Trapped In Mafia Love

Trapped In Mafia Love
Senyuman Terakhir



Tidur Resha merasa terganggu oleh kecupan di pipinya yang terus berulang-ulang. Akhirnya Resha membuka kelopak matanya dan terkejut melihat wajah Gilbert berada tepat di depannya.


“Happy birthday,” ucap Gilbert.


Tanpa Gilbert sadari tangan Keisha mengepal, tak ada kebahagiaan di hari ulang tahun yang ada di akta Queresha Mavelin. Karena tanggal lahir yang ada di sana tanggal sekaligus bulan kematian orang tuanya. Resha sengaja memakai tanggal itu agar terus ingat akan dendamnya dan kini seorang pria mengucapkan selamat ulang tahun di hari yang Resha benci. Untuk menunjang keberhasilannya, bibir Resha tersenyum. Ia mengecup pipi Gilbert. “Terima kasih.”


Gilbert bangkit dari membungkuknya, tangannya mengambil kue ulang tahun dari atas nakas. “Tiup lilin?”


Resha bangkit dari tidurnya, ia duduk mendekatkan wajahnya ke depan kue. Ia memejamkan matanya untuk berdoa sebelum meniup lilin. “Elizabetu Mustamu sebentar lagi dendammu akan terbalaskan,” batin Resha. Ia meniup lilinnya.


Gilbert mencabut lilinnya, ia mengambil pisau kue dan memberikannya pada Resha.


Resha memotong satu bagian kue dan menaruhnya ke pisin. Ia mengambil garpu dan menusuk kue tersebut. “Suapan pertama untuk orang yang berarti di hidupku.”


Gilbert terharu mendengar ucapan kekasihnya, ia menerima suapan dari Resha. Tangan Gilbert mengambil garpu lainnya dan menyuapi Resha.


Resha beranjak dari tempat tidurnya. “Aku ke kamar mandi sebentar ya,” pamit Resha.


Resha masuk ke dalam kamar mandi, wajahnya yang tersenyum gembira kini berubah menjadi datar. Ada amarah yang tersimpan di dalam benak Resha. Orang tuannya Resha mengepal erat. “Kau terlalu bodoh Gilbert,” batin Resha.


Resha mencuci tangan dan wajahnya. Ia mengambil handuk untuk mengeringkan wajahnya. Resha menghela nafasnya. Ia memejamkan kan matanya. Kelopak mata Resha kembali terbuka bersamaan dengan bibir yang tersenyum. Ia berjalan keluar dengan wajah cerianya seperti biasa.


Resha menatap Gilbert yang malah rebahan di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya. “Ayo tidur lagi,” ajak Gilbert.


Resha naik ke atas tempat tidur, ia ikut merebahkan tubuhnya dan bersembunyi di balik selimut tebal. “Kenapa tidur lagi, besok hari libur? Kita bisa menghabiskan malam ini bersama.”


“Aku mengantuk, lagi pula besok kita masih tetap bisa menghabiskan waktu bersama juga.” Elak Gilbert, ia ingin momen besok menjadi momen yang terukir indah di ingatan Resha.


Sebelum matahari terbit Gilbert membangunkan Resha. “Sayang,” panggil Gilbert di telinga Resha.


Resha terbangun dari tidurnya. “Ada apa?”


“Ayo bersiap, kita harus pergi ke suatu tempat.” Resha bangkit dari tidurnya lalu duduk sejenak untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya.


Resha pergi membersihkan tubuhnya, lalu bersiap untuk pergi. Ia memasukkan pisau lipat miliknya ke dalam tas yang di bawa. Resha teringat jika Hari ini jadwalnya bertemu dengan orang suruhan hitam untuk mengambil racun.


Resha keluar dan menemui Gilbert. “Aku sudah siap, memangnya kita mau ke mana?” Tanya Resha penasaran.


“Kita sarapan pagi di luar,” jawab Gilbert.


Dengan waktu tempuh lima belas menit kini mereka sampai di landasan helikopter. Resha merasakan kejanggalan, jika hanya ingin pergi sarapan mengapa harus naik helikopter. “Ini tidak salah, kita naik helikopter?”


Gilbert mengangguk. Ia membawa tangan Resha untuk berjalan mengikutinya masuk ke dalam helikopter. Helikopter mulai naik meninggalkan landasan. Gilbert mengambil penutup mata untuk Resha. “Aku pakaian ini ya,” ucap Gilbert meminta izin.


“Sebenarnya kita mau ke mana? Bukankah hanya sarapan pagi saja?” Keisha memberondong pertanyaan pada kekasihnya.


“Karena ini hari ulang tahunmu, aku ingin mengawali sarapan pagi dengan sesuatu yang spesial.”


Resha menurut saja saat Gilbert memasangkan penutup di matanya. “Apa ini tidak berlebihan, semalam kau sudah merayakan ulang tahunku?”


“Tidak Queresha, mengurus ini hanya hal kecil bagiku.”


Helikopter mulai mendarat di landasan. Tidak jauh dari tempat landasan ada sebuah restoran berlantai yang cukup mewah, dengan pandangan yang cukup indah.


Gilbert menuntun Resha untuk berjalan. Kalian jangan remehkan Queresha, meskipun matanya tertutup sempurna namun indra penciumannya cukup tajam, ia mencium aroma wangi bunga yang cukup dominan.


Gilbert membawa Resha masuk ke restoran. Tepat di ujung jalan Gilbert membuka penutup mata Resha.


Resha membuka matanya dengan perlahan, manik Resha di manjakan dengan pemandangan pengunjung dan perbukitan hijau yang memanjakan mata Resha. Resha merasakan embusan angin, serta udara yang sangat segar. Dari tempatnya berdiri ia melihat matahari mulai terbit.


Resha membalikkan badannya dan terkejut melihat Gilbert berlutut di depannya menyerahkan sebuah kotak perhiasan berisi kalung. Pandangan Resha tertuju pada tulisan ‘will you marry me’ dari kelopak bunga mawar.


“Queresha Mavelin, mau kah kau menikah denganku?”


Ada letupan rasa bahagia di dalam hati Resha, hal yang di lakukan Gilbert sangat romantis baginya. Resha benci hatinya yang ingin mengatakan iya, namun kepalanya menyuruh Resha menolak. Meskipun ia menerima lamaran Gilbert semuanya hanya percuma, karena hari ini Resha sudah merencanakan kematian Gilbert.


Kali ini pilihan hati Resha yang menang, bibirnya tersenyum. “Iya, aku mau menikah denganmu Gilbert Abhivandya.”


***


Halo semuanya ☺️


Setelah libur dua hari akhir otakku jernih kembali.


Aku mau mendengar dari sudut pandang kalian. Jika kalian ada di posisi Resha yang menyimpan dendam terhadap Gilbert, dan ingin membunuhnya. Namun malah hamil dan bahkan di lamar sekaligus. Langkah apa yang akan kalian ambil melanjutkan niat balas dendam atau memilih melupakan dendamnya untuk hidup bahagia?


Aku tunggu jawabannya di kolom komentar 💕