
“Harusnya kau tidak seperti itu Lilly!” hardik Rose dengan wajah masam.
Sementara itu Lilly selaku alasan utama anak bungsu perdana mentri itu marah sedang asyik menyeruput es jeruk digelasnya. Disampingnya ada Kevin yang juga disibukkan dengan bakso sapi jumbo favoritenya. Mengabaikan Rose yang sedang mencak-mencak sendiri diseberang kursi.
Saat ini adalah jam makan siang, waktu yang sangat pas untuk menikmati semangkuk bakso sapi dengan kuah yang mengepul, didampingi es jeruk segar untuk menghilangkan dahaga. Sangat cocok untuk para pelajar yang tengah merefreshingkan diri usai dijejali banyak materi dalam satu hari.
“Dan juga apa-apaan kalian makan ditempat kum—hmph!”
Bola bakso memasuki mulut Rose, membuat empunya terpaksa mengunyah makanan kantin itu. Merelakan mulut higenisnya terkena makanan kumuh yang ternyata…
Enak.
“Berhentilah mengomel dan mengatakan tempat ini kumuh Rose. Makanan disini jauh lebih enak dibandingkan dengan makanan west yang super mahal dengan porsinya tidak lebih baik dari porsi makanan si putih, kucing kesayangan Kevin.”
Rose memalingkan muka, ia mendengus sebab tidak bisa melawan perkataan gadis didepannya. Ditambah ia gengsi untuk menyetujui ucapan Lilly bahwa makanan disini lebih enak dibandingkan cafeteria.
“Tapi Lilly, menurutku apa yang dikatakan Rose benar.” Kevin angkat bicara, mulutnya dipenuhi dengan bakso. “Kau kurang mendalami peran Rose,” ucapan lelaki jangkung itu mendapat anggukan antusias dari Rose.
Lilly terdiam, ia menyangga dagunya. Pose khas Lilly kala sedang berfikit keras. Hingga selang beberapa menit gadis manis itu mengangguk, yang kemudian ditanggapi dengan anggukan antusias dari Rose.
“Kalau begitu besok akan kudatangkan guru acting dari Russia dan juga guru tata karma dari German. Kau harus belajar acting dan memperdalam etika keluargaku untuk menghadapi acara besar-besaran keluargaku,” ucap Rose sambil menyuapkan sesendok bakso ke mulutnya, menyeruput es jeruk milik Kevin dengan santai.Ia mengabaikan Lilly yang pucat pasi dan Kevin yang menganga dengan wajah konyol.
***
“Bukan seperti itu Lilly! Berjalanlah dengan anggun!” Suara Rose menggelegar hingga kepenjuru rumah kecil itu. “Acara itu akan berlangsung satu bulan lagi. Jadi kau harus bisa menguasainya dengan baik,” ujar Rose sembari memainka batang sapu lidi ditangannya.
Sementara itu Lilly hanya mendengus, merasa jengah dengan pelajaran tata karma dan etika yang diajarkan oleh ketiga orang menyebalkan itu. Antara lain guru etika dari Jerman, sebut saja Sam. Katanya guru mudah itu merupakan sahabat baik Erza. Katanya dia 4 tahun lebih muda dari kedua gadis kembar itu.
Pada awalnya Lillly merasa ragu akan lelaki blonde itu, namun melihat penjelasan dan bukti-bukti kesetiaan berupa tidak akan membocorkan kesepakatan mereka membuat Lilly mau tidak mau menyetujui pernyataan bahwa lelaki itu akan menjadi guru tata kramanya.
Sejujurnya Lilly sudah sangat lelah, kakinya sudah sangat pegal dan kesemutan. Ia berkali-kali nyaris jatuh. Namun untungnya lengan kekar Kevin selalu berhasil menangkapnya sebelum wajahnya mencium tanah.
Gadis manis itu mengalah, ia berbalik lagi ke pintu dan kemudian melegang masuk dengan ekspresi datar dan dagu terangkat angkuh.
Lilly mendengus sebal, ia menjitak dahi Rose yang sedang tertawa terbahak-bahak. Gadis cantik itu mengabaikan ajarannya sendiri yang berbunyi; “seorang konglomerat harus serba anggun dan berwibawa.”
Lihatlah, Rose terlihat seperti anak tukang sirkus dibandingkan anak perdana mentri. Tidak ada anggunnya sama sekali.
“Baiklah lady, pelajaran etikanya akan dilanjut besok… yang tentunya akan diajarkan oleh saya. Bukan oleh anda Lady Rose.”
Rose hanya tertawa kikuk, dengan perlahan ia menaruh batang sapu lidi ditangannya dan pergi keluar dengan alasan membeli minuman, tapi nyatanya ia sedang menutupi rasa malunya terhadap Sam dan tentunya Kevin.
Usai gadis cantik itu pergi, tawa membaha keluar dari mulut Kevin dan Rose. Mengundang senyum kecil guru tata karma itu.
Hari kian berlalu, tak terasa sekarang sudah memasuki Bulan Maret. Yang artinya tersisa 1 bulan lagi persiapan agar terlihat semirip mungkin dengan Rose. Bukan Rose yang petakilan dan semena-mena, tetapi Rose yang berwibawa serta angkuh.
Sejujurnya Lilly benar-benar gugup membayangkan ia berdiri di red carpet, diguyuri kilatan kamera dan sambutan-sambutan dari para penggemar Rose. Belum lagi wajahnya akan bertebaran di televisi, Koran, majalah.
“Lady?anda mendengar perkataan saya?”
Lilly tersentak, ia segera memfokuskan pandangannya pada lelaki blue itu. “Ah iya sir, saya mendengarnya.” Jawaban Lilly mengundang senyum tipis lelaki itu.
“Hal pertama yang harus diperhatikan adalah ekspresi anda, lady.”
“ekspresi?”
“Benar, mengingat status orang tua Lady Rose, acara itu dihadiri banyak penjabat dan orang berpengaruh dipemerintahan. Anda akan dituntut untuk mampu mengontrol ekspresi serta gesture tubuh anda. Disana setiap perlakuan anda akan dinilai dan menjadi bahan perbincangan.”
Lilly mengangguk, ia berusaha memahami setiap perkataan dari guru aktingnya. Smith Robertson.
“Sebaiknya jangan menunjukan ekspresi gelisah apalagi ketakutan. Disana anda adalah ‘pemilik panggung’, berusahalah sebaik mungkin memerankan peran Lady Rose. Anda tahu bukan Lady Rose terkenal angkuh, elegan dan tatapan tajamnya?”
Diam-diam Lilly memikirkan Rose yang setiap hari selalu berada disampingnya, gadis cantik yang begitu ramping. Sangat ceria dan menyebalkan, hobi mengoceh dan ceroboh. Ia sedikit keberatan memerankan Rose yang jauh dari kesehariannya.
“Saya tahu anda pasti merasa aneh memerankan Lady Rose. Melihat sifat aslinya anda pasti sangat kaget bukan?yah saat pertama kali melihatnyapun saya heran. Sebab lady sangat berbeda dengan apa yang saya lihat di televisi maupun acara besar lainnya.”
“Ah sudahlah sir, jangan membicarakan anak itu lagi. Sebaiknya melanjutkan pelajaran kita, hari sudah mulai petang.”