Trapped In Mafia Love

Trapped In Mafia Love
Di Ujung Perpisahan



Resha sudah mengecek beberapa bisnis yang di kendalikan Gilbert. Tubuhnya belakang ini sangat mudah lelah. Jam di pergelangan tangan Resha sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia memilih untuk kembali ke kantor. Selama di perjalanan Resha hanya diam menyandarkan tubuhnya. Mobil tiba-tiba berhenti mendadak. “Ada apa pak?” tanya Resha.


“Ada anak kecil yang tiba-tiba menyeberang,” jawab sopir.


Resha menenggakkan tubuhnya. Ia melihat seorang anak kecil yang menatap ke arahnya, dengan mata yang berwarna merah menyala.


“Heh anak iblis, menyingkir!” teriak sopir.


Resha mengedipkan matanya pelan, anak itu lari begitu saja. Resha kembali menyandarkan tubuhnya, ia menutup kelopak matanya. Anak bermata merah tersebut sebuah tanda yang di berikan Hitam jika proyeknya membuat racun untuk Gilbert sudah selesai. Resha tidak bisa berkomunikasi dengan leluasa, ia melakukan ini untuk berjaga-jaga. Apalagi sampai sekarang Resha belum berhasil mengungkap kematian Nilson dan Bryan. Ia merasa harus lebih waspada.


“Maaf, sudah membuat perjalanan Nona terganggu,” ucap sopir dengan nada bersalah.


Resha tidak menjawab ucapan sopir. Tanpa sadar ia tertidur selama di perjalanan.


“Nona kita sudah sampai.”


Resha mengucek matanya, ia mengeluarkan cermin untuk melihat wajahnya. Resha mengeluarkan lipstik dari dalam tasnya. Tangan Resha mengoleskan lipstik ke bibirnya, kini penampilan Resha tampak lebih berani dari sebelumnya. Ia berjalan keluar dari mobil. Tujuannya pergi ke ruangan kerjanya. Saat Resha sampai di depan ruangannya pintu sedikit terbuka. Resha masuk dan tersenyum kalah melihat Gilbert yang duduk dengan tenang di meja kerja.


Tatapan Gilbert tertuju pada toples yang ada di meja kerja kekasihnya. “Aku perhatikan kau mulai suka memakan camilan di saat bekerja.”


“Jadi Asisten Tuan Gilbert Abhivandya cukup menguras tenaga,” jawab Resha. Ia berjalan menghampiri meja kerjanya dan duduk di pangkuan Gilbert.


Tangan Gilbert meraih dagu Resha. “Kau sengaja memakai lipstik merah darah ini untuk menggodaku?”


Tangan Resha tanpa ragu melingkar di leher Gilbert. Ia sengaja mengalihkan perhatian Gilbert dari topik camilan di meja kerja, dia tidak ingin Gilbert mengorek informasi yang Resha tutupi. “Apa kau tergoda?”


Gilbert mengangguk kecil. Ia memperhatikan wajah kekasihnya yang tampak lelah, meskipun bibir Resha tersenyum menggoda. “Tapi lain kali saja, kau tampak kelelahan.”


Ada rasa senang dalam hati Resha, orang yang ingin ia habisi sangat perhatian. Namun ia tidak boleh larut dengan perasaannya. Yang di lakukan Gilbert hanya hal kecil, dan Resha tidak boleh memberikan ruang di hatinya untuk Gilbert.


“Ayo kita pulang,” ucap Gilbert ia membawa tubuh Resha dari ruangannya hingga masuk ke dalam mobil.


Resha sangat terbantu dengan perlakuan Gilbert, pria itu selalu berhasil membuat Resha merasa nyaman.


Sepulangnya dari kantor Resha dan Gilbert membersihkan tubuh mereka dan pergi untuk tidur. Namun Gilbert tidak benar-benar tidur, ia memastikan Resha sudah tidur nyenyak lalu pergi ke ruang kerjanya.


Gilbert memanggil anak buahnya. Dalam hitungan menit anak buah Gilbert sampai di ruang kerja milik tuannya. Ia membungkuk memberi hormat.


“Sudah siap seratus persen.” Pria tersebut menyerahkan kotak perhiasan kepada Gilbert. “Ini perhiasan untuk melamar Nona Resha sudah siap.”


Gilbert membukanya, ia memperhatikan perhiasan yang ia pesan khusus untuk Resha. “Pastikan acara lamarannya berjalan dengan lancar.”


Gilbert sudah jatuh hati pada Resha, ia sangat serius dengan keinginannya untuk menjadikan Resha sebagai istrinya. Setelah acara lamaran Gilbert akan mempersiapkan untuk pernikahan mereka. Ia tidak ingin menunda waktu lagi.


“Baik Tuan.”


***


Resha sibuk bekerja di kantor, ia masuk ke laman yang di buat khusus oleh hitam. Hanya kliennya yang dapat membuka laman tersebut, dengan password yang berbeda di setiap klien yang order barang padanya.


Resha membuka laman tersebut berisi video yang di buat khusus untuk Resha. Resha memasangkan headset ke telinganya untuk mendengar penjelasan Hitam.


“Halo Queresha Mavelin, aku akan memperlihatkan racun yang sudah aku buat untukmu. Mari lihat keajaibannya,” ucap Hitam.


Resha terus memperhatikan layar, kini seorang pria sebaya seperti Gilbert duduk di kursi dengan tangan dan kaki di ikat. Hitam tampak mengambil sebuah botol kecil dan menuangkannya ke dalam segelas berisi air mineral. Cairan dari racun tersebut melebur menyatu dengan air.


“Satu sendok saja akan membuatnya mati dalam hitungan detik.” Hitam meminumkan air tersebut pada sang pria.


Resha menatap serius pada pria yang di ikat. Pria itu tampak meringis kesakitan sebelum meregang nyawa. Hitam memasangkan alat pendeteksi jantung ke dada tawanannya. Tapi tidak terdengar denyut jantungnya sedikit pun. “Dia sudah mati. Aku akan segera mengirimkan barangnya ke lokasi yang sudah di sepakati. Sampai jumpa Queresha, bye.” Resha menutup video tersebut saat hitam melambaikan tangannya. Bibirnya tersenyum sempurna. Besok adalah hari kematian orang tuanya, dan Resha akan menghabisi Gilbert.


Malam harinya Resha menghampiri Gilbert di ruangnya. Pria itu tampak tenang menandatangani berkas yang ada di hadapannya. “Mau pulang tidak?”


Gilbert membubuhkan tanda tangan terakhirnya di akhir halaman. “Tunggu sebentar,” jawab Gilbert. Ia membereskan berkas yang ada di mejanya. Lalu bangkit dan menghampiri Resha yang duduk di sofa.


Gilbert duduk di samping Resha, ia mengambil tangan kekasihnya lalu menyimpan sebuah cek di telapak tangan Resha.


Resha menatap cek berisikan sepuluh juta dolar. “Apa ini?”


“Aku sudah berjanji memberimu satu juta dolar jika berhasil membuatku jatuh cinta. Ini satu juta dolar untuk memenuhi janjiku, sisanya untukmu.”


Resha menampilkan wajah terharunya, meskipun ia tidak tertarik dengan uang pemberian Gilbert. Karena besok apa yang menjadi milik Gilbert akan menjadi milik Resha. Resha menyimpan cek tersebut ke dalam tasnya. Lalu menatap Gilbert dengan senyuman manisnya. “Terima kasih.”


“Pelukan,” ujar Gilbert seraya merentangkan kedua tangannya. Resha menghambur ke dalam pelukan Gilbert. Mungkin ini akan jadi pelukan dan senyuman terakhir yang bisa Resha berikan pada Gilbert.