
Lilly termenung, selang beberapa detik ia menatap lurus kedepan, mengangkat dagunya angkuh, dan berjalan dengan elegan. Menghampiri tuan perdana mentri dan nyonya CEO disana. Kaki jenjangnya melangkah mantap dibalik gaun panjang itu, ekspresinya tanpa ada senyum yang terlukis di bibir peachnya. Auranya begitu kharismatik, membuat banyak orang merasa terpesona dan segan terhadapnya.
“Wah Shel, apa ini anak bungsumu?”
Lilly tersenyum semanis mungkin, ia menatap manik cokelat lelaki paruh baya didepannya. Kemudian ia berujar, “Perkenalkan saya Rose na Sapphire, anak bungsu dari keluarga Zapphire.”
Lelaki paruh baya itu tergelak, ia menepuk-nepuk pundak Shelter, ayah Rose. “Anak ini benar-benar sepertimu ya! Begitu angkuh, bahkan didepanku saja ia tidak menunduk untuk memberi salam.” Ujarnya sembari mengambil gelas berisi anggur di nampan pelayan.
“Senang bertemu denganmu nak, terakhir kali aku melihatmu adalah saat kau berumur 8 tahun, menggemaskan sekali haha.”
Seluruh orang dalam perkumpulan kecil itu tertawa, mengingat-ingat Rose kecil yang sangat nakal dan penuh tingkah lucu nan menggemaskan.
“Dia adalah Bazel Hartiva, seorang mentri pertahanan. Sahabat baik ayahku tentunya. Oh dan wanita lembut disampingnya itu adalah Rin Hartiva, istri dari Tuan Bazel. Jangan tanya kenapa beliau mau menikah dengan mentri pecicilan itu.”
Lilly tertawa kecil, ia mendengar nada malas diseberang sana. Sekaligus menyesuaikan diri dengan lingkaran yang berisi keluarga Hartiva dan keluarga Rose, Zapphire.
“Ah nak, biar kukenalkan kau pada seseorang.”
Lilly menaikan satu alisnya, ia merasa penasaran dan heran dengan orang yang sedang dipanggil oleh lelaki paruh baya itu.
Selang beberapa menit, sesosok laki-laki gagah mendekati perkumpulan mereka. Tubuhnya sangat tinggi, mungkin lebih tinggi dari Kevin. Kulitnya putih bersih, alisnya tebal dan tatapannya tajam, senyum lembut terpatri dibibir tipisnya.
“Ah Rose, dia adalah Evano Hartiva, anak sulungku. Dan juga dia adalah ….”
“Selamat siang para tamu undangan yang terhormat, Nama saya adalah Ririna dan disini saya akan memandu jalannya acara megah ini.”
Gadis mungil itu mengalihkan pandangannya kearah panggung besar didepan sana. Terdapat wanita cantik dengan gaun merah marron yang Lilly tebak berumur sekitar 25 tahun. Ia nampak tersenyum anggun dan terus mengucapkan kata yang tertulis dimemori otaknya tanpa cela. Setelah beberapa menit Lilly baru menyadar bahwa wanita itu merupakan host disalah satu channel Tv yang setiap hari ia tonton bersama ibu dan Kevin!
“Baiklah untuk acara pertama merupakan sambutan dari CEO Zapphire Corp! kepada Tuan Zapphire saya persilahkan.”
Lelaki paruh baya itu segera menaiki panggung usai pamit kepada sekumpulan keluarga Hartiva dan tentunya dengan ia yang berada didalamnya.
“Saya sangat berterima kasih kepada para tamu yang telah menyempatkan waktu berharganya untuk menyempatkan diri untuk menghampiri acara peringatan kerja sama antara Zapphire Corp dan Hartiva Corp yang ke 10 tahun. Sekali lagi saya berterima kasih dan silakan nikmati jamuan anda.”
Shelter—ayah dari Rose dan Erza itu mengangkat segelas champage ditangannya, diikuti para tamu yang melakukan hal yang sama. Usai itu sususan acara terus dibacakan, hingga akhirnya sampai pada bagian paling ia nantikan.
Bagian penutupan, yes!
Kali ini anak sulung dari keluarga Zapphire yang menaiki panggung untuk mengeluarkan pidato penutupan, membuat banyak gadis dalam ruangan besar ini terpukau melihat lelaki cool itu. Padahal beberapa menit yang lalu mereka sudah disuguhkan dengan pancaran hangat dan senyum lembut dari anak sulung keluarga Hartiva.
Para gadis itu serakah ya?
“Nak, ajaklah Rose berkeliling taman. Ayah akan membicarakan perihal bisnis dengan Shelter.”
Lelaki itu mengangguk, ia menghampiri gadis cantik didepannya. “Nona,” ujarnya usai menepuk lembut pundak gadis itu sembari tersenyum lembut.
Si empu nampak terkejut dan refleks membalikan badannya, manik emerald yang tertutupi soflens safir itu bersinar jernih. Membuat lelaki itu termenung menatap manik khas keluarga Zapphire dalam\-dalam. Kemudian gadis itu menampilkan raut bingung—terlihat dari satu alisnya yang naik dan tatapannya yang polos, lelaki tampan itu dibuat gemas oleh tingkahnya.
“Ha..? siapa kau?”
Lelaki itu nampak ingin membuka mulutnya, namun gumaman beruntun dari gadis cantik itu membuat ia urung mengatakannya.
“Alan? Elang? Awan? Afan?”
“Evan.”
“Aha! Itu dia, Tuan Evan!”
“….”
“….”
Keduanya terdiam, Lilly yang memahami situasi melunturkan senyuman lebarnya dan kemudian dengan sekejap melayangkan senyum bisnis kepada Evan yang sedang tertawa kecil.
“Anda Nona Rose, benar?”
Lilly mengangguk dengan senyum kikuk. Evan kembali mengulas senyum lembut sembari mengulurkan tangannya kepada gadis didepannya itu.
“Kulihat anda sedikit kesulitan menggunakan high heels, mau saya bantu?”
Lilly tersenyum cerah, ia menerima uluran tangan yang tersuguhkan didepan wajahnya, sekali lagi ia merasa bersyukur sebab menemukan lelaki baik hati ini.
“Bagaimana jika anda menemani saya mengelilingi taman sebagai imbalan telah membantu anda?”
Lilly menarik ucapannya tadi, lelaki didepannya tidak sebaik yang ia duga. Rupanya ia membantu dengan mengharapkan imbalan ya!
Evan hanya tersenyum tipis, ia menatap wajah cantik gadis disampingnya. Ia nampak terdiam, dipelipisnya terdapat peluh seperti bulir jagung. Gadis ini sedang berfikir keras rupanya. Sebenarnya aku bisa langsung mengajaknya ke taman, namun sepertinya menyenangkan sedikit menjahilinya seperti ini, fikir Evan sembari terkekeh.
“Gadis ini menarik.”