
Ponsel yang ada di tangan Resha berdering ia segera mengangkat panggilan tersebut. “Halo,” sapa Resha.
[Tuan Gilbert ingin bertemu dengan nyonya dan tuan muda. Bersiaplah lima belas menit lagi akan ada mobil yang menjemput.]
Resha tidak menjawab satu kata pun sampai sambungan telepon terputus. Ia berjalan menghampiri ruang tengah melihat Xavier yang sibuk dengan mobilnya sementara Xavion tengah membaca komik di tangannya. Resha menggenggam erat ponselnya.
Sekian lama ia hidup seorang diri berjuang untuk membesarkan kedua anaknya kini Gilbert tiba-tiba meminta bertemu. Ada rasa bahagia bercampur rasa kesal di dalam hati Resha. “Teresa persiapkan anak-anak untuk pergi.”
Resha masuk kembali ke dalam kamar, ia menggunakan dress selutut berwarna hitam tanpa lengan. Ia menata rambutnya dengan sedemikian rupa hingga terlihat rapi.
Xavier dan Xavion tampil rapi dengan tuksedo hitam yang mereka kenakan. “Kita kau ke mana Mom?” tanya Xavier.
“Bertemu Dady,” jawab Resha dengan senyuman di bibirnya.
Xavion menatap ke arah Resha. Selama ini Resha tidak pernah menyebut atau menceritakan tentang Dady sedikit pun, dan tiba-tiba mengatakan jika akan bertemu. “Jangan berbohong Mom!”
Resha menatap ke arah Xavion, lihatlah anak itu jarang berbicara sekalinya berbicara ucapannya tegas seperti Gilbert.
Terdengar suara ketukan dari pintu, Resha menuntun kedua anaknya berjalan.
“Selamat pagi Nyonya Queresha, saya di perintahkan tuan Gilbert untuk menjemput nyonya dan tuan muda.”
Resha menatap Teresa yang berdiri tidak jauh darinya. “Jaga rumah.”
Teresa mengangguk, ia menatap kepergian Resha beserta Xavier dan Xavion.
***
Gilbert sudah melakukan penerbangan sebelum orang kepercayaannya memberi kabar pada istrinya jika ia akan datang.
Gilbert duduk dengan tenang di pesawat pribadi miliknya. Ia menikmati anggur yang ada di mejanya.
Ken sebagai orang kepercayaan Gilbert mendekat ke arah tuannya, ia membungkuk memberi hormat. “Lima menit lagi kita akan sampai Tuan.”
Gilbert mengedipkan matanya, ia memberikan tatapan penuh untuk mengusir Ken. Gilbert sangat tidak sabar ingin melihat kedua putranya.
Resha menuntun Xavier di samping kanannya sementara Xavion di samping kiri. Mereka berjalan di arahkan oleh sopir. “Nyonya tunggu di sini.”
Resha menatap pria yang memakai jas berjajar rapi dengan posisi saling menghadap memberikan jalan untuk Gilbert.
Dari tempatnya berdiri Resha dapat melihat wajah Gilbert yang tampak berkharisma dan lebih berwibawa.
Pria yang berbaris membungkuk memberi hormat secara serentak. Sepatu pantofel hitam Gilbert melangkah menapaki jalan yang akan membawanya ke hadapan istri dan anaknya.
Xavier menggoyang-goyangkan tangan Resha. “Mom Xavier ingin pipis.” Lebih tepatnya Xavier takut melihat wajah Gilbert yang tampak menyeramkan.
Gilbert menghentikan langkahnya satu meter di hadapan Resha. Ia melihat Xavier putra keduanya tampak menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh Resha. “Xavier kemari.”
Panggilan dari suara berat Gilbert membuat Xavier ketakutan dan sekuat tenaga menahan air seninya.
Berbeda dengan Xavion yang berani menatap Gilbert secara terang-terangan.
Melihat Xavier yang tidak kunjung mendekat, Gilbert mengalihkan tatapannya pada sang istri. “Kau tidak pernah memberitahu mereka bahwa aku Dady mereka?”
Resha membalas tatapan Gilbert. “Tidak,” jawab Resha datar. Ia berjongkok dan memeluk tubuh Xavier.
Xavier menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Resha. “Momy kenapa Dady menakutkan?” ucap Xavier dengan nada berbisik.
Resha melepaskan pelukannya, tangannya menuntun Xavier berjalan mendekat ke arah Gilbert. Semakin dekat dengan tubuh Gilbert, Xavier semakin bersembunyi di belakang Resha.
Langkah Resha terhenti ia, menarik tangan Xavier agar keluar dari persembunyiannya. “Mom,” panggil Xavier dengan suara gemetar.
“Tidak apa sayang, ini Dady,” ucap Resha. Ia mendekatkan tubuh Xavier kepada Gilbert.
Gilbert berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan putra keduanya. Tangan Gilbert mengacak puncak kepala Xavier.
Xavier sangat ingin melarikan diri namun melihat senyum tipis yang muncul di bibir Gilbert membuatnya sedikit tenang dan diam menikmati sentuhan dari Daddynya.
“Dady ke mana saja, kenapa membiarkan Momy bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami?” pertanyaan itu muncul dari arah belakang, Xavion berjalan mendekat dengan wajah menatap tajam pada Gilbert.