
Langit mulai gelap, Resha menatap rumah yang sudah ia tempati hampir enam tahun lamanya, kini harus ia tinggalkan.
Gilbert menarik tangan Resha untuk masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan semuanya selesai. Beberapa mobil maju lebih dulu untuk mengawal mobil yang membawa Xavion dan Xavier, serta mobil Gilbert dan Resha. Enam mobil beriringan menuju bandara.
Xavier dan Xavion tampak antusias, ini pengalaman pertama mereka untuk melakukan penerbangan. Mereka takjub saat masuk ke dalam pesawat dan melihat dalam pesawat yang cukup mewah, serta hanya ada mereka berempat beserta para pengawal Gilbert yang ada di dalam.
Mereka duduk berdekatan dengan berharap. Gilbert duduk di samping Resha, dan anak-anak duduk di hadapan orang tuanya.
Pramugari membantu memakaikan sabuk pengaman untuk Xavier dan Xavion. Ia pemit undur diri setelah melakukan tugasnya.
Pesawat yang membawa mereka berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Selama di dalam pesawat Xavion menatap langit yang gelap, sementara Xavier terus berceloteh. Gilbert merasakan kehangatan yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan.
Pesawat pribadi milik Gilbert mendarat sempurna di kota Bagota. Dini hari mereka baru tiba, Xavion berjalan dengan rasa kantuk. Begitu juga dengan Xavier yang meminta di gendong oleh Resha. Namun Gilbert mengambil alih tugas istrinya, ia tidak ingin Resha ke kelelahan.
Xavier tidak protes saat tubuhnya di gendong oleh Gilbert. “Daddy, Xavier juga ingin di belikan mobil sport seperti milik Xavion.”
Gilbert menatap mata Xavier yang tertutup dengan kepalanya yang bersandar pada dada Gilbert, sepertinya anak itu mengigau. Ia tidak menyangka akan sedekat ini dengan putra keduanya, yang beberapa jam lalu menangis saat Gilbert peluk secara paksa.
Sesampainya di kediaman lama Gilbert, mereka masuk ke dalam lift untuk sampai di lantai pribadi milik Gilbert. Mereka berjalan melewati kamar yang dulu Resha tempati. Bibir Resha tersenyum kala pelayan membukakan pintu kamar untuk anak-anaknya, sepertinya Gilbert sengaja membuat dekorasi kamar untuk Xavier dan Xavion.
Kini Xavier dan Xavion tampak nyaman tidur di atas kasur terbalut selimut tebal. Resha tidak pernah menyangka akan kembali ke rumah ini.
Gilbert menarik tangan Resha untuk berjalan keluar dari kamar. Lalu masuk ke dalam kamar mereka.
Tak ada yang berubah dari kamar yang dulu Resha tempati, ia duduk di pinggiran tempat tidur menghirup aroma pengharum kesukaan Gilbert.
“Istirahatlah, besok ada kegiatan penting di pagi hari,” ujar Gilbert. Ia membuka mantel yang di kenakannya. Dan berjalan keluar dari kamar meninggalkan Resha sendirian.
Resha memilih mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur sebelum naik ke atas tempat tidur dan beristirahat.
Pagi harinya Resha terbangun karena suara ketukan di pintu. Ia merasakan tangan yang melingkar di pinggangnya. Resha menyingkirkan tangan Gilbert lalu bangkit dan melihat Gilbert yang tampak tidak terganggu dengan suara ketukan tersebut. Ia berjalan menuju pintu dan melihat kedua anaknya yang sudah bangun.
“Mommy rumah Daddy bagus sekali,” puji Xavier.
Bibir Resha tersenyum. “Xavier suka?”
Xavier mengangguk, “Apalagi kamar kita sangat luas, apa kamar Mommy juga luas?” tanya Xavier. Kepalanya sedikit menengok ke belakang Resha.
“Daddy mana?” Kali ini Xavion angkat bicara. Ia ingin segera menagih mobil sport yang di janjikan Gilbert.
“Daddy masih tidur, ada apa Xavion?”
“Katanya Daddy mau belikan mobil sport,” Xavion berbicara langsung pada intinya. Dia sudah tidak sabar.
“Nanti Daddy pasti belikan,” jawab Resha.
Gilbert berdiri di belakang Resha. “Mobilnya sudah ada di depan, kau bebas memilih salah satunya. Xavier jika mau boleh memilih juga.”
Wajah Xavion dan Xavier sangat semringah. Mereka berlari untuk masuk ke dalam lift di ikuti dua pengasuh mereka. Lain halnya dengan Resha yang tampak terkejut, ia tidak menyangka jika Gilbert akan secepat ini mengabulkan permintaan anak-anak.
Dua pelayan menghampiri Resha dan Gilbert, pelayan tersebut membungkuk memberi hormat. “Mari Nyonya ikut kami.”
Resha menatap Gilbert dengan wajah penuh tanda tanya.
“Ikut saja,” jawab Gilbert.
Resha akhirnya berjalan mengikuti pelayan tersebut, ia di bawa ke sebuah ruangan seperti salon. Pelayan tersebut mulai melakukan tugasnya untuk dari ujung rambut hingga ujung kuku.
“Mari nyonya, saatnya berganti pakaian,” ujar pelayan tersebut tangannya mempersilahkan Resha untuk masuk ke dalam ruangan ganti. Ia melihat sebuah gaun putih yang sangat indah.
Bibir Resha tersenyum melihat gaun indah tersebut. “Mari Nyonya kami bantu pakaikan,” ucap pelayan. Mereka tidak punya banyak waktu, apalagi Gilbert tidak suka keterlambatan.
Usai mengenakan gaun tersebut Resha menatap dirinya di cermin, gaun yang sangat indah dan melekat sempurna di badan Resha. “Acara apa yang akan aku hadiri?” Resha bertanya karena penasaran, baju yang ia pakai terlihat seperti gaun pengantin yang sangat indah.
“Nona akan tahu setelah kita sampai,” jawab pelayan dengan ramah sambil tersenyum.
Ken datang dari arah belakang. “Mari Nyonya kita harus segera berangkat.”
Resha mengangguk dan mengikuti Ken keluar dari rumah menuju mobil yang terparkir.
Ken membukakan pintu untuk Resha.
“Gilbert dan anak-anak di mana?” Tanya Resha saat melihat pintu mobil yang di buka Ken tampak kosong.
“Sudah berangkat lebih dulu,” jawab Ken.
Resha masuk ke dalam mobil. Ia sangat hafal betul jalan yang mereka lewati menuju kawasan Red Bold. Benar saja mobil yang di Kendarai Ken masuk ke dalam gerbang. Resha tidak melihat perubahan yang cukup signifikan, semuanya sama seperti lima tahun yang lalu.
Ken memarkirkan mobilnya di gedung aula yang di buat khusus untuk Gilbert jika mengadakan pesta untuk memperingati perayaan tahunan. Namun pesta kali ini di dekorasi tampak seperti sebuah pernikahan yang cukup mewah dengan hiasan bunga asli yang membuat ruangan terasa sangat wangi, sesuai permintaan Gilbert.
Ken membukakan pintu mobil untuk Resha. Resha keluar dari dalam mobil, heels putih yang ia pakai menapaki karpet merah yang tergelar.
Jantung Resha sedikit berdebar, ia melangkahkan maju untuk masuk ke dalam gedung. Dan sedikit tersipu melihat wajah tenang Gilber di ujung gedung berdiri bersama Xavion dan Xavier dengan tuksedo yang memiliki warna hitam serasi yang membuat mereka tampak gagah.
Semua mata memandang ke arah Resha yang ada di pintu masuk. Yang hadir pada acara tersebut seluruh anggota Red Bold, untuk menyambut kedatangan Nyonya Abhivandya.
Kaki Resha melangkah dengan perlahan, ia merasa seperti mendapat sambutan atas kedatangannya kembali pada kehidupan Gilbert.
Xavion dan Xavier cukup terkesima melihat Resha yang tampil sangat cantik hari ini. “Daddy, mommy sangat cantik,” puji Xavier.
Gilbert mengangguk kecil dan tersenyum menanggapi ucapan Putranya.
Jantung Resha berdetak kencang saat kini ia berada di hadapan Gilbert. Ia menatap wajah suaminya dengan perasaan haru.
Gilbert membawa tangan Resha dan menggenggamnya. “Apa kau suka dengan pesta pernikahan kita yang tertunda ini?”
Pipi Resha bersemu merah, ia tidak menyangka Gilbert menyiapkan ini semua. “Terima kasih?”
Gilbert mencondongkan tubuhnya hingga bibirnya berada tepat di telinga Resha. “Semua ini tidak gratis, kau harus membayarnya dengan kehadiran anak ketiga kita.”
_-Tamat-_
Halo semuanya, terima kasih sudah mengikuti kisah Resha dan Gilbert ☺️
Berat sekali perpisahan ini, aku akan rehat sebentar sebelum kembali melanjutkan perjalanan Xavion dan Xavier yang akan menetap di kota Bagota.
Nanti aku akan kabari jika mereka sudah muncul ke permukaan, jadi jangan hapus dari favorit kalian ya supaya dapat notifnya.
Terima kasih atas dukungan kalian, aku sangat senang dengan kehadiran kalian yang secara sukarela memberikan aku semangat.
Sampai jumpa di karyaku yang lainnya, love u all 💕