Trapped In Mafia Love

Trapped In Mafia Love
Melepaskan



Di ruang depan Xavier tampak memunggungi tubuh Gilbert dengan tangan yang di lipat di depan dada. Sementara Gilbert menusuk-nusuk punggung Xavier dengan telunjuknya. “Xavier,” panggil Gilbert dengan suara kecilnya agar anak itu tidak takut padanya.


Xavier maju satu langkah agar Gilbert tidak dapat menjangkaunya. Bukan Gilbert namanya jika menyerah begitu saja, ia kembali menusuk-nusuk punggung Xavier dengan telunjuknya. Begitu juga dengan Xavier yang kembali maju satu langkah.


Ken yang menjadi saksi bisu di ruang tersebut sedikit malu melihat tingkah aneh Tuannya.


Bosan dengan tingkah Xavier, akhirnya Gilbert memeluk tubuh mungil Xavier dengan sangat erat. “Kau anak Dady yang paling menggemaskan,” ungkap Gilbert seraya mengangkat tubuh Xavier dengan posisi Gilbert yang bangkit dan berdiri.


“Mooooomy,” teriak Xavier dengan suara kencangnya menangis di ikuti air mata yang mengalir memanggil Resha agar membantunya terlepas dari Gilbert yang menakutkan.


Resha yang baru keluar dari pintu bersama dengan Xavion melongo melihat kelakuan Gilbert.


Xavion berlari ke arah Gilbert, ia meninju batang milik Gilbert dengan sekuat tenaganya untuk menolong sang adik.


Bugh!


Wajah Gilbert memerah menahan amarah, ia menurunkan tubuh Xavier dan menatap Xavion yang ada di depannya. “Siapa yang mengajarimu seperti itu?” tanya Gilbert.


“Momy,” jawab Xavion sambil menunjuk ke arah Resha.


Dengan cepat Resha menggelengkan kepalanya. “Tidak,” jawab Resha cepat. Ia tidak ingin kena amukan Gilbert.


Tubuh Xavier yang terlepas segera menghampiri Resha dan memeluk kaki ibunya. “Momy Xavier takut,” ucap Xavier mengadu kepada Resha.


“Kau harus bertanggung jawab, Queresha!” ucapan Gilbert terdengar seperti ancaman maut di telinga Resha.


Resha menyesal mengajari Xavion cara meninju bagian kema’Luan lawan jika terdesak. Kini dia harus bertanggung jawab atas perlakuan Xavion pada Gilbert. “Xavion minta maaf pada Daddy,” titah Resha.


Xavion merasa tidak bersalah, ia segera menggelengkan kepalanya tidak mau mengikuti perintah Resha.


Gilbert berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan Xavion. “Daddy akan mengajarkan caranya bertarung jika kita sudah kembali ke Bagota.”


“Xavion tidak mau pergi dari sini,” jawab Xavion dengan wajah serius menatap Gilbert.


“Tidak mau saja, Daddy jahat meninggalkan kami. Namun jika Daddy memberikan Xavion mobil sport, sepertinya Xavion bisa mempertimbangkannya.”


Gilbert sedikit terkejut mendengar ucapan Xavion. Ucapan putranya terdengar seperti sebuah rayuan dalam bentuk penolakan. “Baiklah, malam ini kita berangkat. Setuju?”


Bukan hanya Xavion yang terkejut, Resha sangat terkejut dengan keputusan sepihak Gilbert yang bertindak tanpa berbicara lebih dulu. “Tidak Gilbert,” tolak Resha. Ia tidak setuju dengan keinginan Gilbert yang mendadak.


Gilbert menatap Xavion lekat-lekat. “Setelah sampai di Bagota Xavion bebas memilih mobil yang kau inginkan tapi sekarang jaga adikmu dulu. Daddy perlu bicara dengan Mommy.”


Xavion mengangguk dengan patuh. Mereka berjalan menghampiri Resha yang masih berdiri di depan pintu kamar Xavion dan Xavier.


“Xavier ayo,” ajak Xavion.


Resha menurunkan tubuh Xavier, anak itu masih terlihat takut terhadap Gilbert. “Bermainlah bersama Xavion ya,” ujar Resha.


Resha memandang kedua anaknya yang akhirnya berjalan menuju tempat bermain. Kepalanya menengok ke arah bawah saat merasakan tangannya di genggam.


“Ayo.” Gilbert menarik tangan Resha untuk masuk ke dalam kamar anak-anak. Kesan pertama saat masuk kamarnya cukup rapi, namun tampak sempit. Gilbert meneliti beberapa foto saat Xavion dan Xavier masih bayi.


Gilbert menutup pintu, tangan Gilbert bergerak menguncinya.


Resha memandang wajah Gilbert dengan saksama. “Ini terlalu cepat Gilbert,” protes Resha.


“Harusnya kau yang lebih tahu jika aku tak punya banyak waktu,” jawab Gilbert. Tangannya bergerak meraba pipi Resha yang tidak sebesar dulu saat terakhir kali mereka bertemu.


“Kau tidak merindukanku?” tanya Gilbert.


Resha menutup kelopak matanya, ia menghembuskan nafas kesalnya. Mata Resha terbuka sempurna, tangan Resha menyingkirkan lengan Gilbert yang meraba pipinya. Ia men’cium bibir Gilbert dengan mata terpejam.


Tangan Gilbert menarik punggung Resha hingga tubuh mereka menempel sempurna. Ia membalas ciu’man istrinya dengan sangat lembut.


Resha melepaskan kerinduannya, lima tahun lamanya ia menunggu Gilbert untuk datang. Tapi pria itu hanya mengirimkan berkas dirinya yang membuktikan bahwa ia tak memiliki hubungan darah dengan Thomas. Namun tidak ada kelanjutannya seolah tak peduli, bahkan saat ia melahirkan anak-anak Gilbert Resha sudah berharap jika Gilbert akan datang dan menemaninya. Tapi harapannya pupus, sampai hari di mana ia pulang dari rumah sakit pun Gilbert tidak datang. Resha yakin Gilbert pasti tahu, jika ia melahirkan. Namun pria itu terlalu egois, dan Resha malu jika harus datang kembali pada Gilbert setelah apa yang telah ia lakukan pada pria baik hati ini. Yang sampai saat ini menempati posisi terdalam di hati Resha.