Trapped In Mafia Love

Trapped In Mafia Love
Xavier dan Xavion



Resha bergegas keluar dari rumah Gilbert, ia melepaskannya jam tangan pemberian Gilbert terdapat alat pelacak yang di pasang Gilbert. Ia menghempaskan jam tersebut ke tanah.


Resha tersenyum tipis ke arah penjaga gerbang. Mereka membukakan pintu untuk Resha begitu saja. Resha memandangi gerbang tinggi rumah Gilbert beberapa detik sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berlari.


Sampai di persimpangan jalan, Resha melihat pria yang tengah mabuk di dalam mobilnya. Resha mengetuk kaca mobil pria tersebut.


Kaca mobil mulai terbuka, pria itu memandang Resha. “Hei kau jangan menggangguku pergi sana,” rancu pria tersebut.


“Bisa keluar sebentar, aku butuh bantuanmu.” Pria tersebut menurut saja dengan ucapan Resha.


“Dasar bodoh!” Maki Resha. Ia mengantukkan Kepala pria itu ke kap mesin mobil.


Resha melepaskan cengkeramannya pada belakang kepala pria itu hingga pria mabuk yang kehilangan kesadaran tersebut luruh ke aspal jalanan. Resha masuk ke dalam mobil, ia menyalakan mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju rumah miliknya. Tangan Resha yang memegang setir berwarna merah dari darah milik Gilbert. Satu tetes air mata meluncur begitu saja. Resha membenci dirinya yang lemah ia menghapus air matanya menggunakan punggung tangannya.


Sesampainya di rumahnya, Resha membersihkan wajahnya. Ia berganti pakaian lalu Resha mengemasi barang-barang yang sangat penting untuknya. Satu tas berisi barang miliknya sudah tersusun rapi. Suara mobil yang terdengar berhenti di depan rumah Resha, membuatnya segera bergegas dan berlari ke luar lewat pintu belakang.


“Nona Resha buka pintunya!” teriak seorang di ikuti suara ketukan pintu yang cukup kencang. Resha membetulkan letak topi di kepalanya, ia melangkahkan kakinya menuju pintu belakang. Dan segera masuk kembali ke dalam mobil.


Sampai di bandara tempat parkir mobil, Resha keluar dari dalam mobil dengan satu tas ransel yang menempel di punggungnya. Ia menundukkan wajahnya agar tidak terekam oleh kamera CCTV.


Resha memesan tiket penerbang dengan identitas baru, jadwal penerbangan paling tercepat menuju negara yang cukup jauh dari Kolombia.


Setelah melakukan segala peraturan penerbangan kini Resha berjalan masuk ke dalam pesawat. Ia memilih kelas ekonomi dan duduk bersebelahan dengan penumpang lainnya. Resha semakin menutupi wajahnya dengan topi yang ia kenakan, ia menyandarkan punggung serta kepalanya pada sandaran. Helaan nafas keluar dari mulut Resha. Tangannya meraba perutnya, “Kita akan baik-baik saja, tanpa Dady,” batin Resha.


***


Gelapnya langit mulai memudar, bulan yang bersinar terang pun mulai menghilang. Resha menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumahnya. Tangannya membuka kunci pintu, ia masuk ke dalam rumah. Membuka pintu kamar untuk melihat keadaan kedua putranya yang masih terlelap dalam tidurnya. Melihat kedua anaknya yang tertidur dengan pulas membuat rasa tenang di hati Resha. Ia berjalan menuju kamarnya, membuka mantel yang ia kenakan lalu memilih membaringkan tubuhnya tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Tangan Resha menarik selimutnya, ia mengambil guling dan memeluknya dengan sangat erat. Rasa lelah di tubuhnya setelah semalaman menjalankan misi membuatnya mudah untuk pergi ke alam mimpi.


Di tengah tidur lelapnya, Resha merasakan cahaya mentari membuat tidurnya terganggu. Ia menutupi wajahnya dengan selimut.


“Momy,” suara anak lelaki yang terdengar sangat manja membuat Resha menghela nafasnya. Dari suaranya saja ia sudah hafal betul jika yang mengganggu tidurnya anak keduanya Xavier.


Tidak kunjung terbangun anak berusia lima tahun tersebut menarik selimut yang di gunakannya ibunya. “Momy bangun!”


Resha menghela nafas lelahnya, ia membuka matanya sedikit dan menatap Xavier dengan mata sipitnya. “Ada apa Mom masih mengantuk?”


“Xavier mau makan pancake,” wajah Xavier terlihat memberengut kesal saat melihat ibunya kembali menutup mata. Tangan kecilnya menarik-narik tangan Resha. “Jangan tidur lagi Mom, ayo bangun buatkan Xavier pancake.”


Xavier menatap bagian leher Resha yang terkena luka sayatan tampak mengalirkan darah yang sudah mengering. Wajah Xavier terlihat sedih ia meraba bagian leher Resha yang terluka. “Mom,” panggil Xavier.


Resha melihat rasa khawatir dan kesedihan yang ada di wajah putra kedua. Ia memeluk tubuh Xavier dalam posisi ia duduk dan Xavier berdiri. “Mom baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Ayo kita ke dapur.”


Xavier melepaskan pelukannya. “Tidak perlu, Mom istirahat saja.”


“Tunggu di sini sebentar,” perintah Resha. Ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah serta menggosok gigi.


Resha keluar dari kamar mandi menghampiri putranya lalu menuntun tangan Xavier berjalan keluar dari kamar menuju dapur.


Seorang wanita yang menjadi asisten rumah sekaligus pengasuh menundukkan kepalanya. “Maaf nyonya, saya tidak bisa menghentikan keinginan Xavier,” ucap Teresa.


Pandangan Resha tertuju pada meja makan. Putra pertamanya Xavion tampak tenang menikmati sendwich yang ada di piringnya. Di kursi sebelah Xavion terdapat satu piring berisi pancake yang sudah di tuangkan sirup maple.


Resha memakan waktu dua puluh menit untuk membutakan pancake untuk Xavier. Ia menghidangkan pancake keinginan Xavier di atas meja makan.


Xavier menatap pancake di atas piring dengan buah berry segar. Dengan tidak sabar Xavier segera memakannya.


Xavion menatap piring yang di berikan oleh Resha. “Xavion sudah kenyang Mom.”


Resha memotong pancake dan menyuapi Xavion. Meskipun wajah Xavion terlihat terpaksa namun Resha tahu betul jika anak pertamanya itu menginginkannya juga. “Habiskan ya Mom mau mandi dulu,” ucap Resha kepada kedua anaknya.


Resha menatap Teresa, “Buatkan sarapan untukku.”


“Baik Nyonya.”


Resha berjalan kembali ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Ia membersihkan tubuhnya, ada beberapa bagian lebam di tubuhnya. Kini Resha sudah tidak selincah dulu, setiap misi ada saja bagian tubuhnya yang terluka. Namun Resha merasa luka di tubuhnya bukan masalah, jika melihat kedua anaknya tumbuh dengan baik.


Selesai membersihkan tubuhnya, Resha keluar dari kamar. Ia melihat kedua putranya yang sedang bermain di ruang tengah. Resha pergi ke dapur ia melihat sepiring spaghetti di meja makan yang masih berasap serta segelas susu. Resha duduk menikmati sarapan pagi miliknya.


Teresa berjalan mendekat ke arah Resha. Ia menyerahkan kotak pada majikannya. “Nyona ada kiriman.”


Resha menyimpannya sumpit yang sedang ia pegang ke atas piring. Ia menerima kotak tersebut dan membuka isinya. Resha. Melihat sebuah ponsel di dalamnya, ia menyalakan ponsel tersebut. Betul saja dugaannya ponsel tersebut ponsel miliknya yang ia tinggalkan di rumah Gilbert.