
Sudut pandang Fandy
Firzan menyuruh kami untuk pergi menghadapi musuh yang lain. Saya sedikit khawatir tentang keselamatan dia. Bagaimanapun, Phonix itu sangat kuat bahkan kami tidak bisa berbuat apa apa.
Bagaimana dia dapat bertahan melawan musuh yang begitu kuat sendirian?
Mengingat wataknya yang walaupun terkesan santai, dia merupakan orang yang sangat ambisius untuk mencapai impiannya. Sangat sulit untuk mengubah pikirannya hanya dengan kata kata.
Saya sudah mengenal dia cukup lama karena dari kecil kami sudah selalu bersama sama. Banyak hal yang saya tau tentangnya dan banyak juga rahasia yang hanya dia yang tau tentang saya. Kami menjadi teman dekat dan saling menghargai satu sama lain.
Dia sangat sering membantu saya disaat saya membutuhkan bantuan dan saya benar benar merasa tertolong oleh hal itu. Tidak hanya sekali atau dua kali, dia sangat sering datang untuk membantu.
Sifatnya yang terang terangan juga membuat saya merasa nyaman dan tidak ingin membuat banyak rahasia dengannya, dia merupakan orang yang dapat saya percaya.
Dia juga masih mau untuk tetap menjadi temanku setelah mengetahui berbagai hal yang selama ini saya sembunyikan, bukannya pergi menjauh tetapi dia malah datang mendekat untuk menolongku keluar dari jurang ini.
Dari dialah saya belajar arti dari seorang sahabat sejati
Saat Xander mengangkat kerah baju Firzan dan mencoba untuk memukulnya, saya menjadi sangat marah dan hilang kendali karena itu. Bagaimanapun ketika teman dekat ku disakiti dan aku melihatnya didepan mata ku sendiri, tidak mungkin aku akan diam saja.
Seakan bukan seperti diriku yang biasanya, saya maju dan mendorong Xander untuk memisahkan mereka. Saya juga mengeluarkan kata kata yang seharusnya tidak saya ucapkan membuat Firzan menegur kesalahan ku, tetapi cara dia menegurku tidaklah kasar dan tetap berterima kasih kepada ku karena telah membelanya.
Saat ini kami sedang berlari untuk pergi untuk menyerang binatang mitos yang lainnya, kami melewati Phonix yang tetap memperhatikan kami berlari.
'jika dia menyerang kami, maka saya akan membuat alasan untuk membuhuh Phonix ini bersama sama terlebih dahulu. Melawan binatang ini sendirian sangat lah berbahaya bagi siapapun diantara kami, peluang menang kami juga sangat kecil melawannya... sial! jika saja serangan ku bisa melukainya..'
Sayangnya Phonix tidak membuat gerakan apapun sehingga kami dapat pergi dengan tanpa ada hambatan.
Kami terus berlari semakin jauh dari tempat Phonix berada. Sebelum Phonix benar benar jauh dari tempat kami, saya sambil berlari melihat ke belakang untuk memperhatikan.
Phonix menyerang ke arah Firzan dengan cepat, tepat sebelum dia berhasil mendaratkan serangan, Firzan menghilang.
'Bagaimanapun tidak mungkin dia menyuruh kami pergi tanpa ada rencana apapun yang dia pikirkan dalam kepalanya, setidaknya aku bisa lebih fokus dengan musuh tanpa harus terlalu khawatir'
Kami terus berlari ke tempat yang lebih rendah menuju ke arah ular raksasa dan juga kura kura, mereka juga berlari menuju ke arah kami.
Xander terus maju dan menyerang ular raksasa yang pertama kami jumpai dengan kedua kapaknya, sebelum mengenai ular tersebut menghindar dengan sangat gesit dan juga mengibaskan ekornya kepada Xander sebagai serangan balasan.
Xander yang tidak siap dengan serangan tiba tiba menerima serangan tersebut dengan telak tanpa ada gerakan untuk menhindar ataupun bertahan.
Akibat dari serangan ular itu, Xander diterbangkan hingga sepuluh meter dan menabrak bebatuan dibelakangnya. Dari kepala Xander mulai mengeluarkan darah yang kental mengalir hingga melewati matanya. Tidak terima dengan serangan seperti itu, Xander bangkit dan mengusap darah yang ada dikepalanya, menyerang kembali secara terang terangan ular yang baru saja menerbangkannya.
'aaaaaa' teriak Xander saat berlari dan ketika sudah cukup dekat, dia melompat untuk bisa menyerang kepala ular dari udara. Hal yang sama terulang kembali, ular dengan mudah menyerang dengan ekornya ketika Xander belum berhasil menyentuhnya.
Xander diterbangkan kembali ke arah bebatuan yang lebih jauh dari sebelumnya, benturan yang dia terima terlihat sangat menyakitkan bagiku.
"hanya orang bodoh yang menyerang secara terang terangan seperti yang kau lakukan, kau juga melakukannya dua kali secara berturut turut.. dasar bodoh" ejek Satya kepada Xander yang sedang tergeletak dengan darah yang lebih banyak dari sebelumnya.
Xander mempunyai kemampuan pasif regenerasi, membuat dia dapat menyembuhkan lukanya sendiri secara perlahan ditambah kemampuan rage dan peran berseker fury yang akan menjadi semakin kuat ketika dia semakin terluka. Ini sungguh cocok dengan sifat Xander yang tidak mengenal takut dan juga mudah marah.
Saya juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Satya bahwa menyerang dengan cara seperti itu adalah hal yang bodoh, sudah dapat diprediksi bahwa serangan seperti itu sangat tidak berguna kepada ular itu, bahkan mendapat serangan balasan dengan sangat cepat tetapi dia tetap menyerang dengan cara yang sama, itu bukan pilihan yang tepat.
"Woi.. kalian kenapa hanya menjadi penonton? bukannya membantu, malah mengomentari... bantu sialan!" teriak Xander dengan marah
"jangan terlalu terburu buru men, kalau mau menyerang juga harus pakai strategi agar kita dapat menang lebih mudah" kata Ars
Ars terlihat sedang mencoba mengingat sesuatu dan tidak lama dia berkata
"aku pernah dengar kalau kelemahan ular selain dengan memotong kepalanya, memotong pangkal ekornya juga dapat melemahkan ular. Jadi kita menunggu waktu yang tepat untuk menyerang antara kepala atau ekornya"
Ars juga mengerti kapan waktu bercanda dan juga kapan harus serius, Saat ini sepertinya dia sedang serius. Dia yang paling sering bercanda diantara kami saat kami sedang kumpul santai bersama, saya hampir tidak pernah melihat dia serius tetapi dari cara dia berbicara saat ini, saya dapat menyimpulkan bahwa dia sedang serius.
"iya *** aku tau, makanya akau menyerang bagian kepalanya dari tadi.." balas Xander
"men, kita serang bersama sama. Dari sini aku saja yang mengambil alih komando untuk sementara karena hanya aku yang berada dibagian belakang" kata Ars.
Kali ini tidak ada yang membantahnya karena mereka juga sepertinya jarang melihat Ars sedang serius. Dibandingkan dengan mereka, saya adalah orang baru didalam tim ini. Saya baru bergabung dengan mereka sekitar lima bulan yang lalu, sedangkan mereka sudah bersama sejak awal masuk kuliah sekitar dua tahun lalu jadi wajar saja mereka sudah lebih dekat dan memahami satu sama lain dengan batasan tertentu.
Mereka tidak menyuarakan apapun dan pergi melaksanakan perintah Ars. Ars mengeluarkan skill nya dan memberi buff pada seluruh anggota tim dan juga membuat ular tersebut kesulitan bergerak.
Badan ular itu terus menggeliat dengan hebat, berusaha keluar dari skill Ars seakan akan ada rantai yang mengunci kepala dan ekornya.
Saya menyerang sesuai instruksi Ars dengan menembakkan panah ke mata ular raksasa itu, beberapa anak panah meleset dan hanya mengenai kepala ular dan seperti biasa, efek beku disekeliling ular tersebut perlahan mulai terlihat. Karena kulit ular yang sangat keras dan padat, bahkan melebihi kerasnya kulit naga, anak panah yang saya tembakkan beberapa justru tidak menancap ke kepala ular, justru terpental seakan tidak terlalu berpengaruh dengan serangan ku. Namun ada satu serangan saya yang berhasil melukai bola mata sebelah kiri ular yang sangat besar itu. Efek beku ternyata bekerja lebih cepat dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya karena ada air yang terdapat bola mata dan mata juga merupakan bagian tubuh yang lebih lembek daripada yang lainnya.
Dari mata ular raksasa itu perlahan mengeluarkan darah dari luka yang saya buat kepadanya dan ular itu menggeliat semakin cepat dan ternyata bagian ekor yang selama ini dikunci Ars terlepas dan melesat ke arah Xander dan Satya yang sedang berlari untuk menyerang ekor tersebut.
Satya mengangkat perisai dengan sigap untuk menangkis ekor ular dan terdengar suara dentuman yang sangat keras.
tttaaaanngggg
Satya bahkan tetap berdiri tegak setelah menahan serangan yang sangat kuat itu.
"Oi, tahan yang benar dong, kami hampir mati kalau terkena serangan seperti itu" kesal Satya
"susah untuk tetap menahan ular itu, ular itu jauh lebih sulit dibandingkan dengan naga tadi" balas Ars
Satya hanya mendecakkan lidah setelah mendengar alasan Ars
Ars saat ini sedang kesulitan untuk menahan kedua bagian tubuh disaat yang bersamaan, panjang ular tersebut membuat jarak antara kepala dengan ekornya semakin jauh.
Xander berusaha untuk dapat memotong pangkal ekor ular sedangkan Satya mencoba menangkis segala serangan ular itu untuk memberi celah bagi Xander untuk menyerang.
Ars benar benar kesulitan untuk menahan kekuatan ular dan kali ini Ars menyerah untuk mengunci ekor ular yang sudah lepas dari skill pengikatnya dan hanya memfokuskan kekuatan kepada kepala ular agar ular tersebut tetap tidak bisa bergerak bebas.
Kami semua terlalu fokus dengan ular sehingga kami baru sadar akan kehadiran kura kura biru saat dia sudah sangat dekat dan dia sudah mengeluarkan bom berwarna biru yang mengarah kepapa Ars. Saya adalah yang pertama menyadirnya dan menembak bom itu sebelum sampai ditempat Ars.
Syukurlah tembakan saya tepat mengenai bom biru dari kura kura itu, namun ledakan yang ditimbulkannya benar benar dahsyat. Kami semua kecuali Satya terdorong akibat ledakan energi berwarna biru itu dan yang mengalami dampak terberat adalah Ars karena dia lah yang paling dekat dari ledakan tersebut.
Saya tercampak hingga beberapa meter, dorongan dari ledakan itu menyebabkan tekanan udara yang terkumpul dan mendorong segala sesuatu disekitarnya dengan sangat cepat.
Tidak ada luka yang terlalu parah pada tubuh saya selain luka goresan di lengan kanan akibat terjatuh dan menghantam batu yang kasar.
Saya langsung bangkit dan melihat keadaan sekitar, debu bertebaran ke segala arah dan saya melihat Ars yang tergeletak di puing puing bebatuan. Saya menghampirinya dan mengangkat bebatuan yang menimpa dirinya. Keadaan Ars saat ini cukup parah dengan darah yang mengalir dari hampir seluruh badannya tetapi dia masih sadarkan diri.
"hey Ars, bangun... kita masih bertempur dengan binatang binatang itu, jika kau pingsan sekarang bisa bisa kita semua mati disini" kata ku sambil mengangkat tubuhnya yang terkulai lemas.
"aaggh..." erangan Ars terdengar lemah
"jangan mati, kau masih sadar kan? coba obati luka luka mu sendiri, di tim ini kau supportnya jadi cobalah untuk bertahan" kata ku
Saya memposisikan tubuh Ars agar bisa duduk dengan batu besar sebagai sandaran. Ars yang masih sadar mencoba mengeluarkan sihir pengobatan kepada dirinya sendiri dan dengan cepat luka luka yang parah tadi menghilang.
Keadaan Ars kemudian semakin membaik, itu benar benar kemampuan yang menyeramkan untuk bisa menyembuhkan luka dengan kecepatan yang sangat gila.
Sungguh tidak masuk akal untuk dapat menyembuhkan diri tanpa obat obatan, tetapi saya pernah melihat video orang yang mempunyai ilmu hitam di dunia ku sebelumnya yang dapat menyembuhkan dirinya sendiri dari luka tebasan hanya dengan sekali usap, tetapi ini jauh lebih kuat dari itu.
Saya sangat yakin jika ini adalah dunia kami yang sebelumnya, kemampuan Ars dapat membuat negera lain berperang hanya untuk memperebutkan kekuatannya dengan paksa. Bayangkan berapa banyak nyawa yang dapat dia selamatkan, orang orang dengan luka yang sangat parah bisa sembuh dan bahkan seperti sebelumnya, keadaan dirinya yang sudah hampir sekarat tetapi dapat sembuh dengan sangat cepat.
Saya yang sedang memperhatikan proses penyembuhan Ars melihat wajahnya yang kembali bernyawa seperti sebelumnya, beberapa detik kemudian ekspresi Ars berubah sangat drastis, matanya terbelalak seakan terkejut dengan sesuatu.
Dia melihat sesuatu yang ada berada dibelakang saya, secara refleks saya menoleh kebelakang mengikuti pandangan Ars. Ternyata penyebabnya adalah ular yang tadinya tidak bisa bergerak, sekarang maju dengan cepat ke arah kami dan membuka mulutnya lebar lebar untuk melahap kami berdua sekaligus.
Getaran yang ular itu timbulkan terasa semakin kuat saat dia semakin dekat dengan kami.
"Awas Fan!!!" teriak Ars kearahku yang terpaku dengan pemandangan yang tiba tiba itu
Ars mengeluarkan sihir gravitasinya dengan cepat ke arah ku dan menerbangkan ku untuk bisa menghindari serangan ular raksasa tersebut.
Saya menabrak bebatuan tetapi itu tidaklah terlalu sakit, saya seketika dengan panik melihat ke arah Ars yang menyelamatkan diriku.
Ars sudah dimakan ular raksasa itu.
Lutus saya menjadi lemas melihat pemandangan itu dan saya terjatuh karena shock.
'Ars sudah mati demi menyelamatkan ku'