
Resha bergegas mencari apotek, ia membeli alat tes kehamilan. Lalu masuk ke dalam toilet yang ada di apotik tersebut. Resha tidak pernah memakai alat tersebut ia membaca petunjuk penggunaannya. Lalu mencoba mempraktikkannya. Resha sudah menampung urin di dalam wadah tangannya yang memegang alat tes dengan ragu mencelupkannya. Ia berdoa agar dirinya tidak hamil seperti anak tadi.
Saat urin mulai naik Resha menyimpannya di dalam bidang datar. Dia memperhatikan laju urin yang mulai naik. Garis pertama muncul, lalu urin masih naik dan memunculkan garis kedua.
Resha mengambil bungkus alat tes kehamilan dan membaca keterangannya. ‘Garis dua positif hamil’
Jantung Resha seolah berhenti berdetak, ia membuang alat tersebut ke tempat sampah dan keluar dari apotek.
Saat keluar tubuh Resha langsung di berhadapan dengan Gilbert. “Sedang apa di sini?”
Resha mengangkat plastik yang ada di tangannya. “Aku membeli beberapa vitamin.” Ia sudah mempersiapkan hal ini, karena Resha tahu Gilbert memasangkan alat pelacak di ponsel Resha. Tidak heran jika tiba-tiba Gilbert ada di hadapannya.
“Ayo kita pulang.” Gilbert menarik tangan Resha untuk masuk ke dalam mobil.
Resha menurut dan duduk di samping Gilbert. Sepanjang perjalanan Resha menatap ke jalanan. Pikirannya cukup kacau karena tes kehamilan tadi, garisnya sangat jelas.
Melihat sikap aneh Resha yang tampak pendiam, Gilbert menyimpan tangannya di atas tangan Resha. “Kau masih marah padaku?”
Resha menengok ke arah Gilbert. “Sedikit,” jawab Resha.
Gilbert menggenggam tangan Resha. “Maafkan aku.”
Resha memalingkan wajahnya, ia tidak boleh terlalu larut dengan perasaan ini. Apalagi tujuannya berada di sini untuk membunuh Gilbert. Tapi kenapa ia melupakan satu hal yang sangat penting, sampai-sampai kini di dalam dirinya tumbuh darah daging Gilbert.
Melihat sikap Resha, dapat Gilbert prediksikan jika kekasihnya benar-benar marah akan masalah makanan tadi.
Mobil sampai di kediaman Gilbert, Resha segera turun dari dalam mobil. Ia berlari masuk ke dalam rumah, masuk ke dalam lift. Begitu lift terbuka Resha segera masuk ke dalam kamar, ia menyimpan tas dan barang-barang miliknya di atas tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Resha duduk di atas toilet yang tertutup, ia menggigit jarinya. “Apa yang harus aku lakukan sekarang, cepat berpikir Resha!” Gumam Resha.
Kaki Resha bergerak dengan gelisah. Ia tidak bisa membunuh Gilbert dalam waktu dekat, ia belum mendapatkan kendali penuh untuk mengambil kekuasaan Gilbert. Tangan Resha meraba perutnya, ia harus merahasiakan kehamilannya sampai waktunya tiba Resha bertekad akan tetap membunuh Gilbert.
Resha memilih masuk ke dalam bilik shower dan membersihkan tubuhnya. Setelah berpakaian lengkap ia keluar dari kamar mandi.
Resha menatap Gilbert yang sedang duduk di sofa tengah memainkan ponselnya. Resha berusaha menampilkan wajah cerianya seperti biasa, ia tidak boleh membuat Gilbert curiga. Kaki Resha melangkah menuju sofa, ia duduk di samping Gilbert.
Sadar akan kehadiran Resha, Gilbert menyimpan ponselnya ke atas meja. “Kau keramas di malam hari?” tangan Gilbert menyentuh rambut Resha yang basah.
“Aku berjalan cukup jauh, rambutku pasti sangat kotor terkena debu jalanan.”
Resha diam menikmati sensasi hangat di kulit kepalanya. Ia tidak bisa melihat wajah tulus Gilbert yang fokus mengeringkan rambut Resha. Resha memilih memejamkan matanya.
Rambut Resha sudah kering, Gilbert menyimpan kembali pengering rambut. Tangannya mengambil sebotol vitamin rambut yang biasa di pakai Resha, lalu menuangkan ke telapak tangannya dan meratakannya pada rambut Resha yang sangat lembut. “Aku suka rambut lembutmu, dan aku suka semua yang ada pada dirimu.”
Resha membuka matanya, ia menengok ke belakang. Resha cukup terkejut saat tiba-tiba bibirnya di sambar oleh Gilbert. Resha merasa sangat kebingungan, ia sangat ingin membalas ciuman Gilbert. Tapi kepalanya memerintahkan untuk menghentikan ciuman itu, ia harus sadar akan tujuannya dan tidak boleh larut ke dalam pesona Gilbert.
Gilbert menarik diri, ibu jarinya membersihkan bibir Resha yang basah karena air liur miliknya.
Resha menatap wajah Gilbert yang tampak tenang, Gilbert sudah mengisi hari-harinya selama dua bulan ini. Resha harus segera membuat rencana untuk membunuh Gilbert dan merampas kekuasaan Gilbert, pria pertama yang masuk ke dalam kehidupan Resha.
“Tunggu sebentar, aku ingin membersihkan tubuhku. Jangan kemana-mana,” titah Gilbert. Resha mengangguk. Setelah kepergian Gilbert Resha melakukan rutinitas perawatan wajahnya.
Gilbert membersihkan tubuhnya dan segera berpakaian. Ia keluar dan menghampiri Resha yang masih duduk di depan meja rias. Gilbert memeluk Resha dari belakang. “Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu.” Tangan Gilbert meraba perut Resha. “Perutmu pasti masih lapar.”
Sentuhan tangan Gilbert di perut Resha membuat nafasnya Resha terhenti sejenak. Ada sesuatu yang terasa aneh saat tangan Gilbert berada di perut Resha. Namun Resha memilih mengabaikannya dan bangkit dengan perlahan. Resha menggandeng tangan Gilbert seperti biasanya dan berjalan keluar dari kamar. Mereka masuk ke dalam ruang makan dan duduk.
Satu orang pelayanan menghidangkan menu yang di pesan Gilbert.
Resha menatap satu piring berisi daging yang persis seperti milik Gilbert saat di resto.
Gilbert mengambil pisau dan garpu lalu memotong daging.
Resha menatap Gilbert yang menusuk daging dan mengarahkannya pada mulut Resha. “Aku bisa makan sendiri,” tolak Resha.
Untuk pertama kalinya Resha menolak Gilbert suapi. “Buka mulutmu,” titah Gilbert.
Resha membuka mulutnya dan menerima suapan Gilbert. “Apa kau masih marah padaku?” tanya Gilbert.
“Kau menyogokku dengan makanan, agar di maafkan?” Resha melihat senyuman yang terbit di wajah datar Gilbert.
“Kata maafku tidak mempan, kamu benar-benar marah padaku. Apalagi yang harus aku lakukan selain membuat kekasihku senang?”
Resha sangat benci pada dirinya yang senang dengan perlakuan Gilbert. Resha mengambil alih pisau dan garpu lalu memotong daging dan menyuapi Gilbert. “Jika kau ingin membuatku senang, makanlah.”
Perut Gilbert sudah kenyang, tapi ia tidak ingin menghancurkan kesenangan kekasihnya. Dengan suka rela Gilbert menerima suapan Resha.