TWINS

TWINS
Part 5



Rose hanya bisa berharap dengan cemas. Dalam hatinya ia berdoa semoga Lilly menerima penawarannya.


Suasana hening kembali hadir pada ruangan luas itu, selang beberapa menit Lilly menghela nafas dan mengangguk, mengundang tawa lebar pada bibir tipis Rose.


Rose beranjak dari duduknya lantas memeluk Lilly erat. “Terima kasih Lilly,” ujarnya pelan.


***


“L—lilly, siapa dia? tunggu, kau Lilly bukan?”


Kevin nampak shock, ia menunjuk-nunjuk dua gadis di depannya. Keduanya benar benar memiliki wajah yang mirip. Perbedannya hanya terletak pada segi etika dan bola mata. Yang satunya memiliki bola mata emerald dengan sifat kalem dan sedikit pendiam, yang lainnya memiliki bola mata safir dengan sifat petakilan dan ceria.


Eh, safir?mirip seperti bola matanya. Ujar kevin dalam hati


“Woahh, dia siapa?”


Kevin tersenyum simpul, dengan sopan ia mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. “Namaku Kevin Andrea” ujarnya dengan nada selembut mungkin.


Pipi putih Rose memerah, ia menjabat tangan putih Kevin “Mm namaku Rose na Sapphire, senang berkenalan denganmu” ujarnya dengan seulas senyum tipis.


“Sapphire?safir?”


“Ah, ibuku menamaiku begitu sebab melihat bola mataku.”


Kevin mengangguk-anggukan kepalanya “Sepertinya ibu kalian memiliki selera yang sama dalam memberi nama,” ujanya dengan tangan dikepala, berfikir.


Rose menaikan alis, kebingungan nampak tertera jelas diwajah ayunya.


“Nama panjang Lilly adalah Lylina Emeraldyna.” Rose manatap Kevin lekat. “Ibu kalian memiliki selera yang sama dalam memberi nama.” Kevin menunjukan iris mata safirnya “Menggunakan iris mata dan nama bunga” imbuhnya dengan senyum simpul.


“Kalian jangan terus bergosip tentangku, dan Rose jangan lupakan alasan kita datang kemari.”


Saat ini mereka bertiga sedang berada dikediaman Kevin, setelah perdebatan panjang tadi pagi. Lilly dan Rose memutuskan untuk meminta bantuan laki-laki jangkung itu, awalnya Rose sedikit ragu apakah laki-laki ini akan bisa membantunya nanti. Namun melihat langsung bagaimana Kevin yang nampak begitu dipercaya oleh Lilly membuatnya yakin bahwa dia akan bisa diandalkan.


Lilly menghela nafas panjang, ia memperbaiki posisi duduk nya.


“Kevin, kami butuh bantuanmu.” lelaki tampan itu menatap Lilly lamat-lamat, “kami melakukan kesepakatan untuk bertukar peran dengan waktu yang telah ditentukan.”  Lilly menghirup nafas, kemudian gadis mungil itu melanjutkan ceritanya,


“Rose akan menjadi aku begitu pula sebaliknya. Kami akan bertukar tempat tinggal dan akan menyesuaikan tingkah satu sama lain. Singkatnya, kami bertukar kehidupan.”


Lilly menatap lelaki jangkung itu lekat, “Jadi kami membutuhkan bantuanmu,” imbuhnya sembari menutup mata, takut jika Kevin akan memarahinya sebab kesepakatan ini akan sangat beresiko.


Tepukan hangat disurai hitamnya membuat Lilly membuka matanya lebar-lebar. Kevin sedang tersenyum dengan senyum khasnya, menatap Lilly teduh. “Tentu saja aku akan membantumu.” ujarnya sembari mengacak rambut Lilly gemas.


Lilly hampir saja akan menangis dan memeluk sahabatnya itu erat-erat jika saja Rose tidak berteriak kegirangan dan mulai menjelaskan silsilah keluarganya serta etika-etika yang harus dijaga untuk mempermudah rencana mereka berdua.


“Aku tau apapun yang kau lakukan itu memiliki alasan.”


Lilly membalas senyum Kevin dengan senyum terbaiknya, ia menahan air mata yang akan tumpah dengan wajahnya yang menurut Kevin begitu menggemaskan.


“Terima kasih Kevin …” gumam Lilly dengan mata yang berkaca-kaca.


Ah, betapa Kevin begitu menyayangi sahabat manisnya ini.