TWINS

TWINS
Part 7



Bel pertanda jam makan siang melolong sampai keujung sekolah. Yang kemudian disusul ribuan siswa-siswi yang memiliki tujuan, arah, dan maksud yang sama.


Cafetaria.


Hiruk piruk memenuhi ruangan luas dengan berbagai macam makanan mahal didalamnya.


Sebenarnya Lilly sedikit bingung, sebab tidak biasanya cafeteria akan seramai ini. Karena sebagian besar siswa diSMA SS lebih suka menghabiskan jam istirahat ke perpustakaan, taman atau mungkin beberapa diantaranya akan melakukan ‘hobi’ khas anak-anak sini,yaitu Bullying.


“Rose ada apa sih?”


Lilly sedikit heran sebab tidak biasanya cafetaria akan seramai ini. Setahu dia, tempat ini cenderung lebih sepi dibandingkan dengan kantin yang berada diujung sekolah.


Padahal menurut para anak-anak manja yang setiap hari menghabiskan uang orang tua, kantin itu sangat tidak higenis sebab jajanan disana memiliki kandungan minyak yang cukup banyak. Sangat jauh dengan cafeteria yang menyediakan makanan yang didominasi makanan west,meja yang tertata rapih dan lantai yang nyaris tidak ada debu. ditambah dengan harga makanan dikantin yang tergolong murah membuat para anak kaya itu hanya menggelengkan kepala. Merasa jijik dengan selera para orang golongan menengah kebawah.


Lilly hanya menghela nafas panjang, merasa aneh dengan keramaian ganjil diruangan luas ini. Wajar ia tidak tahu, sebab selama ini Lilly jarang sekali ia pergi ke cafetaria, atau bahkan hampir tidak pernah.


Sebab biasanya ia menghabiskan jam makan siang dengan memakan bekal buatan ibunya Kevin ditemani dengan sekotak susu vanilla dan sahabat kuningnya. Sembari mendengar celotehan Kevin ia akan membuka sebuah novel tebal, bebarengan dengan menyuapkan nasi kedalam mulut kecilnya.


Sementara itu Kevin yang kesal dengan kemampuan multi tasking sahabat masa kecilnya itu memutuskan untuk menyuapi Lilly sembari menasehatinya. Walaupun ternyata nasihatnya hanya dianggap amgin lalu oleh gadis manis itu. masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.


Namun sungguh disayangkan, sekarang ini Kevin melupakan bekal makan siang mereka berdua dimeja makan. Padahal ibunya sudah menyiapkan bekal versi jumbo dengan menu baru yaitu cumi pedas manis. Itulah kenapa Lilly terdampar disini, bersama sahabat kuningnya dan perusuhnya.


Ah, dasar si kuning sialan. Tak tahukan dia betapa enaknya masakan ibunya!, ujar Lilly dalam hati


“Lihat saja nanti.”


Lagi-lagi Lilly menghela nafas panjang, merasa kesal dengan jawaban tanpa penjelasan dari gadis itu.


Ia mengumpat dalam hati mengapa perempuan seperti Rose sulit sekali sih menjelaskan apa yang akan terjadi nanti. Padahal kalau langsung diucapkan akan membuatnya lebih mengerti akan apa yang akan terjadi.


Tiba-tiba segerombolan siswa dengan seragam basket mendekati meja mereka. Di pimpin oleh laki-laki jangkung dengan wajah sedikit tampan. Membuat ruangan luas dominan putih itu makin ramai dari sebelumnya. Sementara itu Lilly menaikan alisnya, kebingungannya makin bertambah kala melihat gerombolan itu mendekati meja mereka dan menjulang tinggi disamping kursi Lilly yang asyik berpura-pura dengan smartphone canggihnya.


“Lebih tampan Kevin.” Rose yang duduk diseberang Lilly menggumam pelan.


“Rose.”


Kevin menyikut pinggang Lilly pelan, membuat gadis itu mengakhiri aktingnya dan segera mendongak.


“Yaa?” ujarnya sembari memasang ekspresi andalan Rose.


Sejujurnya tadi ia lupa bahwa kini ia memerankan peran Rose.


“Aku Angga, kelas unggulan tingkat 3. Aku menyukaimu, mau jadi pacarku?”


Lilly melongo, ia memalingkan wajah dan menatap Rose lamat-lamat.


‘apa yang harus aku jawab?!’


‘Katakan apa yang biasa aku katakan!’


Lilly mendengus begitu menerima jawaban dari tatapan Rose. Kini mereka berdua berbicara menggunakan tatapan. Meminimalisir terjadinya gerakan mencurigakan.


Tatapan Lilly kembali jatuh pada Angga, lelaki jangkung yang secara teknis menyukai Rose.


“Maafka-“


Perkataan Lilly terpotong karena tatapan tajam Rose yang serasa akan membunuhnya. Lilly balas menatap tajam gadis diseberang kursi.


‘Apa yang kau lakukan sialan?!’


Rose mendengus, ‘ROSE ITU TIDAK PERNAH MEMINTA MAAF TAHU!’ kira-kira itulah yang dapat Lilly tangkap dari tatapan rose yang kian menajam.


Lilly menghela nafas, ia berdiri dari duduknya. Menghadap Angga dengan jarak yang begitu dekat. Dari jarak segitu membuat ia melihat rona merah dipipi putih yang berusaha disembunyikan oleh lelaki jangkung itu.


Sekali lagi Lilly menghela nafas “Maafkan aku,” gumamnya pelan sebelum akhirnya ia mendongak.


Menatap lekat iris hazel laki laki itu.


“Apa? pfftt.” Lilly tertawa sinis, bibirnya mengukir senyum tipis.


“Begitu beraninya kau datang untuk menyatakan perasaanmu yang rendah itu?haha apa kau sedang bercanda hmm?”


Smirk.


“Katakan perasaanmu itu saat kau sudah memiliki martabat yang sepadan denganku.”


Suasana hening meliputi kantin yang sebelumnya penuh dengan keramaian sana sini. Lilly melewati Angga dengan senyum sinis yang mati-matian ia pertahankan. Dibelakangnya Kevin dan Rose mengikutinya.