TWINS

TWINS
Part 4



Gadis mungil dengan tinggi kisaran 159 itu berjalan cepat, membiarkan kakinya membawanya keluar dari sekolah laknat yang memiliki 20 mata pelajaran. Dengan 16 pelajaran utama dan 4 pelajaran tambahan. Ditambah dengan celotehan panjang dari sahabat kuningnya yang rasanya tidak akan pernah habis.


Belum lagi si perusuh baru yang menerornya sepanjang pelajaran dengan ribuan pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang memekakan telinga. Tak hanya dalam pelajaran, perusuh itu juga menerornya dengan segudang sogokan berupa makanan segunung jumlahnya ketika mereka berada dikantin. Yang tentu saja langsung diterima dengan lengan dan kaki terbuka lebar oleh pecinta makanan, Kevin.


Hal itulah yang membuat gadis imut itu mengumpat dan merengut sepanjang hari. Dan sialnya sekarang perusuh itu sedang berlari mengejarnya. Derap kakinya mengudara, membuat gadis mungil itu mengeluarkan umpatan yang sudah tak terhitung jumlahnya.


“Hei hei Lilly!”


“Jangan berteriak Rose, aku tidak tuli.”


Rose tersenyum lebar, dengan segera ia merapihkan bajunya sebab berlari-lari mengejar gadis pendiam didepannya ini. “Aku mau mengajukan tawaran padamu,” ujarnya.


Lilly menaikan alis, ia berbalik dan melangkah pergi. Nampak sangat tidak tertarik dengan tawaran Rose yang sedari tadi pagi telah dikumandangkan.


“Lilly, aku tau kamu membutuhkan biaya untuk perawatan ibumu!”


“Deg”


“Aku sangat tahu itu, aku tau semuanya Lilly.”


Lilly berbalik, raut wajahnya berubah dingin. Semilir angin sore menerbangkan helai rambut hitam keduanya.


“Apa yang kau inginkan Rose.”


Rose tersenyum puas, ia menatap manik emerald Lilly lekat-lekat. Tak peduli walau lawan bicaranya terlihat sangat marah.


***


“Apa kau ingin minum sesuatu?”


“Tidak usah basa basi Rose, katakan darimana kau mengetahui informasi mengenai ibuku.”


Rose tertawa pelan, ia menyandarkan badannya pada sofa putih dan berbisik pada pelayan pribadinya untuk membawakan 2 jus mangga. Suasana hening meliputi ruangan luas dengan didominasi warna putih bersih.


“Kalian semua pergilah, aku ingin berbicara pribadi dengan tamuku.”


Seketika barisan pelayan itu bubar dan pergi, Kembali melakukan pekerjaannya masing masing. Lilly tidak tuli, ia masih bisa mendegar bisikan-bisikan tentang kemiripan wajahnya dengan Rose. Para pelayan itu bertanya tanya satu sama lain, membandingkan wajah mereka berdua.


Kini mereka benar benar berdua dalam ruangan yang luas ini.


“Lilly.” Suara khas Rose mengalun, membuat Lilly memalingkan tatapannya ke manik safir gadis didepannya.


“Aku mengetahui segala informasi tentangmu melalui mata-mata yang ku kirim. Dan juga data pribadimu yang dikirim oleh kakakku.”


“Mencuri data pribadi dan mengirim mata-mata untuk mengintai seseorang 24 jam itu pelanggaran hukum Rose,” ujar Lilly dengan penuh penekanan pada tiap kata yang ia ucapkan.


Rose tergelak, “Aku tau itu. tapi Lilly, asal kau tau saja bahwa hukum tidak berlaku untukku.”


Lilly mengumpat dalam hati, ia membenci sistem yang berkuasa akan dapat mendapatkan ‘hak istimewa’. Selayaknya video game dimana kau harus membayar untuk mendapatkan fitur istimewa yang tidak dapat diperoleh oleh player gratisan.


Tiba-tiba ia teringat dengan video game yang selalu ia mainkan bersama Kevin saat waktu luang.


“Aku punya penawaran untukmu.”


Lilly berdiri dan berniat untuk melegang pergi. Mengabaikan fakta tentang Rose yang mengetahui segalanya dan dampak yang akan terjadi jika gadis itu menyebarkan kehidupannya. Sekarang ia benar-benar muak dengan gadis yang semena-mena macam Rose.


“Lilly! Jika kau setuju dengan penawaranku, seluruh biaya pengobatan ibumu akan kutanggung!”


“Termasuk biaya operasi pengangkatan Rahim ibumu ….”


Gadis mungil itu menelan ludah, ia menatap dalam dalam manik safir Rose.


“Penawaranku sangat mudah, aku ingin kita bertukar peran.”