Bram akhirnya terlelap.


Pagi harinya sebelum Bram mengunci pintu ruangan.:


Dia tiba di kantornya lebih cepat dari semua karyawannya. Tidak seperti biasanya, tak lama dia melihat susan sekretarisnya.


“Cepat juga dia datang…” gumannya. Bram pergi ke pantry membuat coffee untuk dirinya sendiri. Susan sedang ke ruangan Jason untuk memberikan berkas-berkas.


“Dddrrrttt…ddrrttt…” sebuah pesan masuk. Bram membukanya…


“Kucingmu jinak sekali, dan dia sendirian di LA…Adam.” Bram melihat beberapa Foto ivan. Tangannya mengepal dengan kuat. Adam mengirim beberapa foto Ivan. Sial…Ivan dalam kondisi mengenaskan. Bram dengan segera meng-dial nomor Ivan.


“Wah…cepat sekali…kucingmu memang luaaarrr biasa” Adam yang mengangkat telepon Ivan. Deg…jantung Bram berdegup kencang.


“Mana Ivan…adam..”


“Sedang menghangatkan ranjang Black…tunggulah aku akan mengirimkan videonya. Kucing mu benar-benar hebat…hahahahahaha”


“Brengsek kau adam lepaskan dia…”


“Hahahaha…apa yang ingin kau lakukan. Kau diluar jangkauan. Jika kau mencintainya dengan tulus harusnya kamu tidak mengirimnya ke sini sendirian. Tapi gw lega lw kirim dia ke sini, sehingga kami bisa menikmatinya dengan puas tanpa gangguan darimu…thanx Bram.”


“Adam…halo..haloo…brengsek…”


Saat ini di depan pintu ruangan Bram.


“Tidaak…buka dulu…baru gw pergi…” Teriak Monica.


“Perrgiii…”


“Waahh gak bisa kalo gini terus… nih pegang tas gw dit… minggir semuanya.” Monica pun memasang ancang-ancang untuk mendobrak pintu.


“waiitttss… mon lw mo ngapain?” tanya Aditya.


“Dobrak pintu…minggir.”


“Syet lw gila apa…gak bakal kuat lw…”


“Gw ban Hitam Karate"


“Apaaa? Gila…”


“Minggir adit…!” perintahnya, adit pun memberi ruang gerak untuk monica. Dengan cepat monica mendobrak pintu ruangan.


“Braaakkkk….” Pintu terbuka, dan mereka menerobos masuk, kekacauan terjadi di kantor Bram. Bram terduduk di sudut ruangan. Monica menghampirinya.


“Dit tutup lagi pintunya…” monica berjalan menghampiri Bram.


“Bram disentuhnya pundak bram…” pria itu diam tak bergeming. Dia tak berdaya.


“Semua salah gw mon…ini salah.”


“Ssstttt… tenanglah lebih dahulu…” Monica memeluk Bram, Bram pun menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Monica. wanita itu menenangkan bram. ini bukanlah pertama kali buat monica dan bram. di malam kepergian Ivan, monica jugalah yang menenangkan Bram.


Aditya mengalihkan pandangannya, matanya terpaku pada hanphone Bram. Dia mengambilnya, alangkah terkejutnya Aditya ketika melihat semua foto-foto ivan. dia membaca siapa pengirimnya dan menjadi geram… sial. Ini tidak pernah mereka prediksikan. Pantas saja Bram menggila. Aditya langsung menelpon beberapa orangnya.


“Shiiitt…bukankah sudah ku bilang awasi, jangan pernah lepas dari pandangan kalian. Brengsek kalian semua. Gak ada gunanya..” maki Aditya pada anak buahnya.


Baru juga seminggu ivan pergi, Adam benar-benar lawan yang tangguh. Aditya memutuskan untuk menghubungi Jan, sekalipun dia harus kehilangan Ultimate dan harga dirinya. Dia tidak bisa melihat Bram seperti ini tak berdaya.


“Jan bantu gw… apa yang lw mau gw turuti.. please bantu gw. Gw kirim pesan ke lw okay.. please…!!”


“Okay…gw bantu. Lw tepati janji okay…”


“Ya…Thanx…”


“Relax…”


Aditya menatap sahabatnya Bram. Bram benar-benar kacau, Aditya tidak pernah melihatnya menangis tapi baru kali ini dia melihatnya.


“Bram…tenanglah aku sudah mengurusnya.”


“Bawa dia balik…please…!!” pintanya.


“No…tidak untuk saat ini.” Tolak Aditya. Dengan cepat Bram berdiri dan langsung menyerang Aditya.


“Bawa dia balik brengsek… bawa dia pulang...”


“Bram tenanglah…tenang…Mon bantu gw.” ujar Aditya


“Brengsek lw Aditya…You fucking asshole…” teriaknya.


“Damnnn…!!! Braaammm lw harus tenang…kita gak bisa ambil keputusan disaat sedang marah seperti ini. Tidak… lw paham..buuuggg….!” dengan terpaksa Aditya memukul perut Bram. Dia butuh menyadarkan Bram. Jika mengenai Ivan, emosi bram bisa tidak terkontrol.


Dalam mengambil keputusan kita harus dalam kondisi tenang. Jangan dalam amarah kita memutuskan sesuatu. Aditya meminta Monica membawa Bram pulang. Tidak ke apartemen atau pun rumahnya. Tapi Aditya memohon monica untuk membawa Bram ke rumah Monica. membiarkan pria itu tenang bersama monica.


“Mon tolong jaga dia…biarkan dia disini untuk sementara waktu, hingga dia tenang.” Pinta Aditya.


“Baiklah…lw utang cerita sama gw.”


“Ya..nanti ya.. gw pergi dulu, dia dimana? Gw mo pamit”


“Kamar gw noh di sana..”


“okay…”


Aditya masuk ke kamar yang dimaksud oleh monica. Dia melihat Bram tidur dengan tenangnya. Dengan segala emosi seperti tadi wajarlah jika Bram kelelahan.


“Bram…”Aditya membangunkannya.


“Hmmm “


“Gw ke USA. Lw dengan Monica ya. Gak usah banyak pikiran. Tenanglah…”


“Thanx…safe him…please…make sure he save…” ujarnya dengan nada bergetar.


“Ya pasti..."


“Telpon gw setelah lw ketemu dia…” pinta Bram.


“Ya..tidurlah…”


"Aditya… thanx. I own you a lot.." Mendengar Aditya menyusul Ivan ke usa, hati Bram pun menjadi tenang. Dia akhir tidur dengan lelap.