
Tepat satu bulan Resha menggantikan tugas Nilson. Ia sudah mulai memahami seluk beluk Red Bold. Bisnis hitam dan putih yang ada di bawah pimpinan Red Bold ternyata cukup banyak, bahkan tempat hiburan di pelosok Kolombia pun di pegang oleh Red Bold. Belum lagi Red bold menghasilkan uang dari penjualan barang terlarang, bahkan kini Resha tahu jika Red Bold juga memperdagangkan manusia.
Resha sudah bosan dengan tumpukan berkas di mejanya, ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tapi ia belum makan malam, padahal jam makan malam sudah terlewat. Resha keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ruangan Gilbert. Ia mengetuk pintunya lalu melenggang masuk.
Gilbert yang sudah terbiasa dengan sikap Resha mengacuhkan wanita itu dan tetap fokus pada strategi perencanaan untuk pengembangan persiapan penjualan organ.
Resha duduk di atas pangkuan Gilbert, dan mengalungkan tangannya ke leher Gilbert.
Gilbert memejamkan matanya, ia tidak suka pekerjaannya di ganggu seperti ini. “Menyingkirlah Queresha, aku sedang bekerja!”
Bukannya menyingkir Resha malah menempatkan kepalanya pada dada bidang Gilbert. Entah mengapa Resha mulai berani pada Gilbert, dan ia sudah tidak merasa canggung.
Gilbert memilih mengalah dan menutup berkasnya. Tangannya mengelus kepala Resha dengan pelan. “Ada apa sayang?”
“Aku lapar,” jawab Keisha tanpa mengubah posisinya yang bersandar di dada Gilbert.
“Bukankah itu tugasmu, untuk menyiapkan makan malam kita?” Selama ini Resha yang mengatur jadwal makan Gilbert, tapi sepertinya kekasih Gilbert sedang dalam mode berbeda. Gilbert pun sedikit heran, Queresha yang tegas kini bahkan bisa manja dan merajuk. Entah setan apa yang merasuki kekasihnya, namun Gilbert sangat senang dengan sikap baru Resha. Setelah kematian Nilson Gilbert tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan dari Resha. Tapi ia tetap harus waspada.
Resha menarik diri, dan menatap mata Gilbert dengan tajam.
Gilbert menarik dagu Resha dan menciumnya. “Baiklah ayo kita makan di luar saja.”
Sampai di tempat makan Gilbert cukup tercengang melihat deretan makanan yang memenuhi meja makan. “Kau yakin akan menghabiskannya?”
Kepala Resha menggeleng. “Aku hanya ingin mencicipinya, saat melihat menu makanan terasa sangat menggiurkan.” Resha mulai menyadari keanehan dalam dirinya. Tapi ia tidak bisa menolak keinginannya, tangannya mengambil sumpit dan mencoba mencicipi berbagai menu yang ia pesan. Tapi tidak ada yang menarik sedikit pun.
Pandangan Resha tertuju pada piring Gilbert. Melihatnya membuat air liur dalam mulut Resha memenuhi rongga mulutnya. “Aku ingin mencicipinya.”
“Bisakah kau tidak menggangguku sedikit saja?” tanya Gilbert dengan nada sedikit kesalnya. Pekerjaannya terganggu karena Resha, kini ia sedang makan pun kekasihnya itu masih saja ingin mengganggu. Padahal di meja ada sepuluh menu yang di pesan Resha, malah menginginkan makanan yang sedang di makan Gilbert.
Wajah Resha tampak datar menatap Gilbert. Ia bangkit dari duduknya meninggal Gilbert. Selera makannya hilang seketika mendapat penolakan dari Gilbert. Resha keluar dari resto berjalan tanpa arah menyusuri jalanan kota.
“Seharusnya kau tidak lupa meminum pil pencegah kehamilan, kalau sudah begini bagaimana?” Resha yang sedang menikmati makanannya menengok ke asal suara. Seorang pria yang usianya masih muda tampak marah di hadapan wanita yang memakai seragamnya.
“Kau harus bertanggung jawab dan menikahiku,” ucap wanita yang berseragam.
“Heh ja’lang, seenaknya saja. Ini salahmu, jadi kau tanggung sendiri.”
Resha cukup geram mendengar ucapan kasar pria itu. Ia berdiri dan menghampiri mereka. Tangan Resha meninju wajah pria tersebut.
Wanita yang memakai seragam cukup terkejut melihat kekasihnya terjatuh.
Pria tersebut bangkit dengan wajah yang penuh amarah. “Punya urusan apa kau berani memukulku?”
“Tidak ada, aku hanya merasa terganggu dengan ucapanmu,” jawab Resha santai.
“Kau juga wanita yang di campakkan kekasihmu karena hamil?” bibir pria itu tersenyum mengejek ke arah Resha.
Tangan Resha meninju pipi pria tersebut dengan cukup kencang, kemampuannya tidak berkurang sedikit pun pria di hadapan Resha terkapar di lantai tak sadarkan diri.
Wanita yang memakai seragam sekolah terduduk di samping kekasihnya yang kehilangan kesadaran. “Dia hanya pingsan,” jawab Resha.
Wanita tersebut menatap Resha dengan pandangan kesal. “Seharusnya kau tidak memukulkannya, aku tidak butuh kamu membelaku. Aku Memang menginginkan kehamilan ini, aku ingin dia menjadi satu-satunya pria yang akan menemani hidupku. Jadi jangan sakiti dia lagi, lebih baik kau pergi saja.”
Resha berjalan dan duduk kembali di kursinya. Malam ini jalanan cukup sepi, tak ada yang menolong pria yang di pukul Resha.
Wanita dengan seragam sekolah tampak menyadarkan kekasihnya. “Cih dasar wanita lemah,” batin Resha kesal.
Resha makan dengan sesekali melirik ke arah pasangan tersebut, tampaknya pria itu sudah sadar ia bangkit dan meninggalkan kekasihnya. Wanita itu bangkit ia menyusul sang pria. “Janin yang ada di rahimku Ini anakmu, kau ayahnya.”
Mata Resha membelalak, ia seolah teringat akan satu hal. Janin? Hamil? Lupa meminum pil pencegah kehamilan? Beberapa pertanyaan bersarang di kepala Resha. Ia tersadar akan dirinya dan Gilbert yang tidak memakai apa pun saat mereka berhubungan. “Sial,” batin Resha.