TWINS

TWINS
Part 19



5 hari lagi festival akan dilaksanakan, hal itu membuat kelas unggulan tingkat 1 sibuk bukan main. Ah, tidak tidak. Seluruh kelas di SMA SS sibuk dengan persiapan mereka sendiri\-sendiri. Pelajaran telah diberhentikan untuk 5 hari kedepan, seluruh kelas diperintahkan untuk mematangkan penampilan dan persiapan yang ada. Mari kita fokus pada kelas unggulan tingkat 1 yang tengah menyempurnakan rancangannya.



Meja pembelajaran mereka telah ditaruh digudang khusus kelas unggulan. Digantikan dengan meja bulat berwarna putih elegan yang telah tersusun rapi, disusul dengan penempatan kaca besar yang rencananya akan diisi dengan berbagai macam cake dan akan diletakan meja kasir disampingnya.



Yep, mereka akan membuka maid café.



Namun uniknya stand kelas ini hanya meyediakan cake, es krim, dan kopi. Berbagai jenis cake, es krim, dan kopi telah disusun dan ditulis hingga membuat list yang panjangnya bukan main. Mayoritas dari menu itu akan dibeli dari luar negara karna memang tujuannya menghadirkan menu berkualitan dan premium—sekaligus menunjukan level mereka yang ekhem. Adapun alasan mereka hanya menyediakan cake, es krim dan kopi adalah karna mayoritas pelajar perempuan baik itu pelajar di SMA SS ataupun sekolah lain adalah penggemar berat cake dan es krim, termasuk kalian. Sementara itu untuk menarik perhatian pelajar lelaki, mereka mengadirkan berbagai jenis kopi berkualitas ditambah dengan semua pelayan disini adalah perempuan yang akan menggunakan pakaian pelayan café yang khas, istilahnya adalah maid. Disitulah kata maid café tercipta.


Untuk ruangan sendiri mereka memilih cat hijau muda yang kalem. Bertujuan menimbulkan rasa nyaman dan damai. Dibagian belakang dihias dengan graffiti karya si cantik Ruby—Si jago gambar dengan sifat ceria dan menyenangkan yang memegang peringkat 5 diujian masuk SMA SS kemarin. Ruang kelas ini sangat simple dan nyaman, sangat cocok dengan tujuan anak unggulan tingkat 1 yang mayoritas menyukai sesuatu yang elegan namun penuh seni. Pengecualian untuk Berlina beserta kawanannya yang menentang penyusunan ruangan. Mereka menginginkan warna merah—warna yang senada dengan rambutnya, dan berlian disetiap sudut hingga menimbulkan kesan glamour. Tentu saja hal itu memicu penolakan keras dari mayoritas anak kelas.


“Hei! Ayo rapihkan yang bagian ini. Dasar lamban!”


Rose berdecih, ia menatap manik Berlina tajam. Merasa muak sekaligus ingin melempar gadis sok bossy itu ke kandang beruang, membiarkan badan menjijikannya dilahap oleh sweety. Ia juga merasa direndahkan sebab selama 17 tahun ini dia tidak pernah diperintah—bahkan jika itu oleh orang tuanya. Tapi apa-apaan kuda pirang ini! Dia memerintah tanpa melakukan apapun.


“Apa Nona Rose sudah kembali?”


Lagi-lagi Rose mendecih, ‘Rose yang asli ada dihadapanmu! Tapi kau malah mencari Lilly dan menghinaku, dasar idiot,’ gumam gadis cantik itu.


Manik emasnya mendelik. “Heh miskin! Apa yang kau ucapkan?!” bentak Berlina marah, walau ia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh gadis didepannya tapi ia sangat yakin bahwa Lilly tengah menghina dirinya. Berlina mendengar kata idiot diujung kalimat.


Sementara itu Rose tidak mau kalah, ia membanting bola lampu hias yang ia genggam. Manik safir yang tersembunyi itu menajam. Sejenak Berlina merasa ngeri, namun perasaan itu ia tepis jauh-jauh sebab merasa dirinya rendah jika takut akan Lilly, untuk apa takut pada gadis miskin. Begitulah fikirnya.


“Aku bilang berhenti sok bossy Nona Berlin redyna! Aku kasihan pada ayahmu karna dia harus memiliki anak gadis yang menjijikan dan tak tahu diuntung sepertimu.”


Amarah Berlina memuncak, ia kembali melontarkan kata kasar dan Rose sendiri tak mau kalah—terus menimpali perkataan Berlina. Tidak ada satupun dari anak kelas yang berani melerai keduanya. Sebab mereka merasa takut dengan status keluarga Berlina yang bisa disebut berhubungan erat dengan keluarga Zapphire. Ayahnya sendiri merupakan direktur di Zapphire corp. Mana mungkin mereka berani melerai setelah mengetahui hal itu? bisa-bisa mereka dianggap menganggu kegiatan putri manja itu dan membuatnya makin marah.


“Apa katamu?! Dasar gadis sok kaya! Apa kau tau berapa harga lampu hiasan yang telah kau pecahkan itu hah!?” jemari Berlina ikut maju, ia menjambak surai hitam lawan bicara sembari berkacak pinggang. Bibir dengan polesan lipstick merah itu terus melontarkan kalimat-kalimat hinaan.


“Kenapa ribut sekali? Bukankah kalian harus menyelesaikan pekerjaan terakhir?”


“Kenapa kalian malah diam? Ayo lakukan tugasnya… eh?”


Matanya membulat kala mendapati 2 gadis tengah adu mulut, saling menarik baju kemudian nampak gadis bername tag Lillyna Emeraldyna tengah menjambak rambut Berlina sembari menyeringai puas. Kevin segera melesat dari bibir pintu untuk melerai keduanya setelah menyerahkan kucing peliharannya ke tangan Cecilia yang tengah memasang wajah malas.


“Hei hei hentikan!”


Tangan besar Kevin menarik si pelaku penarik rambut dan mendekapnya erat, menahan kedua tangannya agar tidak kembali menjambak ganas surai pirang milik gadis yang sedang meringis dan melontarkan sumpah serapah. Rambut keduanya bak singa yang baru bangun tidur, atau seperti beruang yang usai dari hibernasi panjangnya. Sangat acak-acakan.


Berlina yang mendapati ‘Rose’ tengah berdiri dibibir pintu langsung menerjangnya. Meneteskan air mata buaya sembari mengadukan perlakuan yang ia terima. Dekapannya mengerat kala menceritakan kejadian dimana dia dihina. Dia mulai mengadu dan berakting.


“Hiks… kau tau Nona Rose hiks… dia mengatakan bahwa aku ini tidak melakukan apa-apa hiks padahal… padahal dia hanya bisa mengomentari pekerjaan orang lain dan memer—“


“Heh lacur! Kau yang duluan menjambakku sialan!” ucapan Berlina terpotong oleh nada tinggi yang dilontarkan Lilly a.k.a Rose asli. Dia mencak-mencak dari dekapan Kevin seraya melontarkan kata kotor dengan suara yang memekakan telinga. Wajahnya merah padam, rambutnya pun awut-awutan. Namun gadis cantik itu tidak peduli dan terus melampiaskan kekesalannya—sebelum akhirnya mulutnya dibekap oleh tangan besar Kevin.


“Lihat! Dia bahkan berani menghinaku, dasar Lilly gadis miskin tak tahu di—“


“Apa yang kau lakukan?”


Berlina tersentak kala ucapannya dipotong. Ia mendongak dan mendapati tatapan dingin dari perempuan yang ada didekapannya, disusul dengan badan gemetaran karna merasa sosoknya terasa mengerikan. Tidak… tidak, jangan sampai back up terkuat ini membenci dirinya.


“Kau membuat bajuku kotor dan menjatuhkan es krimku—”


Gadis dengan surai pirang itu melepaskan dekapan dan memundurkan tubuhnya, merasa ngeri dengan nona muda yang merupakan sumber keuntungannya. Jemari lentiknya terulur, berniat membersihkan noda es krim dibaju ‘Rose’, yang kemudian ditepis begitu saja.


“M…maa—“


“—Jilat es krimku yang jatuh dilantai sampai bersih. Dasar sialan.”


Seisi kelas langsung terdiam, Lilly segera mendekati Rose asli yang telah berhenti mencak-mencak dan kini tengah tersenyum puas. Mulutnya tak lagi dibekap, dengan segera Lilly merapihkan surai hitam Rose yang berantakan dan menyemprotkan cairan yang telah ia keluarkan dari saku jas sekolahnya


“Rambutmu kotor, usai ini keramaslah. Jangan sampai kau tertular ketololan serangga disana.”


Berlina menggeraskan rahangnya kala melihat seringaian kemenangan keluar dari bibir tipis Lilly. Manik emasnya mengkilat bersamaan dengan terbentuknya rencana dikepala merahnya.