TWINS

TWINS
Part 9



Gadis cantik itu menggulingkan badannya kesana kemari, ia merasa bosan dan dengungan yang ditimbulkan oleh nyamuk bodoh membuatnya kesal bukan main.


Kerasnya kasur yang sekarang ia tiduripun tak kalah menyebalkannya, kasur ini membuat badan rampingnya terasa remuk dan patah-patah. Tidak lupa meja kayu yang sudah keropos sana sini, kursi yang di sambung dengan kayu seadanya supaya tetap berdiri.


Rose menghela nafas panjang, ia sedikit merindukan rumahnya yang nyaman.


Ia mendongak, manik safirnya disuguhi dengan puluhan origami berbagai macam bentuk. Rose tertawa pelan, menurutnya Lilly itu benar-benar kekanakan. Umurnya sudah 16 tahun tapi dia suka sekali membuat origami.


“Ah yang ini berbentuk naga.” Gadis cantik itu tertawa lagi. “Pasti buatan Kevin.” imbuhnya sembari memegang origami berwarna merah yang berbentuk mahluk mitologi itu.


“Oh, itu ku buat saat berumur 5 tahun.”


Suara baritone merdu mengagetkannya, ia menolehkan kepalanya pada jendela yang telah terbuka lebar. Disana, ya disana. Ada Kevin yang tersenyum dengan senyum khasnya.


Semilir angin menerbangkan surai coklat lelaki itu,membuat Rose membeku dengan rona merah menjalari pipi putihnya.


“Tadi kulihat dari seberang kau sedang memandangi origami buatanku, jadi tanpa fikir panjang aku langsung saja melompat kemari.”


***


Detak jantung Lilly berdetak tak terkendali, kini ia dalam posisi yang tidak menguntungkan.


Tanpa pemberitahuan apapun kedua orang tua Rose pulang dari urusan bisnis di Canada.


Lilly nyaris saja berteriak dan mengamuk sebab teringat orang yang telah membawanya kedalam posisi ini ini. Ditambah dia belum memiliki persiapan menghadapi perdana mentri dan CEO perusahaan besar Zapphire.


Jika saja ia tidak mengingat nasib ibunya, mungkin dia akan benar-benar melempar Rose kedalam lautan dan menenggelamkannya.


“Rose, kenapa tidak makan?”


Lilly mendongak, menatap wanita paruh baya diseberang kursinya. Ia melemparkan senyum simpul dan mengambil peralatan makannya sembari ia mengingat-ingat perkataan Rose.


“Nah, wanita ini adalah ibu tiriku. Namanya adalah Dian na Sapphire. Tenang saja, dia tidak seperti ibu tiri jahat dalam sinetron atau novel yang kau baca. Dia sangan baik dan penyayang.”


“Sementara ini adalah ayahku, Shelter de sapphire. Ayahku sangat tajam dan teliti, kuharap kau tidak membuatnya curiga.”


Lilly menelan ludahnya, ia beralih melirik lelaki disampingnya.


“Kalau dia ini kakak ku, Erza de Sapphire! Laki-laki paling menyebalkan sedunia!”


Lilly menghela nafas diam-diam, Erza adalah kakak kelasnya. Ia merupakan salah satu anak brilian yang menempati kelas unggulan peringkat 3. Dan laki-laki ini juga adalah ketua osis SMA SS yang terkenal dengan segudang reputasi baik dan prestasi-prestasinya.


Menurut analisis Lilly, Erza lah yang patut diwaspadai. Karena laki-laki itu memiliki insting yang tajam, ditambah dialah yang mengurus orientasi anak-anak tingkat 1. Jadi secara tidak langsung, dia pasti orang pertama yang mengetahui siswa yang memiliki wajah sama persis dengan adiknya.


Besar kemungkinan dia langsung atau telah mengetahui bahwa yang ada disampingnya ini bukanlah adiknya.


Lilly menghela nafas diam-diam, dia benar-benar khawatir dan jengah dengan situasi ini. Sekarang adalah jam makan malam, namun dari awal hingga sekarang semuanya hanya terdiam dan berkutat dengan makanan masing-masing. Hanya dentingan antara peralatan makan yang terdengar, selebihnya hening.


Suasana pada ruangan ini jauh berbeda dengan suasana dirumahnya. Walau hanya terdiri dari Lilly, Kevin dan ibunya. Jam makan malam selalu menyenangkan, dilengkapi dengan canda tawa dan perdebatan antara dirinya dan Kevin. Ah, tiba-tiba ia merindukan rumah kecilnya.


Sementara itu diwaktu yang sama.


Sepasang remaja mengayunkan kaki jenjangnya, menikmati semilir angin sembari menatap lautan kemerlap lampu-lampu jalan dan perumahan. Didominasi warna putih, merah, biru, orange. Indah sekali.


Hening menguasai keadaan, keduanya enggan membuka pembicaraan sebab terlarut pemandangan indah yang tersuguh didepan mata.


“Jangan bilang pada Lilly kalau aku menunjukan tempat ini padamu, ya.”


Salah satu dari mereka mengalah, memulai pembicaraan dengan senyum lebar yang kemudian dibalas dengan anggukan singkat dari lawan bicara disampingnya.


Menurutnya, Kevin merupakan lelaki paling gila dihidupnya. Lelaki ceria itu nekat lompat dari lantai dua rumahnya usai melihatnya merenung memandangi origami berbentuk naga yang mengantung dilangit-langit kamar Lilly.


Ah, betapa beruntungnya Lilly bertemu dan menjalin persahabatan erat dengan Kevin.