TWINS

TWINS
Part 16



BMW putih itu melaju mulus dijalanan yang kian legang, itu wajar. Sekarang waktunya makan malam. Siapapun pasti lebih memilih berdiam diri dirumah, menikmati makan malam bersama keluarga dengan penuh canda tawa.


“Rose apa kau la—“


“Tidak.”


Belum sempat Evan menyelesaikan perkataanya, tanpa pamit Rose menyerobot jatah dialognya. Manik hazelnya bergulir kesamping, menangkap gadis cantik yang tengah sibuk menatap gedung-gedung tinggi di luar jendela.


 


Ah, apakah pemandangan diluar sana lebih menarik dibandingkan lelaki super tampan disampingnya?


Evan mengulas senyum lembut, ia sedikit tidak nyaman dengan keheningan yang melanda sedan putihnya ini. Padahal ia merupakan tipe lelaki yang menyukai sepi, tetapi bersama Rose membuatnya ingin mendengar dan menanti celotehan dari gadis disampingnya ini.


Setelah memikirkan beberapa pertimbangan, akhirnya ia memutuskan untuk memutar musik dan memilih lagu seadanya, keadaanya yang sedang menyetir membuatnya tidak bisa memeriksa dan memilih ribuan lagu yang ada. Evan hanya berharap Rose menikmati lagunya, dam juga err… mengurangi keheningan yang ada.


Rose hanya terdiam, menikmati setiap lirik dan bait nada yang masuk ketelingannya.


**Don’t think I fit in at this party


Everyone’s got so much to say


I always feel like I’m nobody, mmm


Cause I don’t care, when I’m with my baby, yeah*.


 


All the bad things disappear*.


“And you’re making me feel like maybe I am somebody. I can deal with the bad nights when with my baby yeah.” Tanpa sadar Lilly ikut menyanyikan lagu, membuat lelaki disampingnya tersenyum kecil.


 


“*We at the party we don’t wanna be at. Tryna talk, but cant hear ourselves…”


Gadis manis itu tersentak dan refleks memalingkan wajahnya. Menatap lelaki disampingnya yang ikut menyanyikan lagu Ed sheeran ft Justin bieber itu. Evan yang merasa ditatap intes langsung mengalihkan pandangannya dari jalanan. Balik menatap manik safir yang berkilau itu.


**I’m crippled with axienty


But I’m told its where we’re s’posed to be


You know what? It’s kinda crazy cause I really don’t mind


And you make it better like that


Lirik terus berjalan, menjadi latar belakang sepasang remaja yang saling menatap satu sama lain, mendalami isi hati melalui manik unik masing masing.


‘**cause I don’t care as long as you just hold me near


You can take me anywhere


And you’re making me feel like I’m loved by somebody


I can deal with the bad night


When with my baby, yeah*.


“I don’t like nobody, but it’s like you’re the only one here. I don’t like nobody but you, baby. I don’t care*….”


 


“…ternyata suaramu bagus ya, kapan-kapan kita duet ya.”


Rose merasa pipinya memanas, padahal ia berusaha sebisa mungkin ikut bernyanyi dengan suara yang sangat lirih. Tapi sepertinya itu percuma, Evan memiliki pendengaran yang tajam. Lagipula apa-apaan dengan lelaki disampingnya ini?sebelum memuji, dia melanjutkan nyanyiannya sembari menatap mataku, bikin malu saja! Ujar Lilly dalam hati.


Sementara itu Evan kembali memandang lurus ke jalanan, tertawa kecil kala mengingat pipi putih Rose merona. Ah, benar-benar manis dan menggemaskan.


Hm, dengan begini sudah cukup kan? Fikirnya sembari mengulas senyum tipis.