
Rose mengangguk pelan, ia akhirnya faham mengapa Lilly meminta bantuan Kevin. Lelaki ini sangat bisa diandalkan—dalam mengatasi emosinya yang melonjak-lonjak khususnya.
“Berlina, hentikan pertengkaran konyolmu! Dan Lilly, Kevin, Rose harap duduk ditempat kalian. Aku akan memulai rapatnya sekarang.”
Ketiganya mengangguk dan segera melangkahkan kakinya ke tempat masing-masing. Sementara itu Berlina mendecih namun tetap menuruti perintah dari ketua kelas yang menurutnya terlalu kaku itu.
“2 bulan lagi akan diadakan festival ulang tahun SMA SS yang ke 23. Acara ini akan dibuka untuk umum dan tentunya akan mengundang sekolah lain diantaranya adalah SMA AS yang merupakan rival kita. Untuk acaranya sendiri akan berlangsung selama 3 hari dengan penyambutan dan perkenalan dihari pertama, disini juga akan dibukanya stand dari masing-masing kelas. Hari kedua akan diadakan lomba antar sekolah, untuk lombanya sendiri akan ku umumkan jika ada info selanjutnya. Sementara itu dihari terakhir akan diisi dengan acara utama dan perfom dari semua kelas SMA SS, beberapa diantaranya mungkin akan ada perfom dari sekolah lain.”
Lucky nampak tersenyum puas kala melihat teman-teman sekelasnya mengangguk-angguk faham dengan apa yang ia jelaskan. Dengan begini ia tidak perlu mengulangi perkataannya seperti yang ia lakukan kemarin saat menjelaskan ekstrakulikuler dikelas sebelah, lebih tepatnya kelas I—kelas akhir disekolah ini. Begitu menyebalkan melihat anak-anak disana yang begitu bebal sehingga tidak memahami maksud dari penjelasannya yang telah ia sederhanakan. Dengan santai Lucky kembali melanjutkan penjelasannya tanpa mengurangi nada ketegasan yang tersirat disetiap perkataan yang ia lontarkan.
“Untuk lomba dan perform ku harap kalian semua bersungguh-sungguh dalam menampilkannya kar—“
“Ah malas, untuk apa kita harus bersungguh-sungguh dalam hal itu? Lagipula ini hanya acara sekolahan biasa.”
Manik emerald yang tersembunyi dalam soflens itu mengerling, ia mendapati sesosok gadis dengan raut wajah malas sekaligus santai sedang mengunyah permen karet. Bajunya berantakan dan tanpa ragu ia duduk dengan keanggunan yang minim—ralat—tidak ada keanggunan sama sekali.
“Kau salah besar Nona Cecilia.” Lucky berujar dengan senyum sinis, Lilly berani bertaruh bahwa ketua kelas super tegas itu mempunya masalah dengan gadis pemalas yang tetap pada ekspresi santainya usai disindir.
“Festival ulang tahun SMA SS adalah festival yang sangat dinantikan. Menurutmu ini festival biasa? Perlu kau ketahui bahwa festival ulang tahun SMA SS ini merupakan acara terbesar ke 3 dinegara ini. Alasannya? Tentu saja karna dibatalkannya permanen festival olahraga nasional membuat rakyat berpindah haluan ke festival ulang tahun sekolah kita yang memang dari dulu super megah. Ditambah acara ini sponsori oleh tiga besar keluarga paling berpengaruh dinegara ini yaitu; Keluarga Hartiva, Keluarga Zapphire, dan Keluarga Queenna”
Lucky tersenyum bisnis, ia melemparkan pandangan sinis pada gadis disudut kelas yang asyik menatap keluar jendela dengan raut malas, sesekali ia mendengus sebab merasa ucapannya di acuhkan begitu saja. Dasar gadis pemalas yang merepotkan, begitu fikirnya.
“Jadi kuharap kau bisa mengendalikan sifatmu yang menyimpang, Nona muda Cecilia thya Queena.”
Cecilia memutar matanya bosan, ia memilih untuk menatap keluar jendela serta merta mengabaikan kikikan geli dari teman—ralat—anak sekelas yang seakan akan puas melihat perilakunya disindir, tapi hei memangnya konglomerat harus bertingkah anggun? Merepotkan, begitu fikirnya. Namun yang keluar dari mulutnya malah decihan.
Lilly menatap paras cantik Cecil, ia baru mengingat fakta tentang gadis itu, sebelumnya ia pernah melihat Cecilia disaat acara perusahaan beberapa waktu lalu. Dia melihat gadis itu menampilkan raut malas khasnya kala sedang dikerubungi remaja laki-laki. Lantas pergi dari acara dengan telanjang kaki sebab ia memilih untuk menenteng high heels yang menurutnya begitu merepotkan. Ah, kenapa lilly baru mengingat gadis unik itu sekarang.
Sementara itu Lucky nempak tersenyum puas mendengar decihan yang dilontarkan oleh Cecil, kemudian ia melanjutkan ucapannya, “Nah tujuan dilakukannya rapat ini adalah supaya kita dapat menentukan perform dan stand nanti. Baiklah langsung saja, apa yang akan kita tampilkan dan stand apa yang akan kita buka?”
“Ah, dasar menyebalkan! Padahal aku sudah memerintah untuk membuka stand rumah hantu saja! Tapi mereka malah mendengarkan ucapan Kevin dan kau.”
Rose mengerucutkan bibirnya, ia menggengam erat tali tas selempangnya yang sempat melorot, disampingnya Lilly dan Kevin hanya meringis sesekali tertawa melihat ekspresi imut yang jarang ditampilkan Rose.
“Ah, itu karna aku sangat tampan haha dan juga kalau saja name tag yang ada didadamu itu adalah nama aslimu; Rose na Sapphire. Mungkin mereka akan sangat mendegarkanmu…”
“…itu salahmu karna bertukar peran dengan Lilly.”
Lilly terkekeh hingga matanya menyipit, ucapan Kevin mengundang gembungan pipi Rose. Gadis itu bersidekap dan membuang muka. Tawa kedua orang disampingnya pecah seketika.
“Aku tidak salah! Lagipula aku tidak menyesal bertukar tempat denganmu Lilly.”
Begitulah faktanya, walau ia harus dihadapkan dengan fasilitas yang kurang dari layak, dibawah standar, dan sangat buruk. Tidak ada ranjang empuk, bathub, pelayan yang membantunya, Black forest cake. Rose tidak pernah menyesal memilih bertukar peran dengan gadis disampingnya.
Menurutnya ini adalah anugrah, ia bisa bebas. Menikmati hidup yang lama ia impikan. Tidak ada jadwal padat, jamuan, sarapan sendirian, keheningan menyesakan kala makan malam, dan yang lebih menyenangkan dari itu semua adalah…
…dia tidak kesepian.
Tidak peduli masalah apa yang akan menantinya karna telah bertukar kehidupan, atau entah karma apa yang akan menimpa dirinya. Yang terpenting saat ini adalah dia bahagia… dilingkungan yang jauh dari kemewahan… Rose bahagia.
Senyum tipis terukir dibibir peachnya, ia menyusup diantara Lilly dan Kevin. menggandeng lengan keduanya seraya memekik keras, “Aku sayang kalian!”
Tawa ketiganya kembali merekah, menertawai tingkah Rose yang begitu kekanakan. Mereka merasa kebahagiaan yang tak terbendung. Dibawah semburat jingga di sore hari itu mereka mengharapkan hal yang sama. Dibarengi dengan gelak tawa yang membahana.
“Aku harap waktu berhenti, aku ingin terus seperti ini.”
Harapan yang begitu manis, namun akankah mereka menyadari bahwa roda takdir mulai bekerja?