TWINS

TWINS
Part 15



Sementara itu diwaktu yang terdapat Rose asli yang tengah mencak-mencak kala mendapati anting komunikasi yang ada ditelinganya menyuarakan suara gemerisik dan obrolan orang-orang. Selang beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki bedebum yang menggetarkan jantung gadis cantik itu


 


Kemudian ia memekik keras, “Tidak, tidak, TIDAK! HENTIKAN LANGKAH KAKI MENJIJIKANMU BASTA\*D!” Gadis cantik itu panik sembari menggoyangkan laptop yang menampilkan pemandangan taman dengan berbagai bunga mawar merah dan bunga lilly.


“Tap, krek!”


Suara benda patah dan hancur membuat jantung Rose serasa meloncat dari tempatnya, ia berusaha berfikir positif tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan barang berharganya itu. Salah satu dari pemikiran positifnya adalah kaki yang akan menginjak antingnya itu telah patah karena tendangan over power dari pacarnya yang memergoki dia selingkung dengan janda cantik sebelah rumah.


“uwwbzztt bzztt tik bzzttt ctik.”


 


Selang beberapa menit suara patahan itu berhenti, disusul dengan suara gemrisik aneh memekakan telinga. Nada aneh diakhir suara membuat jantung Rose resmi keluar dari tempatnya, hatinya ikut terbelah dan dompet kuningnya pun melolong kehausan. Tak hanya itu, rambut halus Kevinpun menjadi korban pelampiasan gadis cantik itu.


 


“BAST*RD! GADIS ITU MENGHILANGKAN ANTING KOMUNIKASI SENILAI 10 JUTA DOLAR!”


 


Kevin meringis, ia pasrah menghadapi jambakan super ganas dari anak bungsu keluarga Sapphire. Walau sejujurnya kulit kepalanya perih bukan main, ia harus menahannya atau nanti Rose akan melakukan hal yang lebih parah kepada rambutnya.


 


Dikepang 10 seperti masa orientasi sekolah menengah misal.


“PADAHAL AKU MEMBELINYA SETELAH MENGORBANKAN UANG BULANANKU!!!”


 


***


 


Semilir angin malam begitu menggoda, dengan nakal ia menerbangkan helaian rambut seorang gadis manis hingga membuatnya berantakan. Rembulanpun tak mau kalah, ia menyinari lelaki yang tenggelam dalam pemikiran dan indahnya suara alam. Bunga-bunga seakan ikut menyapa kala tangan lembut mengelus mahkota kebanggaan, memetiknya dan mencari aroma dari sang mawar.


Sang gadis melupakan fakta tentang duri tajam yang tersembunyi dibalik kelopak merah indah itu, lebih tepatnya dibatang bunganya. Darah merembes keluar dari jari lentiknya. Ah, rupanya sang mawar berhasil melukai jari telunjuknya.


“Ap—“


Ucapannya tertelan kembali ke dalam kerongkongan kala merasakan benda kenyal, lembut, dan sedikit basah itu menyentuh jari telunjuknya, menyedot darahnya pelan. Otaknya masih mencoba memahami situsi yang ada.


“Huft, untung aku bawa handsaplast.”


Atensinya berpindah pada handsaplast bermotif hati yang membungkus luka dijari telunjuknya, selang beberapa menit wajahnya berubah merah, nyaris menyamai darah yang sempat jatuh tadi. Akhirnya otaknya mampu memahami situasi beberapa detik yang lalu.


“Rose.”


Gadis manis itu menoleh, tersentak kala mendapati wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari sang lelaki. Refleks ia mundur, mengambil jarak demi menormalkan deguban jantungnya yang sedang menggelora.


“Lain kali jangan memetik bunga mawar sembarangan begitu, ku akui mahkotanya indah tapi durinya tidak”


Gadis yang dipanggil Rose itu mengangguk, walaupun sedari tadi ia ingin berteriak dan mengatakan bahwa nama aslinya adalah Lilly.


 


Ah, lupakan saja. Hal itu hanya akan menghancurkan rencana yang telah disusun oleh Rose dan dirinya.


“Ku dengar kau masuk SMA SS, ya?”


Sekali lagi gadis manis itu mengangguk pelan, mengundang tawa kecil dari lelaki disampingnya, ia menoleh dan mendapati lelaki itu menghentikan langkah kakinya.


“Aku kira kau tidak akan sependiam ini Rose.” Ujarnya masih dengan kekehan merdunya.


 


“Ah Evan, aku hanya sedang malas berbicara. Badanku pegal dan aku ingin segera tidur.”


Uluran tangan didepannya mencegah ia untuk kembali memacu langkah, begitu mendongakan kepala ia dikejutkan dengan Evan yang sedang tersenyum lembut. Angin malam menerbangkan surai hitamnya. Berlatarkan cahaya rembulan, lelaki itu nampak berkali lipat mempesona.


“Biar ku antar pulang.”


Sekali lagi ia menerima uluran tangan itu dengan hati yang kian menggelora, deguban jantungnya makin menggila. Ia merasa jutaan kupu-kupu terbang dalam perutnya dan pipi putihnya merona.