
Gilbert menutup teleponnya ia memandang wajah Resha, berusaha menilai wajah Resha. Meskipun wajah kekasihnya tampak datar, namun Gilbert melihat gerakan mata Resha yang tampak tidak tenang.
Kapal berhenti, merek sudah tiba di tempat memancing. Gilbert mengambil tongkat pancing miliknya, memasang umpan lalu melemparkannya ke laut.
Pikiran Resha sedikit kacau, tapi ia harus tetap tenang. “Kau tidak akan kembali untuk menghadiri acara pemakaman Nilson?” Tanya Resha penasaran.
“Untuk apa menghadiri acara pemakaman seorang pengkhianat, membuang-buang waktu saja.”
Resha setuju dengan ucapan Gilbert. Kini tak ada lagi yang akan menghalangi jalan Resha. Dirinya hanya perlu berusaha lebih keras untuk mempelajari posisi Gilbert, dan tinggal membunuh Gilbert yang memimpin Red Bold.
Resha tidak ahli dalam memancing, namun ia mengambil tongkat pancing dan melakukan hal yang sama seperti yang Gilbert lakukan. Resha merasakan pancing miliknya bergerak, “Sepertinya aku dapat sesuatu,” ucap Resha.
Gilbert melirik Resha yang memegang tongkat pancing dengan sangat kuat. Ia segera membantu Resha. Tarikan dari ikan di bawah sana cukup kuat, Gilbert memutar rel dengan sangat perlahan. Yang ia takutkan senarnya putus dan ikannya terlepas.
Resha yang tidak tahu apa-apa akhirnya memilih diam, ia membiarkan tongkat pancing miliknya di ambil alih oleh Gilbert.
Tenaga ikan yang cukup kuat membuat senar terbaik milik Gilbert putus. “Sial,” maki Gilbert.
Resha mengambil alih tongkat pancing dari tangan Gilbert dan melemparkannya ke bawah.
Gilbert menatap wajah Resha yang terkena terik matahari. “Wajahmu memerah, kau kepanasan?”
“Iya, bisa kita akhiri ini?” tanya Resha.
“Kita belum mendapat ikan satu pun,” jawab Gilbert. Menolak dengan halus keinginan Resha.
“Kalau begitu kau saja yang memancing, aku akan tunggu di dalam.”
Gilbert menarik tangan Resha yang hendak pergi. “Satu kali lagi setelah itu kita kembali.”
Dengan sangat terpaksa Resha duduk di kursi yang sudah di sediakan para pelayan. Ia kembali mengambil umpan dan memasangnya pada kail, lalu melemparnya ke lautan.
Gilbert melirik kekasihnya, entah apa yang merasuki Gilbert hingga ia membawa Resha pergi memancing alih-alih melakukan hal romantis yang seharusnya di lakukan oleh sepasang kekasih.
Rambut panjang Resha yang terurai bergerak ke sana kemari terkena terpaan angin. Mentari mulai naik semakin tinggi hingga tepat berada di atas kepala. Resha melemparkan tongkat pancing miliknya dengan kesal, ia menghampiri Gilbert dengan wajah kesalnya. “Ayo cepat kembali!” ketus Resha. Kesabarannya sudah habis, Resha tidak bisa lagi menahan rasa panas dari teriknya matahari.
Gilbert bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Resha. Tangannya menempel pada pipi Resha yang memerah karena terik matahari. “Kau sangat menggemaskan.”
Mata Resha membola mendengar ucapan Gilbert. “Ini bukan saat yang tepat untuk bercanda, ayo kembali.”
“Kau takut kulitmu menjadi hitam?”
“Apa kau ingin membakarku dengan terik matahari yang menyengat ini, hingga kulitku gosong?” ucap Resha mengajukan pertanyaan, alih-alih menjawab pertanyaan Gilbert.
Gilbert menatap pria yang berdiri di belakang Resha. Pria tersebut sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun, ia sudah tahu keinginan Gilbert. Ia menunduk hormat sebelum pergi menemui nahkoda.
“Jangan marah,” ucap Resha. Ia memeluk tubuh Gilbert. “Aku tidak suka berada di bawah terik matahari.”
“Aku akan memasak untukmu,” rayu Resha.
Gilbert sangat tertarik dengan tawaran Resha, dan memilih mengalah meskipun kegiatan memancingnya kali ini tidak membuahkan hasil.
Kapal berhenti setelah sampai di tujuan. Resha dan Gilbert turun dengan langkah yang beriringan. Mereka masuk ke dalam rumah. Dua pelayan menyambut kedatangan Gilbert.
Resha dan Gilbert melewati dua pelayan tersebut, dan berjalan menuju dapur. Resha membuka lemari pendingin. Ia mengambil dua ikan kakap merah.
Satu orang pelayan menghampiri Resha. “Ada yang bisa saya bantu Nona?”
“Tolong ambilkan tepung dan kentang,” jawab Resha. Ia mengambil pisau dan talenan. Resha memasukkan ikan yang masih beku ke dalam wadah berisi air.
Pelayan memberikan kentang dan tepung yang Resha minta. Resha mengupas kentang dan memotongnya.
Gilbert duduk di pantry menyaksikan kesibukan kekasihnya. Ia suka dengan kelincahan tangan Resha yang memegang pisau.
Setelah memotong kentang Resha mencucinya lalu merebusnya. Resha mulai menyiapkan adonan untuk tepung basah. Ia memang tidak pandai memasak, tapi Resha cukup menyukai kegiatan di dapur. Resha memasukkan garam, merica, paprika, mustard untuk adonan tepungnya. Resha mengambil bir dan menuangkannya ke dalam wadah tepung, setelah di rasa cukup Resha mengaduk-aduk hingga rata. Adonan tepung cair sudah siap, ia beralih pada ikan.
Resha memastikan ikannya sudah tidak beku. Ia menyimpan satu ikan di atas talenan. Resha mulai menyayat daging ikan.
Gilbert memperhatikan ketekunan Resha yang menyayat ikan. Dua ikan telah selesai di sayat oleh Resha. Gilbert memperhatikan Resha yang mulai menguliti ikan.
Resha membawa ikan tersebut dan memasukkan ke dalam tepung basah. Tangannya yang cekatan mengambil wajan dan mengisinya dengan minyak.
Resha mengangkat rebusan kentang yang mulai empuk. Lalu meniriskannya.
Setelah di rasa panas, Resha memasukkan daging ikan yang sudah ter lumuri tepung basah ke dalam wajan.
Resha menyiapkan penggorengan lain untuk menggoreng kentang. Masakan Resha sudah jadi ia menatanya di atas piring.
Resha membawa dua piring Fescado Frito (ikan goreng) ke hadapan Gilbert. Pelayan mengambilkan air minum untuk Gilbert dan Resha.
Gilbert cukup takjub dengan masakan Resha. Ia pikir Resha tidak bisa berkutat di dapur. Warna ikan goreng yang terlumuri tepung sangat cantik. Ia mengambil pisau dan garpu untuk mencicipi masakan Resha. Menurut Gilbert masakan Resha tidak begitu buruk.
Paula yang melihat keasyikan Gilbert dan Resha tidak bisa tinggal diam. Ia duduk di samping Gilbert, mengambil piring milik Gilbert dan memakannya.
Kelakuan Paula berhasil mengundang tatapan sinis Resha. “Tidak bisakah wanita itu pergi saja dari dunia ini!” Batin Resha.