TWINS

TWINS
Part 6



Lilly mengerjapkan mata cantiknya, emerald jernihnya sedikit demi sedikit mulai nampak.


Ia melengguh dan bangkit dari tidurnya. Sedikit kaget mengapa kasurnya begitu empuk dan hangat.


“Ah aku baru ingat bahwa mulai hari ini kami bertukar peran.”


Lilly beranjak dari kasur, berjalan pelan menuju jendela besar dan membuka tirainya lebar-lebar. ia menghirup udara pagi yang begitu disukainya. Begitu menyegarkan.


Merasa telah cukup, Lilly kembali duduk dikasurnya dan menatap sekitar. Kamar ini begitu luas, didominasi dengan warna kuning cerah yang menurut Lilly sangat menusuk mata.


“Kamar ini bahkan punya kamar mandi tersendiri, keren …,” gumamnya pelan


Hingga manik emeraldnya jatuh pada figura dimeja samping kasurnya. Dalam figura itu berisi foto Rose kecil menggunakan pakaian renang. Di belakangnya ada sesosok pria yang sibuk dengan laptopnya. Kemudian dibawahnya terdapat tulisan latin; Jeju Korea selatan,holiday with papa!


Tiba-tiba Lilly dikagetkan oleh ketukan pintu, segera ia meletakan kembali figura itu di tempat asalnya. Kemudian dia berjalan untuk membuka pintu.


“Ahh nona sudah bangun?”


Lilly menaikan alisnya, kebingunan nampak terlihat jelas diraut wajahnya. Sementara itu otaknya sedang sibuk mengingat ucapan Rose kemarin malam.


“Jangan lupakan tentang Anna, dia adalah pelayan pribadiku. Dia sudah 7 tahun menjadi pelayan pribadiku. JADI DIA PASTI AKAN TAU GERAK-GERIKMU YANG MENCURIGAKAN!”


Lilly mengangguk dan kembali memasuki kamar, dibelakangnya Anna mengikuti. Ia tidak terlalu takut menghadapinya, karna tanpa ada yang tahu(kecuali Kevin) bahwa Lilly ini sangat jago acting.


Bahkan saking jagonya ia membuat Kevin menangis dan meraung sebab mengira Lilly meninggal karena panic attack. Padahal itu akal-akalan Lilly supaya ia bisa segera masuk kedalam kamar mandi yang sedang digunakan Kevin untuk menunaikan panggilan alam yang mendesaknya. Ah, lagipula itu salah Kevin yang terlalu lama menggunakan kamar mandi.


“Nona tumben sekali sudah bangun.” Anna tersenyum hangat, ditangannya terdapat handuk dan wewangian.


Lilly tersenyum tipis. “Aku bermimpi buruk,” ujarnya dramatis, mencoba membuat Anna merasa prihatin.


“Astaga, mimpi seperti apa nona?”


“Aku bermimpi bertukar peran dengan seseorang.”


Gadis manis itu nampak bersemangat, ia membuka kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk ‘nona’ nya mandi sementara itu Lilly menelan ludahnya dengan susah payah.


“Berani sekali dia menyamar menjadi nona muda saya!” imbuhnya tanpa melihat wajah Lilly yang pucat pasi.


Aku benar-benar harus hati-hati dengan Anna, ujar Lilly dalam hati.


Pagi itu jarum jam menunjukan angka 07.35.  Banyak siswa-siswi hilir mudik mengurusi kegiatannya masing-masing. Ada yang tengah berjalan tergesa-gesa memasuki kantin untuk sarapan, ada yang membaca buku dengan hikmad disudut perpustakan, ada yang tengah dilanda mabuk asmara. Dan lain-lain.


Namun fokus kita kali ini adalah pada kelas unggulan tingkat 1. Yang berisikan segudang anak\-anak brilian yang cenderung lebih individualis. Mementingkan nilai raport dan berusaha menyabet peringkat pertama tingkat sekolah.


Dimana gelar itu telah diemban selama 3 tahun oleh ketua osis tampan yang terkenal dengan segudang prestasinya. Walaupun sikapnya dingin minta ampun, tetap banyak sekali gadis yang tergila-gila padanya. Saking hebat lelaki itu, sekolah ini sampai memberikan izin pada murid perempuan untuk membuat fans-club. Yang kemudian diberi nama ZaPhireLovers.


Lilly dan Kevin tertawa terbahak-bahak usai mendengar penjelasan itu dari salah satu teman akrab mereka, Vina. Yang mengaku telah mengikuti club tersebut 2 bulan lalu.


Lilly dan Kevin masih saja terbahak ketika mengingat perkataan Vina, menurut mereka club itu benar-benar konyol. Ditemani sekotak susu vanilla dan biskuit cokelat mereka berdua asyik membicarakan banyak hal. Termasuk tentang betapa anehnya Rose berangkat sekolah dengan masker yang tidak pernah ia lepas sebelum memasuki kelas.


Sementara itu Rose yang mendengar namanya disebut-sebut dalam pembicaraan kedua mahluk hitam dan kuning didepannya hanya melengos dan mendengus,


“Lilly, tempat tidurmu benar-benar buruk.” Gadis manis itu menempelkan keningnya pada meja, menyembunyikan wajah ayunya yang kini penuh dengan merah-merah sebab ulah nyamuk sialan entah darimana asalnya. Dimatanya pun terdapat kantung mata tebal, pertanda ia tidak tidur semalaman.


Itulah alasan ia memakai masker hingga kesekolah dan diejek sepanjang jalan oleh Kevin saat berangkat bersama dengan motor CBRnya.


“Jangan salahkan aku Rose, kau yang meminta untuk bertukar peran.”


Tepukan hangat mendarat pada surai hitam Rose, “Jangan lesu begitu, Lilly tidak akan seperti ini.”


Pipi putih Rose merona, ia segera menegakan badan dan tersenyum simpul “Makasih Kevin, energiku terisi berkatmu.” ujarnya sembari bergelayut pada lengan kekar Kevin, kemudian dibalas dengan gelak tawa dan tepukan lembut oleh lelaki jangkung itu.


Bel pertanda masuk sekolah berteriak nyaring, membuat ketiga orang itu segera bangkit dan duduk dikursinya masing-masing. Bersiap menerima pelajaran pertama hari ini. 


Matematika.