Trapped In Mafia Love

Trapped In Mafia Love
Keinginan Xavion



Mobil yang di Kendarai Ken sampai di kediaman Resha. Ken turun membukakan pintu untuk tuan muda. Xavion turun lebih dulu di ikuti Xavier di belakangnya.


Resha dan Gilbert turun dari mobil, mereka menghampiri kedua putranya. Seperti biasanya, Xavier menyembunyikan tubuhnya di balik Resha. Ia masih sedikit takut terdapat Gilbert.


Xavion masuk ke dalam rumah lebih dulu, ia tidak betah dengan baju rapi yang di pakainya. Ia ke kamar mengambil kaos serta celana dan mengganti pakaiannya sendiri.


Teresa segera pergi ke dapur membuatkan minuman serta camilan untuk menyambut kedatangan suami majikannya.


Resha memilih menggendong tubuh mungil Xavier. Dengan manja Xavier menyandarkan kepalanya serta lengan yang memeluk tubuh Resha.


Gilbert tidak suka melihat Xavier yang takut kepadanya, seharusnya anak manja itu senang melihat kedatangan Gilbert. Dari informasi Ken Xavier selalu bertanya tentang Dady kepada Resha. Namun sekarang anak itu seolah melupakan keinginannya yang ingin bertemu.


Xavion keluar dari kamar setelah berganti dengan pakaian santainya, ia duduk di karpet yang terdapat pada ruang tengah. Tangannya mengambil beberapa mainan kesukaannya. Sesekali melirik ke arah Xavier yang tengah di gendong oleh Resha.


Xavion mengambil mobil mainan berwarna hitam ke sayangnya, ia berjalan mendekati Gilbert yang tengah berdiri di samping Resha. “Apa Dady mau bermain denganku?”


Gilbert menengok ke arah Xavion, pandangannya tertuju pada mobil mainan yang di serahkan Xavion. Tangan Gilbert menerimanya, ia mengikuti langkah Xavion yang duduk di karpet. Putra kecilnya itu tampak mengambil mobil mainan yang lainnya.


Xavion menyimpan mobil mainan di garis start. Ia menyerahkan remot kontrol mobil yang di pegang Gilbert. “Ini Dady,” ujar Xavion memberikan remot pada Gilbert.


Gilbert menerimanya, ia mencoba menekan tombolnya lebih dulu. Setelah cukup mahir ia menatap Xavion. “Ayo kita mulai Dady akan mengalahkanmu,” ucap Gilbert dengan penuh keyakinan.


Xavion menanggapi ucapan Gilbert dengan wajah datarnya. “Balapan di mulai pada hitungan ketiga. Finish di kaki Momy. Satu ... Dua .... Tiga,” ucap Xavion. Tangannya segera bergerak di remot kontrol.


Gilbert tidak ingin kalah segera menekan remot, mobilnya berjalan hendak menyusul Xavion.


Xavier menahan senyumnya melihat mobil milik Gilbert tiba-tiba berhenti, padahal hampir di sampai di kaki Resha. Ia sangat hafal betul jika mobil remot tersebut sedang dalam masalah. Ada kerusakan yang belum sempat di perbaiki oleh Resha.


Gilbert menekan tombol maju tapi mobilnya malah berhenti. “Kenapa dengan mobilnya?” tanya Gilbert pada Xavion.


Xavion fokus pada remot di tangannya hingga sampai di kaki Resha. “Yes, Dady kalah,” ujar Xavion dengan wajah meremehkannya.


“Tidak bisa di terima, ini bukan salah Dady. Tapi mobilnya saja yang rusak,” ujar Gilbert tidak terima.


Xavion mengambil alih remot yang ada di tangan Gilbert. Ia melajukan kembali mobil remotnya hingga di garis akhir tepat di samping mobil Xavion. “Ini tidak rusak,” ujar Xavion.


“Payah,” ledek Xavion. Ia berjalan menuju Resha untuk mengambil mobil miliknya dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Xavion!" panggil Resha. Dia tidak menyangka Xavion berani mengejek Gilbert.


Gilbert menatap kepergian Xavion dengan perasaan jengkel. Anak pertamanya itu berani sekali menghina Gilbert.


Resha menurunkan tubuh Xavier dari pangkuannya untuk duduk di samping tumpukan mainannya. “Main di sini bersama Dady ya, Momy perlu bicara dengan Xavion.”


Xavier melirik ke arah Gilbert, ia sedikit takut. Namun melihat Gilbert yang fokus pada ponselnya, akhirnya Xavier setuju.


Resha berjalan masuk ke dalam kamar menyusul Xavion. Putra pertamanya tengah duduk di pinggiran tempat tidur miliknya yang berada tepat di samping jendela. Resha ikut duduk di samping Xavion. Ia mengusap puncak kepala Xavion. “Kau kenapa Xavion?”


“Xavion hanya kesal pada Daddy, dia tega membiarkan Momy bekerja. Padahal dia punya mobil mewah serta anak buah yang banyak,” ketus Xavion terdengar sangat kesal.


“Tapi Momy tidak suka dengan cara Xavion yang seenaknya berbicara seperti itu pada Dady. Momy di sini karena keinginan Momy, jadi jangan bersikap kasar seperti barusan pada Dady. Itu perbuatan yang tidak sopan, jangan di ulangi lagi ya,” pinta Resha dengan nada lembutnya.


“Tapi Xavion tidak suka dengan Dady, yang berani menatap Momy seperti tadi saat pertama kali bertemu, bisa kah Momy usir Daddy saja dari rumah ini?” Xavion menyatukan kedua telapak tangannya di dada, untuk memohon agar Resha mau mengikuti keinginannya.


“Xavion tidak mengerti urusan orang dewasa. Momy rasa ini momen terbaik untuk kau dan Xavier nikmati, karena jika kita kembali ke rumah Dady. Dady akan sangat sibuk dengan pekerjaannya.” Resha harus bisa membujuk Xavion, bagaimana pun juga semua ini terjadi karena salahnya sendiri. Resha tidak pernah mengenalkan Gilbert kepada anak-anak, hingga berakhir sulit seperti ini.


“Xavion tidak mau ikut, mau di sini aja bersama Momy dan Xavier,” jawab Xavion dengan wajah memohon.


Tangan besar Resha menangkup kedua sisi pipi Xavion yang kecil. “Xavion meskipun kita pergi, kita akan tetap bersama. Xavion tidak tahu yah kalau Daddy sangat hebat dalam melawan musuh. Daddy juga hebat bisa menghasilkan banyak uang, Xavion boleh meminta apa pun. Motor sport? Mobil Sport? Nanti Dady belikan, jadi ayo main sama Daddy,” Resha berusaha membujuk dengan segala macam cara.


“Janji Momy? Xavion ingin mobil sport.” Kelingking Xavion terangkat ke atas.


Bibir Resha tersenyum, ia merasa lega karena berhasil membujuk Xavion, meskipun nanti ia harus membujuk Gilbert untuk memenuhi keinginan Xavion.


Resha menautkan kelingkingnya dengan milik Xavion. “Momy janji.”


Tangan kecil Xavion menarik lengan besar milik Resha agar mengikutinya berjalan ke luar dari kamar.