
“Paula,” panggil Gilbert dengan nada marahnya.
Paula dengan santai memakan ikan dengan garpunya, tanpa menggubris panggilan Gilbert.
Resha berusaha meredam rasa kesalnya, ia memilih menikmati makanan di piringnya. Bagaimana juga dirinya sudah di beri peringatan oleh Gilbert.
“Kembalikan Paula itu milikku,” Gilbert hendak mengambil piring miliknya dari hadapan Paula. Namun wanita itu dengan cepat tanggap menggeser piring sebelum Gilbert mengambilnya.
Resha menusuk potongan ikan, tangganya yang memegang garpu bergerak mendekati bibir Gilbert.
Kepala Paula menengok ke samping, dapat ia lihat Gilbert menerima suapan dari wanita yang ia ketahui namanya Queresha.
Rasa masakannya ternyata lebih enak jika di suapi oleh Resha. Gilbert kembali membuka mulutnya meminta siapa kedua. Dengan senang hati Resha kembali menyuapi kekasihnya.
Paula yang kesal membanting garpu ke atas piring hingga menimbulkan bunyi dentingan yang cukup nyaring.
Resha dan Gilbert seolah tak peduli dengan kebisingan yang di buat Paula. Resha tetap santai menyuapi Gilbert, begitu juga dengan Gilbert yang suka rela menerima suapan Resha.
“Aku ini bukan makhluk tak kasat mata yang bisa kalian abaikan begitu saja,” teriak Paula dengan nada tingginya.
Paula menusuk potongan ikan miliknya dan menyodorkannya tepat di depan bibir Gilbert yang tengah mengunyah. “Buka!” Titah Paula.
Gilbert menelan makanannya dan menerima suapan Paula. Paula menampilkan senyuman penuh ke menenangan pada Resha.
Tidak ingin terkalahkan Resha menyuapi Gilbert. Awalnya Gilbert ingin menolak namun tatapan membunuh Resha membuatnya terpaksa membuka mulutnya yang masih terisi.
Gilbert mengunyah dan menelannya. Ia segera mengambil air minum dan angkat kaki dari pantry. “Gilbert makanannya belum habis,” teriak Paula.
Resha memilih tetap duduk menghabiskan makanannya.
Paula melirik sinis pada Resha. “Aku tidak akan pernah membiarkanmu merebut Gilbert dariku.”
Resha mengangkat kepalanya dan menatap Paula. “Apa kau tidak dengar saat Gilbert memperkenalkanku? Aku kekasihnya, seharusnya kau yang lebih tahu jika Gilbert sangat mencintaiku. Bukankah kalian saling mengenal cukup lama.”
Selama ini sudah banyak yang menjadi teman tidur Gilbert. Meskipun Paula sadar jika Resha cukup berarti bagi Gilbert, selama Paula mengenalnya ini pertama kalinya Gilbert memperkenalkan wanita sebagai kekasihnya. Namun Paula tidak ingin kalah dan mencoba menekan Resha. Agar wanita itu mundur. “Kau itu hanya mainan, tidak berhak mendapatkan cinta dari Gilbert.”
Resha cukup kesal mendengar ucapan Paula, wanita itu benar-benar menguji emosinya.
“Aku tidak peduli, yang terpenting Gilbert mencintaiku.” Resha menghabiskan suapan terakhirnya. Lalu minum dan pergi meninggalkan Paula begitu saja.
Paula memotong-motong makan miliknya dengan perasaan kesal karena tidak bisa membalas ucapan Resha.
Resha pergi ke arah belakang rumah. Dari kejauhan samar-samar ia mendengar suara percikan air. Langkah kaki Resha semakin mendekat, suara percikan air semakin jelas. Kini Resha dapat melihat sebuah kolam renang berbentuk persegi yang airnya terkoyak karena gerakan Gilbert.
Kepala Gilbert muncul ke permukaan, rambutnya tampak basah dan jatuh. Pandangannya langsung tertuju pada tubuh Resha yang berada di depannya. “Mau ikut berenang?”
Resha menggelengkan kepalanya. Tubuh Resha di tarik paksa oleh Gilbert. Byuuur! Kini tubuh Resha jatuh ke dalam kolam.
Gilbert merapatkan tubuhnya dan tubuh Resha. Kekasihnya itu masih saja menampilkan wajah datarnya yang kini tampak sedikit kesal.
“Gilbert kau membuatku basah,” ketus Resha.
Gilbert tersenyum miring. “Benarkah?”
Pertanyaan Gilbert membuat Resha mengutuk ucapannya. Sepertinya kekasihnya yang hipe’rse’ks mulai mengarah ke tujuan lain.
Gilbert menyambar bibir Resha. Tangannya bergerilya menyentuh bagian yang bisa ia raba.
Paula duduk di kursi santai, menatap dua pasangan yang tengah menikmati dunianya. Melihat keagresifan Gilbert membuat Paula sedikit sadar akan posisinya. Sepertinya Paula belum berhasil membuat Gilbert jatuh ke pelukannya, apalagi kini Gilbert mencintai Resha. Kesempatan Paula untuk mendapatkan Gilbert tidak banyak.
Paula memperhatikan Gilbert yang mengangkat baju yang di kenakan Resha hingga menampilkan perut rata milik Resha yang tampak putih dan juga ramping. Dengan cepat Paula ke pinggiran kolam lalu memercikkan air ke arah Resha dan Gilbert yang belum juga melepaskan ciu’man. “Bisakah kalian berhenti dan pergi ke kamar saja!” teriak Paula.
Resha menarik diri, ia menengok ke arah Paula dan tersenyum mengejek.
Paula sangat kesal melihat senyuman Resha. “Baiklah kali ini kau menang.”
Gilbert memandang kepergian Paula, lalu menatap Resha. “Kalian main taruhan?”
Resha menggelengkan kepalanya, ia keluar dari kolam dan duduk di kursi santai. Angin berembus cukup kencang. Dedaunan dari pohon bergoyang-goyang, bahkan beberapa daun yang rapuh terbawa terbang oleh angin.
Gilbert ikut keluar dari kolam, ia mengambil handuk lalu menutupi tubuh Resha yang basah kuyup.
Resha menonggak ke atas. “Terima kasih.” Tangan Resha merapatkan handuknya, ia sangat kedinginan.
Seorang pelayan datang membawa satu gelas susu hangat. “Nona Resha ini susu hangatnya.”
“Aku tidak meminta susu hangat,” ujar Resha.
“Nona Paula yang meminta saya memberikan susu hangat untuk Nona Resha.”
Gilbert mengambil alih gelas tersebut dan membantu Resha untuk meminumnya. Ada sedikit rasa tenang dalam hati Gilbert ternyata Paula dapat menerima Resha.
Resha meminumnya sampai habis, susu hangat sangat enak di minum saat tubuh dingin. Kini tubuh Resha terasa hangat setelah meminum susu.
Dari kejauhan Paula tersenyum melihat susu yang ia campurkan dengan obat pencuci perut di habiskan oleh Resha.