
Lilly menghela nafas panjang, ia menatap keluar jendela. Berusaha mengabaikan detak jantung yang tak terkendali, disertai dengan kegugupan yang begitu susah ia ungkapkan.
Ditambah dengan keheningan didalam mobil mewah itu membuatnya pusing bukan kepalang.
“Hei, papa dan mama kemana?”
Lilly mengalah, ia membuka percakapan terlebih dahulu. sebab lelah menunggu lelaki dingin disampingnya membuka mulut.
“Mereka ada di mobil depan bodoh.”
“Aku tidak bodoh sialan!”
Lelaki itu hanya mendengus dan tertawa kecil. Ia mengusap pelan surai hitam ‘adiknya’, merasa puas membuat gadis itu kesal. Lihatlah, ia mengerucutkan bibirnya… imut sekali.
“Sebentar lagi sampai, jangan mengerucutkan bibirmu Rose. Kau ingin ditertawakan oleh wartawan hm?”
Lilly mengangguk khidmat, ia merapihkan gaun putihnya serta membenarkan posisi duduknya, hal itu mengundang senyum kecil dari bibir Erza. Pintu mobil mewah itu terbuka keatas, keadaan diluar sana membuat Lilly gugup. Tiba-tiba tangan putih terulur didepannya.
“C’mon, jangan buat fansmu menunggu, adikku.”
Lilly tertawa kecil, ia menerima uluran tangan Erza dan menggenggamnya erat. Kemudian ia merasa tangannya ditarik pelan. Dengan segera gadis itu keluar, menapakan high heealsnya pada red carpet yang tergelar didepannya. Usai seluruh tubuhnya keluar dari mobil mewah itu, ia langsung disambut dengan jepretan disisi kanan dan kirinya. Hal itu membuatnya sedikit panik, namun sesegera mungkin ia mengembalikan ekspresinya.
Gadis manis itu tersenyum dan melambaikan tangan kanannya pada kamera, sementara itu tangan kirinya berada digandengan Erza. Lelaki itu berjalan perlahan untuk mengimbangi langkah kaki adiknya sembari tersenyum singkat. Membuat fansclubnya berteriak kegirangan melihat idolanya tersenyum.
Tiba\-tiba Lilly merasa pening, langkah kakinya goyah. Genggaman tangannya mengerat, membuat Erza menaruh tangannya pada pinggang ramping Lilly. Gadis itu melupakan fakta bahwa ia tidak bisa terlalu lama melihat jepretan kamera.
Erza yang menyadari kondisi ‘adiknya’ tidak baik segera mempercepat langkahnya, sembari menutupi kondisi sebenarnya dari adiknya itu.
Sesudah melewati pintu besar itu, Erza menghela nafas panjang. “Seharusnya kau bilang kalau kondisimu sedang tidak baik.” Ujarnya sembari menuntun adiknya.
“Sorry, aku hanya muak melihat para wartawan itu hehe.” Jitakan super mendarat didahi mulusnya, membuat ia mengaduh dan melotot pada lelaki dingin disampingnya.
“Kalau tau aku tau itu cuma pura-pura, sudah kutinggalkan kau disana sendirian.”
Tiba-tiba ia melotot kala mendapati sesosok lelaki dengan rambut pirang sedang berbincang dan tertawa kecil bersama tiga orang lainnya.
“DAMN IT, THAT’S DEVANO! MY FAVORITE IDOL AND THE BEST IDOL WITH ANGEL FACE!” Lilly bergumam aneh sembari tak henti\-henti ia menatap kagum dengan sosok yang berada 5 meter dari tempat berdirinya itu.
“Cek, cek. Lilly. Apa kau disana?”
“ASTAGA ITU JJ BLACK! RAPPER FAVORITKU!” Lilly masih terus bergumam aneh, mengabaikan letupan emosi Rose yang sebentar lagi akan meledak, membumi hanguskan dirinya. Ah, tapi Biarlah. Asal dia bisa melihat wajah tampan artis-artis disini.
Diseberang sana Rose menahan amarah dengan wajah super merah, disampingnya Kevin nampak gelagapan sembari membawa segayung air yang ia ambil dari kamar mandi. Jaga-jaga jikalau amarah gadis itu meledak.
“OH SHIT! LEWISH JUGA ADA DISINI! SIAL, INDAH SEKALI KEHIDUPAN ROSE BISA BERTEMU DENGAN ARTIS-ARTIS BEGINI!”
Lilly terus berfangirl ria tanpa kenal dosa, sementara itu Rose yang mendengar geram bukan main, kepalannya sudah mengepul dan berasap sebab amarah selayaknya bom waktu itu telah meledak.
“LILLY! DON’T MAKE ME ANGRY. YOU LITTLE ****!”
Lilly tersentak, ia memegang anting putih yang tergantung indah di telingannya. “Ya Rose.” gumamnya singkat, hebat sekali Lilly bisa merubah sikapnya dengan hitungan detik dan melupakan idolanya
Sejenak ia menghela nafas panjang, memalingkan wajah agar tak menatap wajah berkilau artis-artis papan atas. Yeah tujuan sebenarnya adalah agar jiwa fangirlnya tidak lagi kumat.
Baiklah ku tarik perkataanku, rupanya dia tidak bisa melupakan idolanya. Hanya sikapnya yang berubah, jiwa fangirlnya melekat kuat dan permanen.
Dia bukan fans musiman tahu.
“Bagus, sekarang dengarkan penjelasanku dengan baik, disini aku akan menjelaskan orang-orang yang akan kau temui. Aku tidak akan mengarahkan apa yang harus kau lakukan karna kau sudah cukup berlatih dengan Smith dan Sam. Jadi Lilly, pastikan anting komunikasi dan kamera mungil di aksesoris bunga di gaun putihmu itu tidak hilang. Asal kau tau mereka lebih mahal dari harga ginjalmu.”
Lilly mendengus, Rose membuat dia harus menggunakan anting dan kamera ini dengan tujuan agar gadis cantik itu dapat menjelaskan seluruh orang disana. Sangat berbahaya jika Lilly tidak mengenal dan faham orang-orang itu.
“Lilly, saat ini kau adalah aku, Rose na Sapphire. Kuasai tempat itu, panggung itu adalah milikmu.”
Lilly mengangguk dalam diam, ia meyakinkan dirinya. Inilah saatnya, gumamnya pelan