Trapped In Mafia Love

Trapped In Mafia Love
Bersembunyi



Gilbert yang duduk di kursi kerjanya melirik ponsel miliknya yang tergeletak di meja tepat di samping tangannya. Dengan malas Gilbert mengangkat panggilan video yang di lakukan Paula.


“Gilbert,” teriak Paula dengan wajah sedihnya.


Gilbert hanya menjawab dengan deheman. “Kenapa semua ATMku tidak bisa di pakai?”


“Itu hukuman buatmu.” Gilbert menampilkan wajah datarnya, ia menatap wajah Paula yang muncul di layar ponselnya.


“Kenapa tidak bilang padaku, aku tidak akan berbelanja sebanyak ini. Bagaimana aku bisa membayarnya?” Paula tidak mungkin meminta bantuan pada temannya, hanya Gilbert satu-satunya penghasil keuangan Pula selama hidupnya.


“Itu urusanmu sendiri Paula.”


“Kuliahku?”


“Aku akan mengurus semua biaya pendidikanmu, tapi tidak dengan gaya hidupmu.” Selama ini Gilbert menganggap Paula seperti adiknya sendiri. Mereka sama-sama tidak memiliki orang tua. Hanya saja dulu Paula tinggal di panti asuhan, sementara Gilbert di adopsi sejak usia satu tahun oleh Thomas.


“Bisakah aku menerima uang pembayaran kuliahku sekarang juga?” Tanya Paula dengan wajah yang memohon.


“Tidak.”


“Aaaa Gilbeeeert tolong aku,” rengek Paula. Ia harus berhasil membujuk Gilbert. Bahkan Paula menunjukkan mata menggemaskan miliknya agar Gilbert iba.


“Cih, dasar wanita itu,” batin Gilbert. Ia menutup teleponnya. Ia tidak masalah mengeluarkan uang sebanyak apa pun untuk Paula. Namun ia juga tidak mungkin membiarkan Paula bergantung terus menerus.


Gilbert mengingat pertemuan pertama mereka.


_-Flashback-_


Saat itu Paula masih sangat kecil, tubuhnya di balut pakaian yang cukup lusuh. Karena dulu panti asuhan tempat Paula tinggal tidak mendapat santunan untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anak yang jumlahnya sangat banyak.


Pagi itu Gilbert keluar dari depan toko roti. Langsung di hadapkan oleh tubuh kurus Paula.


“Bolehkah aku meminta makananmu?”


Gilbert tidak pernah tahu rasanya kelaparan dan sulit mendapatkan makanan. Tangan Gilbert merogoh kantong plastik yang di pegangnya, ia memberikan satu buah roti pada Paula. Ibu Gilbert yang keluar dari toko roti melihat pemandangan seperti itu sangat senang.


Gilbert merasakan elusan di puncak kepalanya dan menengok ke belakang, ternyata sang ibu. “Maafkan aku Bu,” ucap Gilbert menyesal.


Ibu Gilbert yang memegang kantong kresek berisi bahan pokok. Ia memberikan kantong tersebut pada Paula. “Ambilah dan bawa pulang.”


Wajah Paula tampak gembira, bahkan berlinang air mata mendapatkan pertolongan dari orang yang sangat baik padanya. “Terima kasih, semoga tuhan membalas kebaikan kalian,” ucap Paula dengan tulus.


Setelah kepergian Paula Gilbert memandangi wajah sang ibu. “Apa ayah tidak akan marah Bu?”


“Tidak apa-apa ibu bisa menanganinya.”


Sepanjang perjalanan Gilbert cukup ketakutan, ia takut Thomas tahu dan memarahi ibunya. Thomas menanamkan prinsip untuk tidak memberi sedikit pun uang pada orang lain.


Pandangan Gilbert tertuju pada tubuh seorang anak kecil yang bersujud di kaki Thomas.


Istri Thomas berlari dan mengangkat tubuh anak kecil yang ia berikan bahan pokok.


Gilbert tidak berani mendekat, tubuhnya membeku di tempatnya. Saat ayahnya menendang tubuh ibu Gilbert dan Paula.


“Harus berapa kali aku peringatkan kalian untuk tidak membagi harta kita!”


Gilbert hanya diam memperhatikan pertikaian ibu dan ayahnya. Serta Paula yang tidak berhenti menangis, sejak saat itu ibunya tidak pernah mendengar lagi ucapan suaminya. Bahkan Gilbert sangat ingat betul setelah kejadian itu ibunya sering mengajak Gilbert untuk mengunjungi Paula serta beberapa panti asuhan di daerahnya untuk memberikan bantuan. Namun hal itu juga yang membuat ibunya memilih pergi bersama anaknya. Meninggalkan Gilbert bersama Thomas.


Setelah kepergian Ibunya, Gilbert mulai dekat dengan Paula. Namun ia tidak pernah memberikan sedikit pun uang pemberian Thomas karena takut. Beruntungnya panti asuhan tempat tinggal Paula mengalami perkembangan yang cukup pesat, dan kehidupan anak di panti mulai terpenuhi.


Gilbert tidak pernah bergaul dengan orang lain, karena mereka semua takut berteman dengan anak Mafia. Hanya Paula yang mau menjadi temannya hingga sekarang.


Panti asuhan tempat Paula tinggal hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai sekolah menengah akhir. Saat itu Gilbert yang mulai bekerja menawarkan bantuan untuk membiayai sekolah Paula, meskipun gaji yang ia miliki sebagian besarnya di berikan pada Paula. Dan Thomas tidak pernah mempermasalahkan hal itu.


_-Flashback off-_


Lamunan Gilbert teralihkan saat mendengar pintu ruangannya di ketuk. “Masuk.”


Gilbert melihat Resha yang datang ke ruangannya. Dengan kemeja yang tampak terkena cipratan darah.


“Aku tidak berkelahi, hanya memberi sedikit peringatan,” ucap Resha menjawab raut wajah Gilbert yang penuh tanda tanya saat mata Gilbert menatap pakaian putihnya.


Gilbert memijat pelipisnya. “Kau tidak perlu turun tangan, jika hanya memberi peringatan. Perintahkan anak buahmu.”


Sepertinya Resha memerlukan bimbingan, ia tidak bisa melepaskan tanggung jawab Nilson sepenuhnya kepada Resha. “Jika kau ingin istirahat, pulang saja. Besok pagi datang tepat waktu, aku akan memberikan mentor untuk mengarahkanmu menangani pekerjaan Nilson.”


“Kau tidak akan pulang?”


“Tidak,” jawab Gilbert. Ia menyalakan komputer miliknya.


“Baiklah, sampai jumpa besok pagi tuan.” Resha membungkuk hormat dan keluar dari ruangan Gilbert.


Resha memilih pulang dengan mobil yang tadi ia pakai. Ia berhenti di sebuah supermarket dan pergi ke rak pendingin mengambil satu botol minuman. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon orang suruhannya. “Apa kalian sudah membereskan tugas yang aku berikan?”


[Bagaimana cara membereskannya, dia mati sebelum kami beraksi.]


Resha menggigit bibir bawahnya, lalu menutup teleponnya. Kepala berisi tanda tanya atas kematian Nilson dan Bryan.


Tidak ingin di curigai Resha segera membayar minumannya ke kasir. Lalu kembali masuk ke dalam mobil. “Ini tak bisa di biarkan,” batin Resha. Ia harus tahu lebih detail.


Dari tempatnya Gilbert mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja. Percakapan Resha bersama orang lain terdengar amat jelas di telinga Gilbert. “Sampai kapan kau menyembunyikan semua ini Queresha.”