TWINS

TWINS
Part 3



Semilir angin sore menerbangkan helaian rambut indah dengan warna senada. Berhembus dengan santai, tak peduli akan kecanggung yang meliputi kedua insan yang terlarut pada pemikiran masing masing.


“Hei… aku pernah dengar bahwa manusia punya kembarannya loh.”


Salah satu diantara mereka membuka pembicaraan, bermaksud menghilangkan keheningan yang menyelimuti mereka beberapa menit yang lalu.


“Benarkah?”


“Iya kata ayahku, manusia mempunyai kembaran yang berada dibelahan bumi lain.”


“Lalu, kau mempercayai itu?”


“Tentu saja! “ jawabnya dengan semangat berapi-api


“Berarti kau bodoh.”


“Heiiiii!”


Tawa lembut meluncur dari bibir tipis gadis yang sedari tadi hanya terdiam. Entah karena itu wataknya atau ia merasa malu untuk memulai percakapan.


“Aku tidak bodoh tahu dan ungkapan itu benar!” Wajahnya nampak memerah, ia bersunggut-sunggut kesal. “Buktinya wajah kita serupa, kita kembar!”


“…..”


Kecanggungan kembali melingkupi gadis yang kini menatap majah satu sama lainnya dengan intens.


Rasanya aneh melihat wajah sendiri seperti ini, ujar keduanya dalam hati.


“Oh ngomong-ngomong kita belum berkenalan.” senyum lebar menghiasi pipi gadis yang sedari tadi nampak begitu bersemangat, sangat kontras dengan gadis yang satunya.


Kemudian ia mengulurkan tangan, bermaksud mengajak gadis didepannnya untuk bersalaman.


“Namaku Rose, namamu siapa?”


Dengan intens gadis itu menatap wajah Rose yang serupa dengannya, senyum lebar terpampang diwajah putih Rose, mengundang senyum tipis pada gadis itu tanpa ia disadari.


Kemudian tanpa ragu gadis itu menjabat tangan yang terulur dihadapannya, membuat hatinya seperti tersengat oleh aliran listrik yang begitu dasyat, membuatnya merasakan kelengkapan yang telah lama sirna.


“Aku Lilly.”


***


Jarum jam menunjukan pukul 03.00. Waktu dimana orang orang terlelap, terbuai sebab bertemu dengan dewa mimpi. menuai mimpi indah yang bersemi, merintih kala mimpi buruk yang mendatangi.


Namun itu tidak berlaku bagi Lilly.


Gadis manis itu masih terjaga dari tidurnya, manik emeraldnya menatap kosong atap putih. Dalam kepala cantiknya berkecamuk ribuan pertanyaan yang menuntut pertanggung jawaban.


Ia menghela nafas, merasa lelah kala mendapati ia tidak mampu menjawabnya.


“Tik … tok… tik … tok.”


Suara jarum jam terdegar begitu nyaring, semilir angin masuk dengan bebas melalui jendela kaca yang terbuka lebar. Menerbangkan sehelai lambut hitam terawat milik gadis cantik jelita.


“Aku tidak bisa hidup seperti ini selamanya.”  ia mengertakan bibir, tangannya menggengam kuat gelas kaca dengan cairan bening didalamnya.


“Prangg!”


Tetes demi tetes liquid merah kental terjatuh kemudian terserap pada karpet hitam yang nampak mahal, tak peduli berapa banyak cairan yang akan keluar gadis itu terus menggenggam gelas yang telah ia pecahkan hingga menyisakan kaca tajam penyebeb darah merahnya keluar.


“Aku harus membuat rencana.”


***


“Selamat pagi nona.”


Sesosok gadis nampak sedang memakai seragam sekolah dengan dibantu oleh para pelayan disisi kanan dan kiri badan rampingnya


“Mama dimana?” tanya nya sembari berjalan keluar kamar.


“Tuan dan nyonya sedang berada di Canada.”


Manik safirnya mengerling, ia mendengus dan langsung melewati meja makan yang telah terhidang menu sarapan favoritnya.


“Tidak jadi sarapan bersama lagi deh.”


Derap langkah kaki bersahut-sahutan memenuhi koridor panjang penuh estetika milik sekolah kebanggaan negri. Banyak sekali peringatan yang menempel cantik pada dinding yang berisikan tentang larangan berlari dikoridor, namun hal itu tidak diidahkan oleh kedua remaja itu. Seorang gadis cantik memimpin didepan, ia berjalan sangat cepat sembari sesekali berlari-lari. Dibelakangnya sesosok lelaki jangkung degan tinggi kisaran 179 itu mengikuti sang gadis sambil berceloteh riang.


“Lilly kau tak apa?”


“Diamlah Kevin, kau membuat kita jadi pusat perhatian.” Gadis imut itu menyikut pingang Kevin, membuatnya mengaduh dan tertawa keras.


Kevin menyadari bahwa Lilly terlihat lelah pagi ini, ditambah dengan adanya kantung mata hitam membuat kevin yakin bahwa semalam gadis tidur larut malam.


“Kau kan cantik, tanpa aku berteriakpun kau sudah jadi pusat perhatian” Ia mengacak surai hitam Lilly gemas “Meskipun kau tidak menyadarinya sama sekali,” imbuhnya dengan senyum simpul.


Lilly memang gadis yang tidak suka menjadi pusat perhatian, ia ingin menjalani kehidupan SMAnya dengan tenang dan damai. Kemudian ia akan mengambil studi bidang kedokteran, bertemu lelaki tampan dan menikah, melihat buah hati tumbuh dan menikmati hari tua bersama pasangan.


Ah, sungguh indahnya berimajinasi.


“Kring!!!” Lilly meruntuki suara bel yang membuyarkan lamunan indahnya, dengan malas ia berjalan ke mejanya.


“Semangat ya belajarnya hehe.”


Lily mengumpat, ia melupakan fakta bahwa mejanya tepat disamping gadis kaya raya dengan rupa 99% mirip seperti dirinya, Rose.