Trapped In Mafia Love

Trapped In Mafia Love
Hiburan C



Malam harinya Resha terbangun, ia berada di dalam dekapan Gilbert. Mata Resha menatap wajah tenang Gilbert. Meneliti setiap inci wajah Gilbert yang tampan, ada rasa gembira dalam hati Resha. Ia pikir Gilbert akan menemaninya sebentar lalu pergi, tapi hingga malam tiba Gilbert masih memeluk tubuh Resha.


Resha merasakan tenggorokannya yang kering, ia berusaha keluar dari pelukan Gilbert.


Gilbert membuka matanya saat merasakan pergerakan dari tubuh Resha. “Ada apa?” tanya Gilbert dengan nada khas bangun tidurnya.


“Aku ingin minum,” Gilbert bangkit dari tidurnya, ia mengambil segelas air minum yang ada di atas nakas dan memberikannya pada kekasihnya.


Resha menerima dan menghabiskan minum pemberian Gilbert.


“Kita harus segera kembali,” ucap Gilbert.


“Kenapa secepat ini?” tanya Resha. Padahal mereka baru sehari di pulau ini, bahkan kegiatan mereka terganggu karena Paula.


“Nilson belum menyelesaikan urusannya dengan John. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan begitu saja.”


Resha mengangguk setuju. Malam itu juga mereka kembali ke markas Red Bold. Resha dan Gilbert keluar dari helikopter yang mendarat di atas gedung. Tujuannya kali ini menuju ruangan Gilbert. Resha mengikuti langkah Gilbert yang masuk ke ruangan. Gilbert menyambar surat jual beli dan membawanya menuju ruang khusus untuk menerima tamu.


Resha dan Gilbert masuk ke dalam ruangan. Mata Resha melirik John yang duduk di sofa dengan wajah yang babak belur. Ada lima orang yang berdiri tegap di ruangan tersebut untuk berjaga.


Gilbert duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan John, tangannya melempar surat jual beli ke hadapan John.


John mengambil surat jual beli tersebut, ia membacanya sekilas. Tak ada harapan lagi bagi John, mafia berdarah dingin yang duduk di depannya ini telah menghabisi anak serta istrinya. John mengambil bolpoin dan menandatangani surat jual beli tersebut. Seorang pria menyerahkan satu koper berisi uang ke hadapan John. Tangan John membukanya untuk melihat isi dari koper tersebut. Tumpukan uang tertata rapi di dalam koper tersebut, meskipun jumlahnya tidak sebanding dengan lahan kopi yang di ambil alih Gilbert tapi tak ada pilihan lain lagi baginya.


Saat tangan John hendak menutup, Gilbert mengeluarkan pistol. Dor! Tembakan Gilbert mengenai bola mata John. Kini mata pria itu mengeluarkan darah, tangan John mengepal. Amarah serta rasa sakit dari matanya membuatnya hendak menyobek surat jual beli yang ia tanda tangani.


Dor! Tembakan kedua Gilbert mengenai tangan John yang hendak mencoba merusak kebahagiaan Gilbert.


Sebelah mata John menatap nyalang pada Gilbert. “Bedebah sialan!” Teriak John.


Jari Gilbert kembali menarik pelatuknya, melepaskan tiga tembakan. Dor! Dor! Dor!


Gilbert senang melihat John yang memekik kesakitan di akhir hidupnya. Ia bangkit berdiri keluar dari ruangan tersebut.


Resha mengambil surat jual beli dan ikut keluar dari ruangan menyusul Gilbert. Ia berjalan di belakang Gilbert. Sesampainya di depan ruangan Gilbert para pengawal membukakan pintu untuk Gilbert dan Resha.


“Untuk apa kau ikut masuk?”


Pertanyaan Gilbert seakan menyadarkan Resha, kenapa ia ikut masuk.


“Kembali bekerja.”


Mendengar nada perintah yang keluar dari mulut Gilbert serta tatapan tegasnya membuat Resha sadar akan posisinya sekarang yang menjadi pegawai Gilbert. Ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan Gilbert.


Seorang pria menunduk hormat saat Resha keluar dari ruangan Gilbert. “Mari nona saya antar ke ruangan Nilson.”


Resha mengikuti langkah pria itu. Pria tersebut membukakan pintu ruangan Nilson untuk Resha.


“Ada yang bisa saya bantu Nona?”


“Ganti pengharum ruangannya, perut saya rasanya mual.” Resha keluar dari ruangan.


Pria tersebut segera mengganti pengharum ruangan. Setelah ruangan sudah harum dengan pewangi baru ia menghampiri Resha. “Sudah selesai nona.”


Resha masuk ke dalam dan menutup pintunya, ia meneliti ruangan Nilson yang cukup rapi. Ia berjalan menuju meja kerjanya, setumpuk berkas ada di atas meja. “Sepertinya malam ini aku sibuk,” keluh Resha.


Resha menyalakan komputer dan mengecek jadwal besok pagi untuk Gilbert. Selanjutnya Resha mencoba memulai untuk mengerjakan rutinitas seorang Asisten pribadi dari tuan mafia.


Baru satu jam Resha berkutat dengan pekerjaan Nilson kepalanya sudah terasa ingin pecah.


Resha meneliti penurunan dari laporan keuangan. Grafiknya turun cukup drastis. Resha mengambil handphone fasilitas milik Nilson. Ia mencari kontak sopir. “Siapkan mobil.”


Resha keluar dari ruangannya, ia bergegas menuju tempat parkir. Satu mobil terparkir di depan pintu masuk. Resha masuk ke dalam. “Hiburan malam C,” ujar Resha.


Hanya dengan waktu sepuluh menit kini mobil terparkir di area hiburan yang ia tuju. Resha keluar dan masuk ke dalam di ikuti sopir tersebut.


Seorang penjaga menghadang Resha. “Tolong tunjukkan kartu anda.”


Resha mengeluarkan kartu identitas miliknya sebagai karyawan Red Bold. Pria tersebut membaca setiap huruf yang ada di atas kartu tersebut. “Queresha Mavelin, personal asisten,” ucapnya di dalam hati. Yang ia dengar asisten Gilbert mati, sepertinya wanita ini yang menggantikan tugas Nilson. “Mari ikut saya.”


Resha di bawa keluar dari pintu masuk, mereka masuk lewat pintu samping menuju lantai dua.


Pria tersebut membukakan pintu untuk Resha. Ia masuk dan langsung menatap sekelompok orang yang tengah bermain kartu. “Saya ingin berbicara dengan penanggung jawab tempat ini.”


Semua orang memandang remeh pada Resha, ternyata seorang wanita yang menggantikan tugas Nilson. Mereka kembali pada kegiatannya bermain kartu, bahkan ada yang santai menyesap minuman dan merokok.


Resha menghampiri seorang pria yang tengah santai memegang kartu di tangannya. Resha menarik rambut pria tersebut tanpa belas kasihan. “Kau sudah membuat rugi perusahaan masih bisa bersantai, mati saja kau!”


Pria tersebut memberikan perlawanan menarik kepalanya hingga rambutnya tertinggal di tangan Resha. Ia mengeluarkan pistol dan menodongkannya tepat di kepala Resha. “Kau yang mati saja, wanita bodoh.”


Wajah datar Resha tersenyum mengerikan. Membuat beberapa orang yang menyaksikan terlihat ngeri dengan ekspresi yang di tunjuk Resha.


Resha menempelkan kepalanya pada ujung pistol pria tersebut. “Tembak jika kau bisa.”


Mendengar ucapan yang merendahkan martabatnya, pria tersebut hendak menarik pelatuk miliknya.


Secepat kilat Resha mengeluarkan Jagdkommando miliknya dan menancapkan di bahu pria tersebut. Tangan pria yang memegang pistol merasa sakit, bahkan ia tidak sanggup menarik pelatuk pistol miliknya.


Resha menekan lebih dalam Jagdkommando miliknya, dan memutar Jagdkommando miliknya memberikan luka yang lebih lebar.


Wajah pria tersebut kesakitan bahkan pistol yang ada di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai.