
Gilbert melihat wajah datar Resha dengan kening yang mengeluarkan darah.
Resha meninju pipi Paula dengan cukup keras hingga tubuh Paula terjatuh ke lantai. Resha berjongkok dan kembali meninju dagu Paula ke arah atas.
Rahang Paula terasa sangat sakit, ia menatap wajah datar Resha yang tidak menampakkan rasa emosi.
Resha mengambil pecahan dari botol anggur hendak mengiris nadi Paula.
“Jangan bunuh dia Resha,” ucap Gilbert menginterupsi.
Resha tidak suka dengan larangan Gilbert, ia tetap melakukan keinginannya.
Paula tersenyum kala serpihan anggur menyayat kulit lehernya.
Tangan Resha berlumuran darah, ia meninggalkan tubuh Paula yang terkapar lemah di lantai.
Gilbert menatap para pengawalnya untuk segera menangani Paula. Paula segera di bawa dengan perahu cadangan menuju darat untuk mendapatkan pertolongan.
Gilbert memandangi perahu yang membawa tubuh Paula. Lalu ia berbalik dan menghampiri Resha yang berdiri di bagian depan kapal.
“Aku tidak suka dengan sikap tak terkendalimu itu Queresha.”
Resha tidak berniat menjawab ucapan Gilbert, ia pun tidak tahu mengapa bisa lepas kendali seperti itu. Seolah tujuannya berada di samping Gilbert untuk mengambil haknya kembali seakan sirna dengan rasa panas yang menjalar di hatinya melihat kelakuan Paula yang terus menggoda Gilbert.
“Kau akan mendapatkan hukuman, jika Paula tidak bisa di selamatkan,” ucap Gilbert memperingati.
Rasa kesal Resha semakin bertambah, tidakkah Gilbert mengerti apa yang Resha rasakan saat melihat Paula menggoda kekasihnya. “Apa kau mulai mencintai Gilbert?” pertanyaan entah dari mana tiba-tiba saja bersarang dalam pikiran Resha.
“Kau sudah jatuh cinta pada Gilbert Resha!” lagi-lagi sebuah penyataan yang mencoba meracuni kepala Resha. Ia mencoba menyangkal perasaan yang mulai menyelimuti hatinya. “Resha ingat tujuanmu,” batin Resha mencoba mengalahkan bisikan aneh di dalam dirinya.
Gilbert memutar tubuh Resha. Kini mereka berhadapan dan saling bertatapan. Gilbert menarik dagu Resha menyesap bibir kekasihnya dengan sangat lembut.
Resha hanya terdiam memandangi kelopak mata Gilbert yang tertutup seolah menikmati ciu’man mereka, padahal Resha hanya diam saja tidak membalas sedikit pun.
Saat Gilbert melepaskan ciumannya, Resha memandang datar ke arah Gilbert. “Jika kau ingin bersenang-senang dengannya, tidak perlu membawaku kemari.”
“Sepertinya kau sangat cemburu pada Paula, seolah menunjukkan bahwa kau tidak percaya diri. Bahkan kehilangan ketenanganmu di hadapanku.” Ucapan Gilbert seperti mengolok-olok Resha, terdengar menyebalkan di telinga Resha.
Gilbert melirik tangan Resha yang memegang pisau lipat. Tatapan Resha terlihat sangat mengerikan.
Gilbert memukul tangan Resha hingga pisau yang di pegang Resha terlempar jauh. Dengan cepat Gilbert memeluk tubuh Resha dengan sangat erat. “Maaf jika ucapanku menyakitimu,” tutur Gilbert.
Amarah Resha menguar begitu saja mendengar permintaan maaf Gilbert. Resha membenci dirinya yang lemah, egonya sangat ingin membunuh Gilbert sekarang juga. Namun pikiran jernihnya mencoba menahan Resha. Kematian Gilbert dengan cara seperti ini tidak akan menguntungkan bagi Resha. Resha akan rugi jika mengikuti amarahnya.
Resha membalas pelukan Gilbert, ia menyandarkan kepalanya di dada Gilbert. Resha mencoba menenangkan amarah dalam dirinya, ia tidak boleh gegabah seperti barusan.
“Kau tidak perlu cemburu pada Paula, karena ia hanya wanita yang aku anggap sebagai adikku. Ia sangat berjasa dalam hidupku di masa lalu, aku mohon kendalikan dirimu jika menghadapinya.” Gilbert melepaskan pelukan mereka.
“Aku tidak akan membiarkan Paula melukai dirimu lagi,” ucap Gilbert dengan sungguh-sungguh.
Resha hanya terdiam memandangi Gilbert. Tangan Gilbert bergerak menyentuh kening Resha. “Ayo kita obati lukamu,” ajak Gilbert. Ia menarik tangan Resha untuk mengikutinya.
Gilbert menuntun Resha untuk duduk sementara ia mengambil kota untuk mengobati luka Resha.
Resha hanya diam saja, ia menikmati setiap sentuhan Gilbert yang mengobati keningnya. Tidak dapat Resha pungkiri ia menyukai perhatian Gilbert.
“Sepertinya kau harus mulai mengelola rasa cemburumu, aku tidak bisa menoleransi pada sikap cemburu yang akan menghalangi pekerjaan kita.”
“Pekerjaan apa maksudmu?” tanya Resha. Ia tidak mengerti ke mana arah ucapan Gilbert yang sangat tiba-tiba.
“Kau akan menjadi asisten pribadiku mulai sekarang.”
Resha cukup terkejut mendengar ucapan Gilbert, namun ia mengontrol dirinya untuk terlihat tenang menampilkan wajah datarnya. “Aku tidak memiliki kemampuan untuk berada di sisimu,” ucap Resha.
“Tidak apa-apa, Nilson akan mengajarimu sebelum ia pindah tugas,” jawab Gilbert. Sebetulnya Gilbert tidak serius dengan ucapannya, ia hanya ingin melihat reaksi Resha. Pasalnya ia mendapat laporan ada beberapa orang yang mengintai kegiatan Nilson.
Di balik wajah datar Resha, ada sebuah kekhawatiran. “Gawat,” batin Resha. Pasalnya ia sudah menyuruh orang untuk membunuh Nilson dan Bryan. Jika Nilson terbunuh akan menimbulkan kecurigaan, apalagi Gilbert menawarkan posisi Nilson. Nilson tidak boleh terbunuh ia masih memerlukan pria itu untuk mengajari Resha, ia akui dirinya tidak begitu pandai menjadi asisten. Yang Resha pelajari selama ini hanya cara membunuh orang Saja.
Untuk sentuhan terakhir Gilbert menempelkan plester untuk menutupi luka Resha.
Telepon Gilbert berdering, ia segera mengambil ponselnya dari saku dan menerima panggilan tersebut. “Apa Nilson di bunuh?”
Degup jantung Resha berdetak cukup kencang mendengar ucapan Gilbert. “Sial, kenapa mereka terlalu cepat,” batin Resha.