TWINS

TWINS
Part 12



 


Degup jantung Lilly mengisi keheningan kamarnya, disisi kanan dan kirinya terdapat pelayan yang tengah mondar-mandir mepersiapkan keperluan penampilannya. Sementara itu disudut sana terdapat designer dan make up artist terkenal. Si kembar Hera dan Haru.


Hera dengan teliti memeriksa gaun mewah rancangannya. Gaun itu berwarna emas dengan kilauan permata. Dipadukan dengan high heels dengan warna senada.


Sementara itu Haru tersenyum lembut dengan koper make up ditangannya, segera ia mendekati Lilly. Menatap wajah gadis itu untuk menentukan jenis riasan yang cocok untuk wajah manisnya. Haru tersenyum, ia menaruh koper besarnya dimeja. Menekan beberapa tombol kemudian menarik pegangan kopernya kesamping.


Seketika koper itu terbuka, bertingkat dengan peralatan make up super lengkap. Dibagian dasar koper terdapat peralatan untuk menangani rambut, sementara itu diatasnya terdapat berbagai jenis bedak, pondation, eyeshadow dengan berbagai warna, blush on… Dll. Hingga akhirnya dibagian paling atas terdapat peralatan yang tentunya berhubungan dengan make up. Ah, jangan lupakan cermin besar yang muncul ditengah-tengah koper. Setelah dilihat dengan cermat rupanya cermin itu sebelumnya terlipat dibagian dasar koper. Yang kemudian akan naik ketika koper terbuka.


“Padahal kemarin saya sudah memastikan tinggi badan anda. Tapi rupanya saya salah sehingga gaun ini sedikit panjang untuk anda.” Hera menghela nafas panjang.


Secara teknis Hera tidak salah, Rose memang memiliki tinggi badan 179 cm. Dan angka itu yang tertera dicatatan desaigner muda cantik itu. Lilly meringis, menyadari tinggi badannya yang tidak seberapa itu.


“Maafkan saya nona, hari ini merupakan hari penting, tetapi saya justru berbuat kesalahan seperti ini.


Ya, hari ini merupakan hari yang penting untuk Rose. Bukan untuk dirinya.


 


Hari ini, Perusahaan Zapphire dan Hartiva membuat sebuah acara besar-besaran untuk memperingati hari terjalinnya kerja sama antar dua perusahaan itu selama 10 tahun.


Acara ini diselenggarakan disalah satu hotel bintang lima; Hotel Lesya. Dihadiri oleh sekitar 5000 tamu undangan. Beberapa diantaranya juga mengundang artis papan atas dan para kolega-kolega penting kedua perusahaan tersebut.


 


Hal itulah yang membuat Lilly meski bangun jam 7 pagi untuk merias dirinya. Walaupun sebenarnya acaranya akan dilangsungkan jam 9 pagi, keantusiasan para pelayannya membuatnya terpaksa berpisah dengan belahan jiwanya, kasur tercinta.


“Ah tidak apa, lagipula panjang gaun itu tidak melebihi mata kakiku.” Lilly berusaha setenang mungkin, walau sejujurnya ia sedang pening bukan kepalang memikirkan tentang pidato apa yang akan ia sampaikan dihadapan 5000 orang disana.


Kakak beradik itu mengulas senyum tipis, merasa kagum dengan kemurahan hati ‘nona’ muda keluarga Sapphire. Mereka berfikir bahwa gosip tentang tabiat buruk nona merupakan kabar bohong.


Bagaimana mungkin nona yang lembut dan santun seperti ini memiliki tabiat buruk senang membiat masalah?. Kira kira itulah yang ada dalam fikiran kedua kakak beradik itu.


“Kling! You’ve one messenged!”


 


Jemari lentiknya segera mengambil ponsel dimeja, tertera nama Kevin dilayar ponsel pemberian Rose. Ah, Lilly lupa memberitahu tentang Rose yang membelikan ponsel baru untuknya 2 hari yang lalu.


 


Segera ia berdiri, nyaris jatuh sebab menginjak gaun putih panjangnya. Beruntung ditahan oleh Haru.


“Ah nona ... anda tak apa?”


“Aku tak apa, bisakah kalian tinggalkan aku sendiri?”


Kedua kakak beradik itu menatap satu sama lain sebelum akhirnya mengangguk, mengangkat peralatannya dan pergi keluar ruangan putih tersebut. Bersamaan dengan itu Lilly segera beranjak dari kursinya, mendekati jendela besar dan membukanya.


“Hei! Kau lama sekali, kakiku hampir mati rasa!”


Lilly tertawa pelan, ia geli melihat Rose memakai sweter merah jambu favoritenya. Dipadukan dengan celana jeans hitam serta tas selempang membuatnya nampak manis, sangat jauh berbeda dengan dia yang biasanya.


Disampingnya ada Kevin, lelaki itu memakai kaus oblong hitam dan jelana jeans putih.


 


“Buat orang-orang disana terpesona!” seru Kevin.


 


“Jangan buat latihan kita sia-sia!” pekik Rose sembari menunjukan telinganya.


Gadis manis itu mengangguk, ia tersenyum tipis dan mengacungkan jempolnya. Melirik angka dijarum jam, ah 5 menit lagi acaranya akan dimulai.


“Rose.”


Lilly panik, ia membalikan badannya dan tersentak kala mendapati Erza berdiri diambang pintu. Memakai tuxedo hitam membuat lelaki itu nampak sangat tampan.


“Sudah siap, kan?” ujar lelaki itu sembari mengulurkan tangannya.


Senyum manis terpatri dibibir tipis Lilly, detik itu ia sudah memutuskan untuk sepenuhnya menjadi Rose.