Trapped In Mafia Love

Trapped In Mafia Love
Bersujud



Pelayan tersebut kembali dengan nampan berisi gelas kosong.


Resha mulai merasakan perutnya yang terasa sakit. Berlari menuju kamar dan masuk ke kamar mandi.


Gilbert yang terkejut dengan kepergian Resha ikut berlari menyusul kekasihnya. “Resha apa kau baik-baik saja?” tanya Gilbert dengan suara yang berteriak agar Resha dapat mendengarnya.


Gilbert sudah menunggu Resha di depan pintu kamar mandi selama lima menit, tapi kekasihnya belum juga keluar. Ia pergi ke luar dari kamar untuk mencari pelayan tadi. Gilbert menemukan pelayan yang membawa segelas susu tadi tengah mencuci gelas di bak cuci piring. “Apa Paula masukan sesuatu ke dalam minuman itu?”


Pelayan tersebut terkejut hingga gelas yang ia pegang jatuh. Ia mencuci tangannya dan segera berbalik badan. Tidak lupa ia menunduk hormat. “Saya tidak tahu tuan.”


“Dasar bodoh!” Gilbert mengeluarkan pistol dan membidik bagian jantung pelayanan tersebut. Dor!


Mata pelayan membelalak saat peluru mengenai jantungnya. Tubuh pelayan yang terkena tembakan mulai mengeluarkan darah. Ia memegang bagian jantungnya yang terasa sangat sakit. Tubuhnya bersujud di kaki Gilbert. “Aa-“ belum juga ucapan pelayan tersebut selesai terdengar kembali suara tembakan. Dor! Kali ini peluru tersebut meluncur pada bagian kepala pelayan yang tengah bersujud.


Paula keluar dari kamar karena mendengar suara tembakan. Ia melihat Gilbert yang sedang menodongkan pistolnya pada tubuh pelayan yang bersujud di depan kakinya. Dalam hitungan detik tubuh pelayan tersebut terguling ke samping dan Paula dapat melihat dengan jelas wajah Pelayan tersebut. Paula menutup mulut dengan telapak tangannya, ia tidak menyangka Gilbert akan membunuh pelayan yang Paula suruh untuk memberikan minuman pada Resha.


Lewat sudut matanya Gilbert melihat tubuh Paula berdiri beberapa meter di sampingnya. Gilbert berjalan menghampiri Paula. “Ikut aku!”


Suara bernada rendah namun penuh penekan yang keluar dari mulut Gilbert terdengar sangat mengerikan di telinga Paula, pasalnya ia sudah tahu jika nada suara Gilbert seperti itu artinya ia sangat marah. Akhirnya Paula pasrah dan mengikuti langkah Gilbert menuju kamar.


Gilbert menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar mandi. Ia hendak mengetuk pintu namun pintu terbuka lebih dulu.


Resha keluar dari kamar mandi ia memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Ia melirik Gilbert setelah beradu pandang dengan Paula.


Mendapat tatapan mengerikan dari Gilbert akhirnya Paula menekuk lututnya hingga tubuhnya berada di bawah Resha.


“Bersujud Paula!”


Paula merasa sangat di rendahkan oleh Gilbert. Tapi ia tidak ingin bernasib sama seperti pelayan tadi. Akhirnya Paula menyimpan kepalanya di lantai dekat kaki Resha. “Ampuni aku Resha,” ucap Paula.


Kini Resha mengerti ke arah mana pembicaraan ini. Ia mengangkat kakinya yang beralaskan sandal dan menginjak kepala Paula dengan kekuatan penuhnya melampiaskan amarahnya.


Resha menarik kembali kakinya. Perutnya terasa sakit lagi, akhirnya Resha memilih masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.


Mendengar pintu yang tertutup Paula segera bangkit dan berdiri. “Kenapa kau mempermalukan aku seperti itu?” Tangan Paula menggosok hidungnya yang perih.


“Kenapa menyalahkanku. Kamu sendiri yang membuat kekasihku kesakitan.” Gilbert tidak terima Paula membuat Resha harus bulak balik kamar mandi.


“Lihat leherku terluka karena Resha,” ucap Paula. Tangannya menunjukkan leher yang tertutup perban. “Jelas aku marah dan tidak terima, harusnya kau tahu jika aku cemburu padanya.”


“Harusnya kau tahu aku membawa wanita kemari, lalu untuk apa kau datang ke sini? Aku tidak mengundangmu. Semua yang terjadi karena ulahmu sendiri, jangan menyalahkan orang lain.” Gilbert harus sedikit tegas pada Paula, agar wanita itu tidak semakin bertingkah. Dan ia ingin Paula sadar akan posisinya.


Bibir Paula mencebik kesal. Ia berjalan pergi meninggalkan kamar Gilbert dengan perasaan marah, dan rasa sakit di hatinya.


Gilbert mengeluarkan ponselnya. Ia segera menghubungi dokter untuk mengobati sakit perut Resha.


Resha duduk di closet dengan wajah kesalnya, sementara tangannya memegangi perutnya yang terasa melilit. Resha sangat kesal dengan tingkah Paula, rasanya menginjak kepalanya saja tidak cukup. Andai Gilbert tidak melarang Resha untuk membunuh Paula, ia akan menghabisi Paula detik itu juga.


Sepertinya semua isi perut Resha sudah keluar. Setelah selesai dengan urusan perutnya ia berjalan keluar dari toilet dengan langkah pelannya. Kakinya sedikit kesemutan, ia sudah duduk di closet lebih dari dua puluh menit. Resha mengganti pakaiannya yang basah, lalu mencuci wajahnya di wastafel. Ia menepuk-nepuk pipinya agar lebih segar. Resha menatap dirinya dari pantulan cermin yang menampakkan wajah datarnya.


Gilbert kembali pengetuk pintu kamar mandi. “Resha,” panggil Gilbert. Resha keluar dari kamar mandi.


Gilbert memperhatikan wajah Resha yang sedikit pucat. “Dokter sudah menunggu,” ucap Gilbert. Ia mengangkat tubuh Resha dan merebahkannya ke atas tempat tidur. Gilbert berjalan membuka pintu kamar agar dokter dapat masuk dan memeriksa keadaan Resha.


Setelah menjalani pemeriksaan dokter memberikan beberapa vitamin untuk Resha minum. Dokter berpamitan untuk pulang. Kini di kamar hanya ada Resha dan Gilbert. Gilbert menarik selimut untuk menutupi tubuh Resha.


Gilbert merasa tidak puas dengan hukuman yang di berikan ke pada Paula, apalagi ini pertama kalinya Gilbert melihat wajah Resha yang tampak pucat. Gilbert hendak berjalan namun tangannya di tarik oleh Resha. “Aku kedinginan,” ucap Resha dengan suara pelannya.


Gilbert merebahkan tubuhnya di samping Resha, ia mendekap erat tubuh kekasihnya. Gilbert mengeluarkan ponselnya, tangannya mengetik pesan memberi perintah kepada orang kepercayaannya, untuk membawa Paula kembali ke negaranya, memblokir beberapa ATM yang ia berikan pada Paula dan jangan sampai Paula bisa lolos apalagi sampai menyakiti Resha kembali.