TWINS

TWINS
Part 10



Kicauan burung mengalun indah, sinar mentari menyelusup dalam sela-sela tirai mahal berwarna emas.


Membangunkan sesosok gadis manis yang sebelumnya tengah berkelung dengan selimut tebal. Ia menguap sembari meregangkan badan mungilnya.


15 menit berlalu, namun ia masih bertahan dengan posisinya. Duduk sembari memperhatikan sinar mentari yang kian terang, menandakan hari mulai siang.


Hingga akhirnya ia dikagetkan oleh suara ketukan pintu, dengan malas ia beranjak dan memulai hari dengan identitas orang lain.


Lilly, gadis berumur 16 tahun itu mengumpat dalam hati.


Kali ini Lilly tidak berangkat sekolah menggunakan sedan silver seperti biasanya melainkan dengan limousin mahal milik Erza. Saudara laki-laki Rose yang terkenal dengan visualnya yang luar biasa mempesona. Alih-alih merasa senang, Lilly justru merasa gugup bukan main.


Namun ia berusaha sebisa mungkin mempertahankan sikapnya. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dan hipotesa-hipotesa tentang mengapa Erza mengajak dirinya untuk berangkat bersama. Bahkan Lilly sudah menyiapkan banyak alasan jikalau ternyata Erza memang mengetahui identitasnya yang sebenarnya.


Perjalanan menuju sekolah begitu tenang dan damai. Berbeda jauh dengan apa yang ada dikepalanya sepanjang perjalanan. Lelaki dingin itupun tidak mengajaknya untuk berbincang dan itu mengundang helaan nafas dihidung mungilnya.


Namun, Lilly tidak menyadari. Bahwa manik biru itu terus mengawasinya.


***


Lilly memasuki kelas dengan terseok-seok, ketegangan didalam mobil masih terpatri jelas dimemori otaknya.


Padahal seharusnya ia periang dan banyak bicara jika didepan Erza, menyesuaikan sikap Rose pada kakak lelakinya. Namun jangankan untuk bersikap kurang ajar layaknya gadis petakilan, melihat netra safirnya saja Lilly sudah ciut. Memilih untuk diam dan membiarkan keheningan penuh ketegangan menyelimuti mobil mewah itu.


 


Wajah Lilly langsung merah padam melihat sahabat kuningnya dan Rose sedang bercanda ria, tertawa sana-sini, sementara ia harus melewati hal sulit sendirian. Gadis mungil itu melangkahkan kakinya, menggebrak meja kedua insan maha menyebalkan. Membuat keduanya tersentak dan menumpahkan susu kotak cokelat dibaju favorite Rose.


Rose beranjak dari kursinya, melotot kala melihat noda cokelat dibajunya. Gadis manis itu beralih menatap Lilly. Sementara itu Kevin hanya meringis dari tempat duduknya, menebak bahwa selanjutnya akan terjadi perang besar antara dua gadis cantik itu.


Tiba-tiba Lilly menduduki kursinya, menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan diatas meja. Mengabaikan Kevin yang super khawatir dan Rose yang berusaha menghiburnya.


“Agh sial! Bagaimana jika nanti ketua osis itu tahu!” pekik Lilly tiba-tiba, membuat Rose dan Kevin nyaris terjungkal dari kursinya.


Rose terdiam, ia menepuk pundak Lilly pelan. Ia mengerti mengapa Lilly uring-uringan pagi ini. Rupanya ia tidak mampu menyesuaikan sifatnya dihadapan Erza.


 


Apa-apaan si sialan itu, kenapa dia mengajak Lilly berangkat bersama. Padahal selama ini dia selalu menendangku ke mobil sebelah jika menaiki mobilnya, ujar Rose dalam fikirannya. Kini wajahnya semerah wajah Lilly. Membuat keduanya serupa tomat matang milik pak kebun kota.


 


“Kringg!” suara bel panjang melolong ke penjuru sekolah. Mengisyaratkan jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Banyak siswa yang tergesa-gesa memasuki kelas, ada pula yang tengah berdiri didepan gerbang karena terlambat. Diberi poin kedispinan oleh DKS (Dewan kedisiplinan Sekolah).


DKS merupakan organisasi yang bernaung dibawah osis. Dibuat langsung oleh ketua osis; Erza de sapphire, 1 tahun yang lalu. Banyak yang bilang bahwa organisasi ini merupakan cabang dari Osis. Namun mau cabang atau tidak, DKS tetap saja menjadi salah satu organisasi yang cukup disegani setelah Osis.


Bukan DO member EXO ya.


Dan DKS juga memiliki hak untuk memberikan nilai kedisiplinan pada raport siswa.  Dimana nilai kedisiplinan merupakan salah satu faktor penting untuk bisa naik kelas.


Coba bayangkan, seandainya kamu memiliki masalah dengan anggota DKS. Hal pertama yang akan terjadi adalah hancurnya nilai kedisplinan yang kemudian diikuti dengan anjlognya nilai-nilai ujian yang lain. Saat itu terjadi,


Tamatlah riwayatmu bung.


Ah sudahlah, jangan lagi membicarakan DKS. Hal itu membuat Lilly bergidik ngeri kala membayangkan apa yang akan terjadi jika Erza tau bahwa ia bertukar peran dengan adik barbarnya itu. Sudah pasti ia akan menjadi incaran DKS dan Osis. Menjadi bulan-bulanan selama tiga tahun karena menipu ketua osis mereka yang maha agung.


Lilly menghela nafas, ia menatap keluar jendela. Lebih tepatnya lapangan bawah yang diisi oleh kakak kelas 3. Setahu dia hari selasa ini merupakan jam olahraga untuk kelas unggulan tingkat 3, kelas 3A, kelas 3B dan kelas 3C. Netra hijaunya mengerling, menatap sosok jangkung dengan bola basket ditangannya. Nampak sibuk mendrible bola sembari mencari celah untuk memasukan bola kedalam ring.


Keringat menelusuri pipi putihnya, bajunya dan rambutnya basah. Namun Erza tak peduli dengan hal itu, dia memusatkan pandangannya pada ring yang dijaga ketat oleh tim lawan. Sejenak melirikan maniknya, teman-temannyapun sedang dihadang. Terutama Ronald, lelaki bongsor itu dijaga sana-sini.


Erza menghela nafas, dengan secepat kilat ia melewati tim lawan yang berusaha menghadangnya. Menjaga ketat bola ditangannya agar tidak jatuh ditangan lawan. Jarak dirinya sudah terpaut 5 meter, segera ia melompat. Menjulurkan tangan kekarnya sembari mendorong bola orange itu masuk.


Bersamaan dengan itu waktu pertandingan habis, latihan antar kelas kali ini lagi lagi dimenangkan oleh kelas unggulan tingkat 3. Sorak sorai memenuhi lapangan. Sementara itu Erza hanya menghela nafas panjang, ia jengah dengan para siswi yang membolos kelas demi melihat pertandingan ini. Ia segera berjalan kepinggir lapangan, nafasnya tak beraturan. Ia merasa panas bukan main hingga akhirnya memutuskan untuk menaikan baju demi mengelap keringat dipelipisnya. Membuat six pack berkat olahraga rutin itu terlihat jelas.


 


Melihat pemandangan indah itu, para siswi kalap. Mereka berbondong-bondong mendekati Erza, memberikan minuman serta handuk kecil. Beberapa diantaranya berjingkrak senang kala terciprat keringat lelaki tampan itu. Ada juga yang menawarkan dirinya untuk mengelap keringat Erza. Yang tentunya ditolak mentah-mentah oleh lelaki jangkung itu.


 


Erza menghela nafas kasar, ia berjalan menjauhi para siswi yang baginya tak lebih dari kerumunan serangga penganggu. Sementara itu di lantai 3, dimana kelas unggulan tingkat 1 berada. Ada Lilly yang sedang menatap Erza dalam-dalam. Netra hijaunya mengikuti langkah kaki lelaki jangkung itu hingga akhirnya ia menghilang tertutupi oleh gedung besar.


Gadis manis itu menghela nafas panjang, membatin tentang betapa dinginnya ketua osis itu.


“Rose!”


Lilly nyaris terjungkal dari duduknya kala mendapati bentakan dari Bu Friska. Guru matematika yang terkenal killer. Ia menoleh ke kanan-kiri, kemudian menatap guru cantik itu dengan raut bingung.


 


“Y—ya bu?”


 


“Sekali lagi ibu melihat kamu melamun, tidak usah masuk ke mata pelajaran saya lagi besok!”


Lilly mengangguk khidmat, sementara itu dibelakangnya Rose menghela nafas panjang, ia uring-uringan menghadapi sifat alami Lilly yang membuat gadis mungil itu sulit menirukan sifatnya. Ia sedikit menyesal bertukar peran dengan gadis polos ini.