Trapped In Mafia Love

Trapped In Mafia Love
Terkalahkan



Resha sudah menarik selimut untuk segera pergi tidur, namun pintu yang terbuka dengan sedikit kencang cukup mengejutkannya. Resha bangkit dari posisi tidurnya dan menatap Gilbert yang terlihat menahan amarah. “Ada apa?”


Gilbert melempar hasil lab pada Resha. Dengan cepat Resha mengambil dan membacanya. Ia cukup terkejut dengan hasil lab tersebut, bahkan kandungannya tertulis dengan rinci di sana apalagi penjelasan serta efek sampingnya tertulis cukup jelas di sana.


“Kau sudah bukan pembunuh bayaran lagi Queresha, lalu untuk apa racun itu. Apa kau ingin meracuniku?”


Resha menatap Gilbert, dengan senyuman tipis di bibirnya. “Sepertinya kau memang sudah di takdirkan mati malam ini,” batin Resha.


Resha melemparkan hasil lab tersebut ke sembarang arah. Ia berjalan mendekati Gilbert, mengusap rahang tegas suaminya. “Kau memang pantas mati dan pergi ke neraka bersama ayahmu!”


Gilbert mendorong tubuh Resha hingga membentur dinding, dengan tangannya sendiri ia mencekik leher Resha. Bukannya takut Resha malah tampak menampilkan wajah berani serta memberikan tatapan merendahkan ke arah Gilbert.


Dengan kekuatannya Resha memukul perut Gilbert, bugh. Tubuh Gilbert sedikit menjauh karena tendangan Resha yang tepat mengenai dadanya.


Gilbert kehilangan keseimbangan namun mampu menegakkan kembali tubuhnya. Pukulan Resha cukup kuat, ucapan istrinya itu membuat luka yang cukup dalam di hati Gilbert. “Atas dasar apa kau ingin membunuhku?”


“Ayahmu telah mengambil nyawa kedua orang tuaku. Ah iya sepertinya aku harus memberi tahu nama asli istrimu ini, sebelum ajal menjemputmu.” Resha mengambil pisau dari laci tempat ia menyimpan senjata. “Aku Elizabeth Mustamu, anak dari mafia yang menguasai kota Bagota. Dan aku akan membalaskan dendamku pada kalian semua, termasuk kamu suamiku.” Ada rasa nyeri saat menyebut Gilbert sebagai suami. Bahkan mereka baru menikah beberapa jam lalu. Sepertinya harapan merasakan menjadi istri Gilbert sirna. Resha mengeratkan genggaman tangannya pada pisau.


“Dendammu sudah terbalaskan Queresha, bahkan aku membiarkanmu hidup sampai saat ini karena aku menutupinya. Aku mencintaimu dan melupakan semua perbuatanmu pada ayah angkatku,” jawab Gilbert. Ia berjalan mendekati istrinya.


Tangan gesit Gilbert menangkap tangan Resha, satu tangan lainya ia gunakan untuk mengambil alih pisau tersebut. Tangan Gilbert membuang pisau, ia tidak berniat untuk menyakiti istrinya sendiri.


“Bodoh,” ejek Resha melihat pisau yang di lembar Gilbert. “Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup,” ucap Resha dengan penuh penekanan. Ia memberikan serangan dengan kaki kirinya menuju pinggang Gilbert.


Gilbert menahan kaki Resha dengan tangannya. Kedua tangan Resha yang terbebas ia gunakan untuk menjadikan kepala Gilbert sebagai pegangan. Kepala Gilbert yang tertunduk karena ulah Resha mendapatkan serangan dari lutut Resha sehingga mengenai wajahnya. Tubuh Gilbert jatuh dengan posisi terlentang, Resha menindih tubuh Gilbert dan meninju wajah suaminya.


Mendapat dua pukulan dari Resha membuat Gilbert segera membalikkan keadaan hingga kini Resha ada di bawahnya. Gilbert menahan kedua tangan Resha agar diam, ia melahap bibir Resha.


Resha merasakan ciu’man lembut dari Gilbert membuat kepalanya memutar memori indah bersama Gilbert beberapa bulan ini. Ada rasa sakit yang Resha rasakan, ia sangat ingin membalaskan dendamnya namun ia juga sangat mencintai Gilbert. Entah kapan ia mulai merasakan cinta itu, tapi di detik-detik terakhir perjuangannya rasa itu tergambar sangat jelas. Resha membalas ciu’man terakhir mereka, ia membiarkan dirinya larut dalam ciu’man itu. Bahkan Resha berani membuka kancing kemeja Gilbert, ia menggulingkan lagi tubuh mereka hingga kini berada di atas tubuh Gilbert. Resha memandang wajah Gilbert yang kini di liputi gairah, ia sangat benci pada pria bodoh ini yang sudah tahu akan mati tetapi masih mencintai diri Resha dengan tulus. Tangan Resha membelai dada bidang Gilbert, tempat ternyaman untuknya bersandar.


Tangan Gilbert bergerak menyentuh pipi Resha. Ia membelainya dengan sangat lembut, “Aku sangat mencintaimu Queresha.”


Gilbert tidak sadar jika Resha berhasil meraih pisau. Dadanya terasa sangat sakit saat melihat Resha mengangkat pisau tersebut tanpa sempat ia cegah.


Jleb, pisau yang di pegang Resha menancap di dada Gilbert. Resha sangat ingin menekan lebih dalam pisau yang ia pegang sampai ke jantung Gilbert agar pria yang berada di bawah tubuhnya mati. Tapi Resha tidak mampu melakukannya, melihat wajah Gilbert yang meringis membuat Resha memilih beranjak dari tubuh Gilbert. Ia membetulkan pakaiannya dan pergi dari kamar Gilbert.