Trapped In Mafia Love

Trapped In Mafia Love
Rasa Tenang



Gilbert sudah kembali berpakaian dengan rapi. Ia mengambil selimut untuk Resha yang tertidur dengan tubuh polosnya.


“Mommy.” Dari suaranya dapat Gilbert pastikan jika itu suara lembut milik Xavier. Setelah memastikan tubuh Resha tertutup sempurna oleh selimut, Gilbert memberikan kecupan pada kening Resha sebelum keluar dari kamar.


Xavier menundukkan kepalanya saat melihat Gilbert yang muncul dari balik pintu. “Mommy mana?” tanya Xavier dengan suara yang pelan seperti tengah berbisik.


“Mommy sedang beristirahat, Xavier butuh sesuatu?” Gilbert balik bertanya. Ia menatap Ken yang ada di depannya. “Jaga pintu kamar, jangan sampai ada yang masuk.”


“Baik Tuan,” jawab Ken patuh.


“Xavier mau buang air besar di temani Mommy.” Kedua tangan Xavier bertautan saling meremas, ia sudah tidak tahan.


Gilbert mengerutkan keningnya mendengar ucapan putra keduanya. Ia tidak menyangka jika Xavion masih kekanak-kanakan seperti ini untuk sekedar ke kamar mandi. “Ayo Daddy temani.”


Xavier berlari ke arah kamar mandi, di ikuti Gilbert yang berjalan dengan langkah lebarnya dapat mengimbangi lari Xavier.


Xavier membuka pintu kamar mandi, ia menutup pintu setelah Gilbert masuk. “Tutup mata Daddy,” ujar Xavier.


“Untuk apa?”


“Mommy selalu menutup matanya jika menemani Xavier. Daddy tidak boleh mengintip,” ucap Xavier memperingati. Setelah memastikan Gilbert menutup matanya, Xavier segera melakukan keinginan untuk menuntaskan panggilan alamnya.


Gilbert berdiri di kamar mandi seperti orang bodoh dengan menutup kedua matanya mengg'unakan telapak tangannya. Kakinya sedikit pegal menunggu Xavier. Ia merasa lega saat mendengar suara air dari toilet.


Xavier kembali memakai celananya. Kakinya melangkah mendekati Gilbert. Tangan mungilnya menarik jas Gilbert. “Daddy Xavier sudah selesai,” ujar Xavier.


Gilbert menghempaskan tangannya yang menutupi mata. Ia merasakan silau saat membuka kelopak matanya.


“Terima kasih Daddy.”


Gilbert memperhatikan wajah tulus Xavier. Bibir Gilbert tersenyum ke arah putranya. “Ayo bermain kembali bersama Xavion.”


Xavier mengangguk antusias, tangan mungilnya menarik tangan Gilbert untuk berjalan setengah berlari menuju ruang tengah. Mereka bermain bersama, bahkan Xavier kini tampak terbiasa dengan kehadiran Gilbert.


Resha terbangun dari tidurnya kala mendengar suara tawa anak-anak dan tawa pria yang terdengar tidak asing, seperti suara Gilbert. Selama ini Resha tidak pernah mendengar Gilbert tertawa. Pipi Resha bersemu merah, ia tidak pernah menyangka jika Gilbert akan kembali. Dan memaafkan semua kesalahan yang sudah Resha perbuat.


Resha sudah selesai mandi dan berpakaian namun ia tidak mendengar suara berisik dari ruang tengah. Resha yang penasaran segera membuka pintu dan melihat tubuh Gilbert, Xavion dan Xavier tergeletak di karpet dengan mata terpejam.


Gilbert bangkit dari posisi tidurnya, dan menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya agar Resha tidak berisik.


Resha berjalan menghampiri mereka dengan langkah yang super pelan agar tidak menimbulkan bunyi. Ia mengusap dahi Xavier yang tampak berkeringat. “Tolong bantu pindahkan Xavion ke kamar,” pinta Resha dengan nada berbisik.


Resha mengangkat tubuh Xavier dan membawanya menuju kamar. Ken yang berjaga di depan kamar segera membukakan pintu untuk Resha.


Gilbert menyusul dari belakang membawa tubuh Xavion yang tertidur pulas ke dalam kamar dan merebahkan tubuh anaknya di atas tempat tidur yang kosong.


Gilbert melirik Resha yang menarik selimut untuk Xavier. Gilbert pun segera mengikuti gerakan Resha. Usai memastikan kedua anaknya tidur dengan nyaman, Gilbert menarik tangan Resha. Ia ingin melihat jari manis Resha, cincin yang Gilbert berikan sebagai tanda menjadi kekasih masih Resha pakai.


“Kau ingin cincin baru?”


Resha menggelengkan kepalanya. Ia menatap wajah Gilbert dengan serius. “Apa kita masih suami istri?”


Gilbert meremas dengan perlahan tangan Resha. “Kenapa kau mempertanyakan itu?”


Resha menundukkan kepalanya, ia menarik tangannya yang di pegang Gilbert. Resha menatap kedua anaknya secara bergantian ke arah Xavion dan Xavier yang tidur pada ranjang yang beda.


“Kau tidak perlu mencemaskan mereka, aku rasa kau lebih tahu sifatku bagaimana.”


Resha sedikit lebih tenang. Selama ini ia tidak berani memperkenalkan Gilbert sebagai ayah Xavion dan Xavier karena takut Gilbert tidak akan mengakui mereka. Terlebih lagi Resha takut jika Gilbert mengambil alih anak-anak dari Resha.


“Tuan,” panggil Ken dengan suara pelan takut membangunkan tuan muda yang tertidur.


Gilbert menatap Resha. “Bersiaplah cepat,” ucap Gilbert. Kakinya melangkah keluar dari kamar.


Setelah berada di depan rumah, Ken menghentikan langkahnya. “Tuan semuanya sudah siap. Nona Paula masih mengurung diri di kamar. Para pelayan berkata dia tidak mau makan dari kemarin setelah mendapatkan informasi.”


“Biarkan saja, kau hanya perlu fokus pada kelancaran acaranya. Dan pastikan jangan sampai Paula berbuat yang tidak-tidak,” perintah Gilbert. Ia tidak ingin hari bahagia yang sudah ia nantikan hancur seperti dulu.