
_________________________________________
Setelah pemilihan peran dan keterampilan sudah selesai, kami disuruh pergi dan mengikuti komputer untuk pergi ke suatu ruangan baru.
Ruangan yang sekarang kami berada mengeluarkan pintu secara ajaib lagi namun kali ini bukan seperti sebelumnya. Pintu ini mempunyai pembatas dengan warna putih juga seperti warna ruangan ini.
Kami Masuk melalui pintu itu dan melihat lihat ruangan baru yang cukup besar dan juga modern.
Terdapat berbagai interior dan peralatan yang belum pernah saya lihat sebelumnya.
Di kanan dan kiri kami terdapat komputer namun dengan jenis yang berbeda dengan komputer yang ada bersama kami sebelumnya. Komputer disini cukup bagus tetapi tidak sebagus komputer itu. Saya dapat menilai karena dari design nya berbeda namun ada beberapa kemiripan seperti kerangka komputer tersebut.
Rasa penasaran Xander memuncak dan akhirnya dia bertanya kepada komputer
" Ini alat apa sih kok agak mirip sama mu?"
Sambil menunjuk ke arah komputer yang di pajang.
" Mereka adalah para leluhurku, kami mengabdi selama 100 tahun lalu di gantikan dengan penerus yang baru, saya saat ini sudah mengabdi selama 97 tahun jadi hanya 3 tahun lagi saya akan di gantikan".
" Ooh cuma ga keliatan kalau umur mu udah 97 ya, keliatan kamu masih sangat baru dan bagus" jawab Xander
Keliatan nya terdapat emosi di dalam tubuh komputer, terlihat ada emotions ( ꈍᴗꈍ)
Dan saya menyimpulkan bahwa dia sedang malu Dan senang saat di puji. Mungkin belum ada yang memuji dia.
Wajar saja, tidak ada yang akan memikirkan itu jika kau dipanggil kesini sendirian dan kau Tau bahwa sebelum nya kau telah mati. Pasti orang normal memikirkan nasip kedepannya atau orang orang yang dia tinggalkan.
Namun komputer tidak membalas dengan kata kata dan hanya terus berjalan.
Ruangan ini cukup besar jadi membutukkan waktu untuk berjalan sampai ke tujuan. Kami hanya bisa melihat lihat isi ruangan tersebut untuk mengisi kebosanan.
Fandy tiba tiba berbicara
"ada yang buat aku penasaran dari tadi makanya aku diam." Kami sedikit terkejut karenanya.
"Aku mau tau gimana jenazah kami dan apakah pengemudi truck itu ditangkap? Lalu bagaimana reaksi keluarga kami tentang kematian kami?"
Kami diam dan melirik komputer. Dia tetap berjalan, tetapi dia mengatakan sesuatu
"Akan saya jawab jika kita sudah sampai".
Mendengar itu kami semua mengangguk setuju.
10 menit kemudian kami akhirnya sampai.
Kami telah melewati berbagai ruangan yang berbeda beda. Ternyata ruangan lain itu untuk player lain yang datang di waktu yang hampir sama dengan kami (hari ini) Kaki ku cukup lelah berjalan walau hanya sebentar karena setiap hari saya rebahan dan jika ingin pergi kemana pun selalu menggunakan kendaraan, jadi kaki ku tidak terlatih untuk perjalanan jauh dan itu juga menjadi penyebab saya mengambil skil teleportation agar bisa dengan mudah perpindah pindah.
Di ujung ruangan terdapat sebuah cermin besar yang sangah mewah. Dengan berbagai permata yang pasti harganya sangat mahal tersusun dengan rapi di pinggir cermin itu sebagai bingkai.
Kemudian komputer mulai berbicara
"Tujuan kita kesini bukan untuk melihat kondisi jenazah kalian atau apapun yang tadi kau tanyakan" komputer melirik Fandy
"Cermin ini bernama 'lihatlah kebenaran' yang dapat melihat hampir apapun itu. Jadi saya ingin kalian menghadap ke cermin ini agar kalian tau berapa jumlah point yang kalian miliki." Diam sejenak lalu dia melanjutkan
"Ketika kalian sudah mengetahui jumlah point yang kalian miliki maka kalian dapat mendistribusikannya ke status kalian.
Status terdiri dari delapan bagian yaitu, HP, MP, physical attack, physical defend, agilty, magic attack, magic defend, dan juga resistance. saya rasa kalian semua pasti sudah paham tentang itu." Dia melihat ekspresi kami semua.
"Keliatannya ada yang tidak paham, untuk mempersingkat waktu bagian mana yang kalian ingin penjelasan lebih" kata dia setelah melihat raut wajah Xander.
"Aku tau sebagian besar mirip dengan game tapi ada yang tidak ku tau yaitu makna MP dan resistance (penolakan). Itu kan mirip sama defense jadi kok di bedakan". Tanya Satya
"HP (health point) adalah point kesehatan mu dan MP (magic power) kemampuan untuk mengeluarkan magic. Mungkin kalian lebih paham dengan istilah mana. Dan yang membedakan resistance dengan defense adalah jenis serangan yang di terima. Magic defend untuk ketahanan terhadap serangan magic begitu pula physical defend untuk menahan serangan fisik. Sedangkan resistance adalah kemampuan untuk menolak segala serangan yang up normal seperti efek stun, lengket, racun dan sebagainya."
"Baik, cukup jelas" jawab Satya singkat.
"Saya tadi sudah berkata bahwa saya akan memberi tau kondisi jenazah kalian, maka akan saya tepati"
setelah berkata demikian ada cahaya yang sangat menyilaukan yang menerangi kami dan ketika cahaya tersebut padam kami berada di dunia asal kami namun dengan sudut pandang yang berbeda.
Kami dapat melihat dari atas langit dengan sangat jelas keadaan yang Ada di bawah. Terlihat bahwa ada kerumunan di tempat kejadian kami tertabrak. Ada lima mayat dalam kondisi tidak wajar dan sangat mengenaskan. Melihat itu saya langsung mual dan memalingkan wajah. Sangat menyedihkan apalagi itu terjadi kepada kami semua.
Banyak anggota tubuh terlempar ke berbagai arah bahkan saya sendiri tidak mengetahui bagian tubuh yang mana yang milik saya. Jalan itu bersimbah darah segar seakan diselimuti oleh jelly strawberry.
Saya benar benar tidak ingin melihat hal seperti ini untuk kedua kalinya
"Ini adalah kejadian seminggu yang lalu. Kemudian ini adalah kejadian 5 hari yang lalu".
Dalam sekejap pemandangan disekitar berubah ke tempat seperti lapangan dan banyak orang berkumpul disitu.
Saya dapat menebak keluarga siapa yang dikatakan oleh komputer tapi menolak untuk berbicara.
"Kemudian sebagai bentuk permintaan maaf dan penghormatan terakhir kepada kalian, perusahaan itu membuat acara pemakanan yang sedang viral di dunia kalian."
Xander menelan ludah mendengar nya.
"Acara pemakanan yang lagi viral? Maksudnya pemakaman yang ada joget joget nya gitu? Yang pakai musik 'yuno em bogel'? Anjing lah!! Buat malu aja" kata Xander dengan kesal
Saya juga merasakan hal yang sama seperti Xander. Saya suka melihat video yang berhubungan dengan itu tapi saya tidak menyangka bahwa saya yang menjadi object nya. Kami di masukkan ke peti mati karena seperti nya tubuh kami sudah tercerai berai dan tidak cocok jika memakai kain kafan.
Kami melihat orang menari sambil mengangkat peti mati dan diiringi musik sambil tertawa bahagia. Banyak yang ber sua foto dan mengupload ke media sosial mereka.
Mereka bahagia diatas kematian kami!!!
ASU!!!
FUCEK untuk kelen smuanya *******!!!
"Kalian ingin melanjutkan?" Tanya komputer datar
Saya yang tidak ingin melihat orang tua saya sedih karna kehilangan anak laki lakinya mengatakan
"Kalau di lanjutkan malah nambah masalah untuk kita nanti jadi mending kita skip aja lah disini biar kita lanjutkan proses berikutnya"
Kelihatan nya teman teman saya setuju dan muncul cahaya yang menyilaukan seperti tadi dan seketika kami sampai di tempat semula di depan cermin mewah tersebut.
Saya melihat wajah para teman teman saya berubah, entah itu karena malu, marah, kecewa, sedih semua terukir jelas
"Udahlah jangan terlalu dipikirin, mau gimana lagi kan udah terjadi, mau gimanapun ga bisa Kita ubah Kan? Jadi relakan aja" ucapku
Walaupun berat, sebisa mungkin saya menenangkan hati mereka. Xander melirik ku, dan dari tatapannya sudah tau dia sedang marah
"Ga gitu juga! Enak kali kau bilang jangan dipikirin! Kita udah mati dan masuk ke dunia yang ga ku kenal. Aku punya keluarga disana pasti orang itu kecewa sama ku/" dia mengancam dengan mengangkat kerah baju ku
Fandy yang melihat kejadian tersebut langsung melerai kami sedangkan Ars dan Satya hanya menonton
"Jangan main karas, bukan kau aja yang punya emosi boss!!" Dorong Fandy
"Dari awal yang buat masalah itu kelen, yang buat kita semua mati juga kau! Kok kau pula yang paling marah disini!" Seperti Fandy juga tersulut amarah
Mereka hampir saja baku hantam karena hal ini. Kemudian Ars membantu ku melerai perkelahian mereka
"Tenang dulu kenapa kalian, bising kali!
seperti bukan kawan kita semuanya. Apa kita baru kenalan dari Facebook nya ?" Desak Ars
Setelah mereka mulai tenang saya berbicara "kalau aku salah ngomong aku minta maaf Xander, cuma jangan terlalu gampang emosi gitu, kayak yg di bilang Ars seperti baru kenal kita. Kau juga Fan kata kata kau tajam kali, tolong kurangi ya.. sebelumnya juga makasih udah bela aku" kataku dengan nada tenang, tapi jantung ku sebenarnya berdetak sangat cepat.
Xander mengambil inisiatif duluan untuk meminta maaf kepada Fandy
"Maaf Fan, terbawa emosi aku tadi, jadi ga terkontrol"
Fandy juga meminta maaf
"Maaf juga Xan, kasar kali tadi yang ku omongin. Tolong di lupain ya"
"Oke Aman" kata Xander
yang saya lihat masih ada hal yang mengganjal hati mereka.
'mungkin kurang bagus kalau saya angkat bicara tentang masalah ini' pikirku
Komputer dari tadi hanya melihat kami berdebat dan tidak menggambil bagian tentang perdebatan kami. Setelah tidak ada yang berbicara, kemudian komputer yang memberi kami instruksi
"Silahkan mendekat agar cermin mengetahui point kalian"
Satya entah kenapa penuh dengan emosi saat ini dan entah mengapa dia ingin menjadi yang pertama melakukan tes.
Ternyata sebabnya adalah dia tadi melihat keluarganya yang sedang tertawa menyaksikan tarian pemakanan kami dan mangabadikannya dengan kamera. Mereka mempunyai ekspresi bahagia seperti menonton pertunjukan comedy dan lupa bahwa anaknya lah yang ada di dalam peti mati tersebut.
Kecewa dengan tingkah keluarganya Satya dengan cepat berdiri di depan cermin lalu ada cahaya biru dengan garis horizontal turun dari atas ke bawah. Sangat mirip dengan alat scan di bumi.
Namun setelah beberapa kali di scan hasilnya tidak muncul. Kata komputer bahwa normalnya cukup sekali di scan dan hasilnya akan muncul
scan ke lima cahaya biru tersebut berhenti seakan memproses perhitugan point.
Keluar lah point Satya yang terlihat di atas kepala yang ada di cermin
Dan hasilya adalah.....