
“Dady ke mana saja, kenapa membiarkan Momy bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami?”
Gilbert sedikit tertampar mendengar ucapan putra pertamanya. Ia melihat Xavion yang berdiri di samping Resha dengan kedua tangan terlipat di dada. Wajah datar serta ucapan Xavion membuat Gilbert melihat potensi yang cukup baik untuk menjadi penerus Red Bold. “Kau sangat penasaran?”
“Ya,” jawab Xavion cepat.
Resha dengan cepat menyela. “Gilbert lebih baik kita bicara di rumah,” usul Resha.
Gilbert mengangguk setuju. “Ken bawa anak-anak di mobil terpisah!”
“Tidak Gilbert,” tolak Resha.
Gilbert memberikan tatapan menghunjamnya pada Resha. Xavion yang melihat itu menyipitkan matanya, ia tidak suka dengan sikap Gilbert.
Resha menuntun kedua anaknya untuk berjalan mengikuti Ken yang membukakan pintu mobil untuk mereka. “Kita akan pulang ke rumah, Xavier dan Xavion bersama paman Ken. Momy dan Daddy perlu bicara serius, kalian jangan berbuat ulah ya selama perjalanan.”
Xavier tampak tidak ingin membiarkan Resha pergi ia menarik baju ibunya. “Mom.”
Tangan Resha mengelus pipi gembil Xavier. “Tidak apa-apa. Xavion jaga adikmu ya.”
Xavion mengangguk mematuhi ucapan ibunya. Ia melirik adiknya dengan wajah sedih. Mereka lahir ke dunia hanya berbeda beberapa menit saja. “Tidak perlu takut Xavier,” ujar Xavion.
Pintu mobil di tutup oleh Ken, ia masuk ke kursi kemudi lalu melajukan mobilnya menuju rumah Resha.
Resha menatap kepergian mobil yang membawa anaknya. Resha merasakan tangannya yang di tarik, ia menatap tangannya yang di tarik oleh Gilbert. Mereka masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.
Resha hendak menarik tangannya yang di pegang Gilbert, genggam tangan pria itu malah semakin erat seolah tak ingin melepaskan.
“Tatap mataku Queresha!”
Resha membalas tatapan Gilbert. Lima tahun lebih tidak bertemu Resha melihat raut wajah pria yang ia cintai tampak berbeda dari dulu, tak ada kelembutan yang di tampakkan oleh Gilbert.
“Seharusnya kau berterima kasih padaku karena memberikan kesempatanmu untuk tetap hidup,” jawab Resha.
“Kau tidak bisa membunuhku karena jauh di lubuk hatimu, kau mencintaiku Queresha.”
“Tidak,” jawab Resha cepat. Ia menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Gilbert.
Bibir Gilbert menyeringai. “Kalau tidak kenapa kau tidak menikah saja, aku dengar kau menolak banyak pria yang datang mengejarmu meskipun kau sudah punya anak. Itu artinya kau masih mencintaiku.”
Resha memandang kesal ke arah Gilbert yang terlalu percaya diri, meskipun apa yang pria itu ucapkan benar adanya.
Gilbert menarik tangan Resha hingga tubuh mereka bertabrakan. Resha menahan gundukan kenyal miliknya agar tidak membentur dada bidan Gilbert. Mata mereka saling bertatapan.
“Apa sekarang kau masih tidak percaya jika aku tidak memiliki hubungan darah dengan Thomas?”
Resha mengedipkan matanya, ia hendak menarik tubuhnya namun tertahan oleh tangan Gilbert yang melingkar di belakang punggung Resha. “Iya, aku sudah menerima berkasnya dari bawahanmu.”
“Aku ingin kau kembali ke Bagota dan tinggal bersamaku dan anak-anak.” Tujuan utama Gilbert datang ke negara ini untuk membawa Resha kembali.
“Aku tidak ingin anak-anak masuk ke dalam dunia hitammu,” jawab Resha.
“Dengan mudahnya kau berkata seperti itu? Tidak sadarkan dirimu jika menjadi pembunuh bayaran juga dunia hitam yang akan membahayakan anak-anakku.”
“Tidak bisakah dirimu memberikan aku sedikit kelonggaran untuk memilih hidup yang aku inginkan? Aku sudah membesarkan mereka dengan susah payah tanpa bantuanmu. Tapi sekarang apa yang kau lakukan, dengan tidak sadar diri ingin mengambil anakku,” ketus Resha.
Gilbert menyentil kening Resha. “Ini hukuman untukmu karena membuatku marah, aku juga punya kesabaran. Jadi jangan menguji kesabaranku lagi.” Kali ini nada suara Gilbert terdengar sangat serius dan tegas, seolah tak ingin mendapatkan bantahan.
“Aku perlu berbicara dulu dengan Xavier dan Xavion,” tandas Resha. Ia mengalihkan pandangannya pada jalanan ke luar, tidak ingin berbicara dengan Gilbert lagi.
Gilbert memeluk tubuh Resha dari belakang, ia menyimpan dagunya pada pundak Resha. Aroma rambut Resha tetap wangi, helaian rambut Resha yang mengenai wajah Gilbert terasa sangat lembut.