
Saat dunia mulai menggelap, para manusia mulai memejamkan mata dan terlarut dalam mimpi indah yang membuai kenyataan.
Ditengah keramaian kota,kemilau indah lampu lampu yang menerangi jalanan,didalam sebuah gubuk reot yang disebut rumah. Terdapat seorang gadis manis yang disibukan dengan laptop pink dihadapannya.
Jemari lentiknya terus menerus menari diatas keyboard demi merangkai sebuah kata yang kemudian disusun menjadi kalimat penuh makna.
“Hah…. ”
Sejenak ia menghentikan tarian jemarinya setelah merasa sendi sendi pada jarinya begitu pegal. Ia meregangkan badan dan menatap sekeliling kamarnya yang dipenuhi origami dengan berbagai macam bentuk.
“Drrrtt… drrrt.”
Getaran pada ponsel mengalihkan pandangannya, sesegera ia beranjak dari kasur, mengambil ponsel yang berada diatas meja belajarnya. Tertera nama ‘Kevin’ dilayar ponsel yang telah retak sana sini.
“Hallo, ada apa?”
“Oh, hei!” Suara baritone terdengar begitu ceria diseberang telfon.
“Ummmm…biar kutebak,kamu pasti sedang menulis!”
“Kau paling tahu tentang itu Kevin.”
Tawa keras menggelegar dari mulut Kevin, membuat lawan bicaranya merasa tuli mendadak dan refleks menutup telinga
“Ahahahaha! Kau ini!”
“….”
“Hei, aku tau kau sangat suka menulis. dan begitu kecewa akan pengumuman bulan lalu. Tapi,harusnya kamu tidak memaksakan tubuhmu seperti itu. Tidurlah, ini sudah tengah malam, Lilly”
“Tidak Kevin, aku harus terus berusaha agar ceritaku dapat diterima oleh para penerbit.”
Seulas senyum tipis terpatri dalam bibir kering gadis yang kini kembali berkutat pada laptop kesayangannya.
Sementara itu diwaktu yang sama, hari yang sama, malam yang sama namun dengan keadaan yang berbeda.terdapat pula seorang gadis cantik yang juga sama berkutat dengan laptop. Bedanya laptop yang ia miliki jauh lebih mahal dan jauh lebih baik dibandingkan dengan laptop milik gadis sebelumnya.
“Tak, tak, tak, tak.”
Dengan penuh semangat ia mengetik kata demi kata yang sebelumnya telah terangkai dalam kepala cantiknya.
"Brak!”
Suara gebralan pintu terdengar begitu nyaring, dibarengi dengan sebuah suara baritone merdu yang mengagetkan si empu pemilik pintu.
“Oh Ezra! Bisakah kamu masuk dengan santai?!” Gadis manis mengerucutkan bibirnya lantaran sebal, “kamu selalu berhasil membuat jantungku nyaris meloncat keluar tahu!”
Lelaki yang diketahui bernama Erza tersebut hanya mendengus dan menarik pipi putih gadis manis didepannya, kemudian dengan santai ia merebahkan dirinya diatas ranjang empuk yang tentunya langsung diprotes keras oleh si empu pemilik kasur.
“Bagaimana dengan tulisanmu?” pertanyaan Erza mengundang keceriaan gadis manis yang tadinya mengerucutkan bibir lantaran omelannya diabaikan.
“Tulisanku diterima oleh penerbit!”
Senyum tipis terukir dari bibir tipis Erza.
“Kerja bagus Rose.”
***
Sang mentari berjalan anggun mengikuti arah jalan terbitnya, kesombongan menguar dari sorotnya yang terang benderang. Sinarnya merayap, menyelinap pada sela-sela tirai yang tertutup. Mengganggu tidur seorang gadis cantik yang kini bermimpi bertemu pangeran tampan nan ceria. Sehingga aura optimisnya mengalahkan keangkuhan sang mentari.
“Rose bangunlah, kita kesiangan!” Terdengar suara menggelegar yang mengagetkan seisi rumah mewah bergaya eropa yang terletak disebuah kawasan elite, sarang dimana para konglomerat berada.
Pada rumah tersebut terdapat sebuah ruangan dimana seluruh isinya bernuansa warna kuning cerah. Yang mungkin bagi sebagian orang warnanya terlalu menusuk mata untuk dijadikan sebuah cat dinding atau hal lainnya. Sementara itu diatas kasur empuk yang berwarna kuning pula terdapat sebuah buntalan selimut berisi seorang gadis manis yang telah kita ketahui sebelumnya bernama Rose.
“5 menit lagi.” jawaban dari Rose berhasil membuat saudara laki lakinya itu kesal bukan main. Tanpa babibu lagi Erza menarik tubuh ramping Rose dan membopong gadis manis itu dengan lengan kekarnya. Membawanya kedalam kamar mandi dan melempar tubuh Rose kedalam sebuah bathub yang sebelumnya telah diisi dengan air hangat oleh pembantu pribadi adiknya.
“ERZA!”
Erza mengangkat bahu, mengabaikan teriakan nista dari adik perempuannya dan memilih untuk berlalu.
Sementara itu diwaktu yang sama. Pada sebuah jalanan dengan kendaraan yang tak pernah berhenti hilir mudik. Ada seorang gadis manis dengan perawakan mungil dan berwajah imut sedang berjalan kaki dengan santai. Ditangan kanannya terdapar sebuah roti yang telah tergigit sebagian. Sementara itu matanya terfokus pada baris demi baris yang terdapat pada buku bacaan yang berada di tangan kirinya.
When the twins meet.
Adalah judul buku yang kini dibacanya. Buku yang berkisah tentang sepasang anak kembar yang terpisah akibat keegoisan kedua orang tua. Mereka yang selalu bersama dalam satu rahim yang sama itu terpaksa harus dibesaarkan dengan kehidupan dan latar belakang yang berbeda.
“Ahh ... aku tidak bisa membayangkan kalau seandainya kisah ini akan terjadi pada dunia nyata.” Gadis manis itu menghela nafas dan menaruh kembali buku favoritnya kedalam tas sekolahnya.
Kemudian ia mendongak dan menatap hamparan indah hasil karya tuhan,walau tak dapat dipungkiri bahwa kabut hitam dari cerobong besi membuat lukisan indah itu nyaris kehilangan warna seperti dirinya, kusam dan kelabu.
“Semangat lilly. Ini hari pertamamu masuk sekolah.” gumam gadis itu pada dirinya sendiri. “Tak ada waktu untuk bersedih!” imbuhnya dengan semangat yang telah kembali berapi api