
Gelak tawa terberai, memenuhi ruangan luas yang kini telah menjadi basecamp mereka.
Dulunya ruangan itu merupakan ruang music. Namun saat adanya guru seni baru, ruang music dipindahkan dilantai 3 disamping ruang theater.
Akhirnya ruangan ini kosong selama 2 tahun dan secara tidak sengaja ditemukan oleh Rose 2 hari yang lalu.
“Oh shit!, kau lihat tadi?! Lilly keren sekali bung!” Kevin tergelak, ia heboh membicarakan kejadian epic dikantin barusan, didepannya Rose tak kalah heboh. Ia bahkan terus mengulang-ulang acting Lilly.
“Katakan perasaanmu itu saat kau sudah memiliki martabat yang sepadan denganku. Pfftt bhahaha!”
Keduanya tertawa keras, mengabaikan Lilly raut wajah Lilly yang sudah dongkol setengah mati. Ia menggenggam erat tali tas kuningnya untuk melampiaskan amarah.
Ketiga remaja itu memutuskan untuk pulang sebab jarum jam telah menujukan angka 5 sore. Segera mereka mengemasi peralatan yang telah digunakan untuk mengerjakan tugas praktek dari Bu Friska tadi siang dan berjalan keluar dari sekolah besar tersebut sembari diiringi gelak tawa Kevin dan Rose serta umpatan-umpatan khas seorang Lilly.
Lilly mengerling, ia melotot kala melihat sedan silver telah terparkir cantik didepan gerbang. Segera ia berbalik dan memberikan isyarat pada sahabat kuningnya.
Kevin yang mengerti situasi yang terjadi langsung menarik Rose pergi menjauh. Membawanya ke sudut sempit dan membekap mulut Rose rapat-rapat, menghimpitnya diantara tembok dan badan tegapnya. Takut gadis itu akan berteriak dan memberontak.
Rona merah menjalari pipi putih Rose, kepalanya seperti akan mengepul dan mengeluarkan asap lewat telinga.
“Ssst.”
Rose mendongak, menatap visual luar biasa laki-laki dihadapannya. Aroma cool menyapa indra penciumannya.
Sementara Kevin mengamati Lilly dari jauh, lelaki itu memperhatikan interaksi dari kedua orang yang berjarak 10 meter darinya. Pak tua yang selaku supir sedan silver itu menatap Lilly teduh, beliau menatap Lilly selayaknya anaknya sendiri.
Kevin sedikit heran, dan ia berfikir mungkin Rose dan pak tua itu memiliki hubungan selayaknya ayah dan anak. Sebab menurut pengakuan orang tua Rose selalu sibuk dengan pekerjaanya masing-masing.
Kevin pernah mendengar tentang kakek Han dari Rose. Katanya beliau merupakan kepala pembantu dimension besar Rose dan telah bekerja serta mengabdi penuh kepada keluarga Sapphire selama 12 tahun. Tapi kenapa kakek tua itu justru menjadi supir antar jemput ‘Rose’?
Untung saja ia tanggap akan situasi tadi. kalau tidak, rencana mereka pasti sudah hancur berantakan.
Kevin yang menyadari kebisuan Rose langsung menjauh. Melepaskan bekapan tangannya dan menatap gadis cantik itu lekat.
“Maaf,” ungkapnya sembari merapihkan surai hitam Rose.
Tiba-tiba Kevin tergelak. “Astaga Rose, wajahmu seperti kepiting rebus diwarung seafood kesukaan Lilly.”
Rose menendang kaki Kevin kuat-kuat, kemudian berbalik dan berjalan mendahului lelaki jangkung itu dengan pipi menggembung sebab merasa kesal.
“Hei, hei tunggu aku Rose.” Lelaki jangkung itu segera menyusul dengan kaki jenjangnya.
“Sekarang kau mirip ikan buntal dengan pipimu yang menggembung itu hahaha.” ungkap Kevin dengan gelak tawa.
Sementara itu dari arah yang berlawanan Lilly menatap keduanya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ia meremas tali tasnya, menggigit bibir kemudian memalingkan wajah ayunya.
“Mari nona.”
Ia mengangguk dan memasuki sedan mahal ‘miliknya’. Kemudian mobil itu melaju, membelah jalanan yang padat. Membawanya menjauh dari kehidupannnya yang tentram.
Meninggalkan sementara gubuk reot berisi ribuan harapan dan mimpi, menuju istana megah tiada arti demi satu orang berharga yang ia jaga dengan sepenuh hati.