TWINS

TWINS
Part 17



Lilly mengendap-endap kala melewati kelasnya, kelas unggulan tingkat 1, ia melakukan hal itu bukan tanpa alasan. Saat ini ia tengah diburu oleh predator ganas, kocar-kacir Lilly menghindarinya, membuat dirinya harus mengorbankan tenaga untuk lari, otak untuk memikirkan strategi kabur, dan uang untuk menutup mulut orang-orang sekiranya akan ditanyai oleh si predator perihal keberadannya.


Ah, tak usah khawatir dengan uang yang sedang kuhambur-hamburkan untuk kabur. Aku kan ka—ralat—Rose yang kaya, kemarin saja ayahku—maksudku Om Shelter mengirim uang senilai 500 juta kepada dirinya.


Uang mingguan katanya.


Usai bertukar peran dengan Rose, Lilly merasa hidupnya sangat makmur dan subur. Setiap hari makan enak, dessert yang menggiurkan, dan yang lebih menyenangkan adalah ia tidak perlu kerja part-time untuk membayar uang sewa apartement. Walau ia juga dibebani dengan hal-hal merepotkan seperti; menghadiri suatu pesta/jamuan keluarga, les piano dan biola plus les matematika dan fisika dari sore sampai malam, menolak tawaran untuk menjadi model. Ah, terlalu banyak sampai ia pegal sendiri kala menjelaskannya.


Lilly juga baru mengetahui fakta bahwa Rose juga merupakan seorang penulis dan pelukis, nama pena nya adalah Ms.R, dan dia juga merupakan pemenang lomba menulis nasional, dan setahuku bukunya telah diterbitkan.


Judulnya adalah Defective.


Yang artinya adalah cacat. Sejujurnya Lilly tak faham mengapa Rose membuat cerita yang menurutnya deep. Lilly pernah meminjam buku itu pada temannya dan ia merinding sekaligus heran kala membacanya. Menurutnya sangat aneh saat mengetahui bahwa penulis buku ini merupakan orang yang nyaris sempurna. Wajahnya cantik, ia ramping dan tinggi selayaknya model ditambah statusnya yang merupakan anak bungsu Keluarga Sapphire. Pemilik perusahan Zapphire Corp bidang IT yang telah mendunia. 20% saham diberikan kepada dirinya, namun ia menolak dengan alasan yang cukup konyol.


Ia tidak ingin bekerja seperti ayahnya, duduk berjam-jam didepan layar computer dan lupa pulang. Telihat begitu membosankan dan penuh rutinitas, ia takut akan keriput dan cepat tua jika bekerja disana. Begitu katanya


“Ketemu!”


Lilly tersentak, ia terbatuk-batuk sebab tersedak saliva. Kaget bukan main kala mendapati Rose tengah mencengkram lengan kanannya kuat, ia yakin akan menimbulkan kemerahan nanti. Tak lupa dengan tatapannya yang beringas, selayaknya anjing rabies yang menemukan panggul untuk digigit.


Inilah dia yang Lilly maksud dengan predator.


“Kau kemanakan anting komunkasiku ha?!”


Lilly meringis, gendang telinganya terasa sakit karena mendengar suara yang melebihi kapasitas telinganya. Dengan gerakan cepat gadis manis itu menutup sebelah telinganya dengan tangan kiri. Manik emerald yang ditutupi dengan soflens safir itu mengerling ke samping Rose, disana Kevin tengah menatapnya iba. Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya, mulutnya bergerak tanpa suara. Lilly mendengus kala mengerti kalimat yang ingin diucapkan olehnya.


“Maafkan aku, aku sudah berusaha menenangkan dan membuat ia lupa dengan ambisi untuk mencabik-cabik dirimu. Tapi Rose malah makin gencar mencarimu.”


“Baiklah, aku minta maaf karna telah menghilangkannya. Lagipula kau kan bisa beli lagi atau minta pada papamu. Toh perusahaan keluargamu kan berkerja dibidang IT dan kau kan kaya ra—“


“ANTING KOMUNIKASI ITU SEHARGA 10 JUTA DOLLAR, KAU TAHU?!”


Lilly menganga, ia melotot hingga membuat matanya nyaris keluar. Otaknya bergerak cepat—melebihi kecepatan kalkulator demi menghitung jumlah uang yang telah ia hilangkan.


“10 Juta dollar \= 15,802.00 dikali 10 juta…”


“… 158.020.000.000,00!” pekik Lilly sembari mengkhayal uang dengan nol sebanyak itu, di lain sisi ia tidak percaya telah menghilangkan uang sebanyak itu dalam kurun waktu kurang dari sehari. Lillypun baru sadar bahwa antingnya hilang saat ia telah sampai di blue mansion keluarga Sapphire usai diantar oleh Evan. Lagipula mana tahu kalau ternyata benda putih bulat yang kecil itu memiliki harga fantastis!


“Dasar sinting! Kau membuang uang sebanyak itu demi benda bulat yang besarnya tidak sebanding dengan cupcake hah?!”


Sementara itu Rose hanya mendengus, menatap raut wajah perempuan yang serupa dengannya. Disampingnya Kevin melongo, ia merasa harus mevacum cleaner seluruh ruangan hotel—tempat acara digelar. Usai mevacum cleaner ia akan mengubek-ubek kantungnya dan mencari anting itu, entah itu sudah rusak atau hidup.


“Kurasa kita harus membawa Kevin kerumah sakit jiwa.”


“Kau benar Rose, iris matanya sudah berganti menjadi binar bintang. Sepertinya dia kelainan setelah mendengar uang sebanyak itu.”


“Kau juga memiliki kelainan karena mau besahabat dengan Kevin sedari kecil.” tukas Rose. Membuat panah imajiner terasa menusuk titik lemah kedua sahabat semasa kecil itu.


Kevin mulai berkicau lebay, “kau jahat sekali Rose.” Ujarnya dramatis.


Ketiga remaja itu menoleh dan mendapati lelaki tinggi besar tengah berdiri dibibir pintu, memerintah mereka masuk dengan tatapan tegasnya—Lucky namanya, ketua kelas unggulan tingkat 1. Sosok tegas yang tingkat disiplinnya tidak perlu dipertanyakan. Usut punya usut, dia juga merupakan salah satu anggota DKS.


Ketiganya mengangguk, sesegera mungkin memasuki kelas sebab enggan jika nanti meski berhadapan dengan DKS. Terlalu merepotkan.


Dengan santai Rose memasuki kelas sembari bersidekap, Lilly dan Kevin asyik berbincang dibelakang gadis ramping itu, ketiganya mengabaikan bisikan dan tatapan negative dari mayoritas anak-anak kelas.


“Ah, gadis itu benar-benar menyebalkan. Siapa namanya?Lilly? Nama rendahan.”


Rose mengerling, manik safir jernih yang tertutupi soflens emerald menangkap sesosok gadis pirang dengan make up tebal, nampak asyik membicarakan sosok dibelakangnya sembari menatap dirinya dengan tatapan mencemooh. Rose menghela nafas kasar, ia mempercepat langkah sembari berusaha mengendalikan dirinya agar tidak menjambak rambut pirang gadis itu.


“Ck, bahkan dia berani berjalan didepan Rose. Apa dia tidak tahu statusnya saat ini?Ku dengar juga ia adalah anak yang masuk kesini lewat jalur beasiswa. Omong kosong! Pasti dia menjual dirinya kepada salah satu guru demi bisa masuk kesini.”


“Namanya pun serendah harga dirinya?Memangnya masih jaman ya memakai nama yang diambil dari nama bunga?”


“Brak!”


“Katakan sekali lagi ucapanmu 1 detik yang lalu, kuda pirang!”


Perempatan imajiner terpampang manis dipelipis Rose, gadis cantik itu menatap tajam lawan bicara yang tengah tertawa sinis bersama kawanannya.


“Kau ingin mendengar yang mana Lilly? Tentang namamu yang begitu murahan sebab memakai nama bunga atau—kau yang menjual badanmu untuk masuk ke sekolah ini, heh?”


Mendengar ucapan kurang ajar si kuda pirang membuat Rose naik pitam, apa si bodoh itu tidak tahu bahwa nama ‘Rose’ juga diambil dari nama bunga? Sadarkah bahwa secara tidak langsung kuda pirang itu juga menghina anak bungsu keluarga Zapphire ini hah?! Rasanya ia ingin menjambak habis rambut pirangnya dan menjeburkan badan ratanya kedalam kolam ikan ditaman belakang Blue Mansion. Dibelakangnya Lilly berusaha menengahi. Namun usahanya sia-sia sebab gadis cantik itu sudah tidak lagi mendengar perkataannya.


“Heh kuda pirang! Asal kau tau ya aku ini—hmph!”


Belum usai Rose menamatkan dialog, tangan besar sudah membekap mulutnya dan menariknya mundur dari ‘medan pertempuran’. Bau cool familiar menyapa indera penciumannya, Rose menoleh dan tatapannya terpusat pada gerakan bibir tipis Kevin.


“Jangan membongkar identitasmu sekarang.”