
Gilbert bangkit dari berlututnya. Ia berdiri di belakang Resha memasang kalung pada leher Resha yang kini resmi menjadi calon istrinya.
Resha memperhatikan kalung yang melingkar di lehernya. Wajah Resha tersenyum ke arah Gilbert. “Terima kasih.”
Langit yang berwarna biru cerah, matahari yang mulai muncul malu-malu, serta udara pagi yang segar menjadi saksi Resha di lamar oleh kepala mafia yang memegang kekuasaan di Red Bold.
Gilbert menarik tubuh Resha mendekat, memberikan kecupan singkat di bibir tipis calon istrinya. Mereka saling pandang dengan wajah yang menunjukkan kebahagiaan. Meskipun Resha merasa memaksakan diri untuk terlihat bahagia, tetapi di dalam lubuk hati terdalamnya ia memang sangat bahagia.
Resha menggandeng tangan Gilbert, dan mereka berjalan menuju meja makan yang berada di belakang kelopak bunga yang bertuliskan Will you marry me.
Gilbert menarik kursi untuk duduk Resha, ia mengambil serbet dan menyimpannya di atas paha Resha. Ia duduk pada kursi yang ada di hadapan Resha.
Resha melihat ke sekeliling, sangat sunyi dan segar. Ia tidak menyangka Gilbert akan melakukan hal ini tanpa penjagaan yang ketat.
Manik Resha menatap menu sarapan pagi yang ada di meja, Arepa paisa dengan isian keju, daging, telur. Hal menarik yang membuat Resha tersenyum ia melihat makanan yang menyerupai bentuk buah persik. Resha mencoba memakannya. Rasanya seperti bakpao dengan isian selai kacang merah. “Kenapa ada bakpao menggemaskan ini di menu sarapan kita?”
“Ini bakpao berbentuk buah persik. Buah persik ini melambangkan panjang umur dan keabadian, cocok untukmu yang ulang tahun hari ini.” Gilbert juga ikut mencobanya, rasanya manis dan lembut.
Resha suka dengan jawaban Gilbert. Ia menghabiskan bakpao tersebut. Lalu beralih pada Arepa Paisa. Menu sarapan kali ini memang terlihat biasa, namun di dukung dengan pemandangan yang indah serta udara yang sejuk membuatnya terasa lebih istimewa dari sarapan pagi di rumah.
Selesai sarapan pagi seorang pelayan mengantarkan segelas susu, kopi dan camilan manis. Lalu ia kembali meninggalkan Gilbert dan Resha menikmati momen pagi mereka tanpa gangguan sedikitpun. Resha cukup betah melihat pemandangan yang indah ini.
“Aku sudah mempersiapkan pernikahan kita,” ujar Gilbert.
Resha yang sedang menikmati pemandangan segera mengalihkan perhatiannya. Kini ia menatap Gilbert dengan wajah serius.
“Kita akan menikah bulan depan.”
Ucapan Gilbert cukup membuat Resha terkejut, ia tidak percaya jika Gilbert sangat serius dengan keinginannya untuk menikah. “Sepertinya itu terlalu cepat,” jawab Resha. Meskipun ia tahu Gilbert akan mati malam ini di tangannya.
“Benarkah, tapi aku ingin segera menjadikan kamu istriku.” Gilbert menjentikkan jari sebanyak dua kali. Seorang pria berpakaian rapi yang belum pernah Resha lihat mendekat ke arah meja mereka. Pria tersebut mengeluarkan lembaran kertas dan menyerahkannya pada Gilbert.
Resha mendapat tatapan Gilbert yang memberi perintah untuk mengambil surat yang ada di hadapannya. Surat pernikahan? “Bukannya tadi kau bilang kita akan menikah bulan depan?”
“Pestanya bulan depan, tapi aku ingin resmi menikah denganmu saat ini juga.” Gilbert menyerahkan bolpoin pada Resha untuk menandatangani surat tersebut.
Resha berpikir sejenak, ini akan sangat menguntungkan. Jika ia benar-benar menjadi istrinya Gilbert dengan mudah seluruh kekayaan dan kekuasaan Gilbert akan jatuh ke tangan Resha tanpa hambatan sedikit pun.
Gilbert membalas tatapan Resha yang menatapnya. Ia mengangguk pasti agar Resha yakin dan segera menandatangani surat pernikahan mereka.
Resha segera membubuhkan tanda tangannya, kini ia resmi menjadi istri Gilbert Abhivandya. Sepertinya Resha tidak mungkin membunuh Gilbert secepat ini. Demi keberhasilan setidaknya Resha akan membiarkan Gilbert hidup satu bulan ke depan. Tidak bisa Resha ungkiri, ia juga ingin merasakan menjadi istrinya Gilbert.
Resha mengembalikan berkas tersebut pada Gilbert. Gilbert ikut menandatanganinya, lalu memberikannya pada pria di sampingnya.
Pria tersebut membungkuk memberi hormat, lalu berjalan meninggalkan Resha dan Gilbert.
Matahari mulai naik, Resha dan Gilbert meninggalkan tempat tersebut. Mereka masuk ke dalam helikopter.
Gilbert menarik tangan Resha, menggenggam dengan erat tangan istrinya.
Resha memperhatikan tangannya yang di genggam Gilbert berada di atas paha suaminya. Ada debaran aneh serta rasa senang yang menyeruak di hari Resha.
Helikopter mendarat. Resha serta Gilbert masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput mereka. Resha meminta berhenti di supermarket tempat. Ia akan mengambil racun yang di simpan oleh orang suruhan hitam. Resha tidak mungkin membatalkannya secara sepihak setelah perjanjian di sepakati.
Gilbert tidak ikut turun, matanya menangkap orang suruhannya yang menyamar ikut masuk ke dalam menyusul Resha. “Jangan berbuat hal yang tidak-tidak lagi Resha, sekarang kau telah resmi menjadi istriku,” batin Gilbert.
Resha masuk ke supermarket ia berjalan menuju rak makanan dan minuman lalu terakhir ia pergi ke bagian suplemen. Ada sebuah suplemen dengan warna bening, persis seperti yang ia lihat di video. Resha hanya perlu menemukan kode miliknya agar tidak salah ambil. Setelah memastikan kode racun miliknya Resha segera membayar ke kasir dengan beberapa minuman serta camilan.
Resha memasukkan racun untuk Gilbert ke dalam tasnya. Ini memang berisiko tapi Resha tidak ingin rugi, karena ia sudah membayar Hitam. Serta ia juga tidak sempat untuk menghubungi hitam agar dapat di jadwalkan ulang pengiriman racunnya. Kini Resha berisiko tinggi membawa obat tersebut ke kediaman Gilbert.
Tidak ingin membuat Gilbert menunggu lama ia kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Gilbert. Resha sudah tidak canggung lagi, dengan berani ia menyandarkan kepalanya pada bahu Gilbert.
Gilbert mengenakan hedset di telinganya, ia mendengar orang kepercayaannya mengatakan bahwa mereka sudah menjalankan semuanya sesuai rencana. Hanya tinggal menunggu hasil lab mengenai isi kandungan yang ada di dalamnya untuk memastikan tujuan Resha memesan barang ilegal tersebut tanpa sepengetahuan Gilbert.
Sesampainya di rumah Gilbert menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar.
“Kau istirahat saja, ada hal yang perlu aku urus,” ujar Gilbert.
Resha mengangguk, ia masuk ke dalam kamar. Resha segera mencari tempat persembunyian yang aman untuk racun yang ia bawa agar tidak ketahuan.
Gilbert masuk ke ruang kerjanya di ikuti orang kepercayaan Gilbert. Pria itu bernama Ken.
Ken menyerahkan hasil lab kepada Gilbert. Gilbert mengepalkan tangannya melihat hasil lab tersebut yang menyatakan bahwa suplemen tersebut berisi racun hasil racikan yang cukup mematikan.