
Sudut pandang Ars
Flashback
"Baiklah, perburuan hari ini dimulai!"
Setelah ayah berkata seperti itu, kami semua berjalan mendekati ayah dan para penjaga membawa peralatan dipunggung mereka. Pemandu berjalan paling depan menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan hutan ini.
Dia menjelaskan bahwa ini adalah salah satu hutan dengan curah hujan yang tinggi sehingga tumbuhan seperti lumut dapat berkembang dengan sangat cepat dan menyebabkan jalan dihutan ini menjadi sangat licin.
Kami memasukai hutan dengan awal seperti ada gapura kecil dan papan kecil yang bertuliskan informasi seputar hutan ini.
"Kawasan berbahaya! Banyak hewan buas yang berada disekitar sini, harap berhati-hati"
Papan tersebut mempunyai gambar seperti harimau yang sedang mengaum untuk memperingatkan kami bahwa didaerah ini adalah habitat asli dari berbagai hewan buas. Saya sering mendengar bahwa harimau yang terkuat di dunia adalah harimau sumatera dan dihutan inilah tempat tinggalnya.
Jantung saya berdetak sangat kencang karena gugup dan takut akan diserang hewan buas tetapi saya terus berusaha menenangkan diri agar tidak menjadi beban orang lain. Saya harus menjaga kehormatan ayah dan juga saya sebagai anak dari tuan mereka. Saya tidak akan membuat ayah saya malu dan juga menyesal memilih saya sebagai penerusnya didalam bisnis yang saat ini sedang dia jalani.
Sampai saat ini saya tidak tau bisnis apa yang ayah lakukan dan ayah juga tidak pernah cerita sedikitpun kepada saya sebelumnya mengenai bisnis. Saat dia berada dirumah, saya juga sangat jarang berbicara dengan ayah karena dia selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Sering saya berpikir apakah dia masih memperhatikan saya sebagai anaknya tetapi hari ini dia sepertinya ingin memperbaiki hubungan kami yang sebelumnya sudah menjadi kaku. Saya pun senang dengan perubahan ayah yang tidak biasa, saya tidak pernah melihat ayah tertawa sebelumnya tetapi pagi ini dia tertawa bahagia didepan saya.
Menapakkan kaki dengan hati-hati, saya berusaha mengikuti langkah kami seluruh anggota tim yang semuanya adalah orang dewasa dan hanya saya lah anak kecil di tim ini. Mengimbangi kecepatan langkah kaki mereka sangat sulit ditambah medan yang licin dan tidak rata seperti ini. Namun saya selalu berada ditengah tengah bersebelahan dengan ayah saya, mereka mengetahui bahwa saya tidak bisa mengikuti kecepatan orang dewasa sehingga mereka lah yang menyesuaikan langkah kaki saya.
Ayah saya ingin saya selalu tetap aman, begitu juga dengan dirinya sendiri. Melindungi kami berdua sudah menjadi tanggung jawab dari pekerjaan mereka dan karena itu mereka mendapatkan gaji.
Saya merasa bangga bahwa saya dilahirkan dari ayah yang hebat seperti dirinya dan suatu saat saya ingin menjadi sepertinya, begitulah yang saya pikirkan saat itu.
"Mohon berhati-hati tuan, saat ini kita akan berjalan mendaki, jangan sembarangan memegang pohon-pohon sebagai tumpuan karena terkadan ada binatang beracun yang bergelantungan dibatang atau dahan pohon. Jalan didepan akan menanjak dan sangat licin, tadi malam baru saja terjadi hujan menyebabkan tanah menjadi semakin lembek dan berlumpur."
Saya mendengar dan menerapkan apa yang dikatakan pemandu kami agar lebih berhati hati. Kami terus masuk kedalam hutan untuk mencari binatang untuk diburu, perjalanan menyusuri hutan selama dua jam membuat saya menjadi kelelahan secara fisik dan kaki saya mulai terasa pegal.
Di depan terlihat sebuah pohon yang cukup besar dan tidak banyak tumbuhan yang tumbuh di sekitarnya, ayah memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon itu dan kami semua mengikuti perintahnya. Berjalan selama dua jam itu merupakan pekerjaan yang melelahkan, ditambah jalan yang kami lalui sangat sulit membuat kami harus mengeluarkan tenaga ekstra.
Pengawal membentang sebuah tikar lipat sebagai tempat untuk kami duduk dari tas besar yang digendongnya, kami semua mulai duduk dan menikmati pemandangan yang begitu asri di dalam hutan ini.
Ayah yang duduk di sebelah ku berbicara dengan santai "Kamu tau kenapa ayah sangat menyukai berburu di hutan? bukan untuk membunuh binatang, tujuan ayah adalah untuk mempertajam insting dan juga menenangkan pikiran." Ayah melanjutkan "Ketika berada di hutan, kepekaan terhadap lingkungan di sekitar akan meningkat sehingga kau dapat merasakan sesuatu menjadi lebih jelas. Hal lainnya adalah pikiran dapat menjadi rileks setelah melakukan berbagai aktivitas yang memusingkan kepala"
Saya hanya diam dan mendengarkan ayah berbicara tanpa membalas atau merespon perkataan ayah.
"Sepertinya kita masih harus berjalan cukup jauh untuk dapat melihat binatang buruan itu, ayah yakin bahwa kamu sekarang sudah lelah karena perburuan ini tetapi ingat bahwa ini bahkan baru saja dimulai. Kau harus bersabar dan dengan tenang menikmati..."
Saat sedang berbicara, ayah tiba tiba berhenti dan melihat sesuatu yang ada di belakang saya. Dengan sigap ayah menangkap ular yang mencoba loncat dari dahan pohon dan menggigitku. Saya sangat terkejut karena ular yang hampir saja dapat menyerangku jika ayah tidak mencegahnya.
Sambil memegang ular yang meronta untuk dilepaskan ayah berkata "Inilah yang ayah maksud untuk selalu berhati hati, kita dapat diserang kapan saja oleh binatang yang lapar dan menganggap bahwa kita adalah mangsanya"
Para penjaga mendekati kami dengan tergesa gesa saat melihat ayah sedang memegang ular.
"Maaf tuan, kami terlalu fokus untuk mengamati sekitar hingga tidak menyadari ular yang ada di atas pohon itu" Kata salah satu penjaga
"Ya tidak apa, selama saya dan putra saya tidak terluka itu tidak akan menjadi masalah. Bagus untuk mengawasi dari jauh tetapi jangan mengabaikan apa yang ada di dekat kalian." kata ayah pada mereka
"Baik tuan!"
Ular yang menyerang saya berukuran tujuh puluh senti meter dan berwarna hijau. Saya tidak tau apakah itu berbisa atau tidak tetapi tetap saja sepertinya itu cukup berbahaya bagiku.
Ayah melepaskan ular itu dan bukan membunuhnya. Ular yang lepas langsung merayap dan menjauh pergi dengan tergesa-gesa. Saya penasaran dengan tindakan ayah dan kali ini saya memberanikan diri untuk bertanya karena saat ini suasana hati ayah baik.
"....Ayah, kenapa ular itu dilepaskan? apa tidak lebih baik untuk membunuhnya saja?"
Ayah melirik dan tersenyum "Pertanyaan yang bagus! walaupun berbahaya, ular mempunyai kegunaan di dalam dunia ini. Apakah kau sudah belajar tentang ekosistem di sekolah?"
Saya hanya menggelengkan kepala, saya bahkan tidak tau apa yang dikatakan ayah.
Ayah terus berbicara meskipun saya tidak mengerti apa yang dibilangnya.
"Terkadang ada kejadian dimana puncak rantai makanan menjadi target sebagai makanan. Manusia menganggap dirinya sebagai salah satu puncak rantai makanan namun jika berhubungan dengan binatang yang lebih kuat, manusia juga dapat terbunuh karena fisik manusia tidak terlalu kuat dengan binatang buas. Kelebihan manusia sehingga bisa menjadi puncak rantai makanan adalah otak. Jika kau tidak bisa menggunakan otakmu lebih baik, maka kau tidak ada bedanya dengan binatang yang akan dimangsa."
Saya masih belum paham tentang apa yang dibicarakan ayah dan apa hubungannya dengan tindakannya yang tidak membunuh ular.
"Itu hanya sedikit penjelasan harus kau ingat dan mengenai ayah yang tidak membunuh ular karena ular dapat membunuh mangsa seperti tikus untuk membantu para petani menjaga padi dan tumbuhan lain yang ditanamnya. Jika tidak ada ular maka ekosistem akan terganggu. Kau sudah paham"
sejujurnya saya masih tidak puas dengan jawaban dari ayah tetapi saya hanya mengangguk.
"Tapi keadaan saat ini berbeda, saat ini kita tidak dalam posisi yang ingin membantu para petani dan juga ini adalah hutan bukannya persawahan. Sekarang kau cari ular itu dan bunuh dia, itulah adalah perburuan pertama bagimu." Kata ayah sambil menyerahkan pisau kepada ku.
"....eemm" Saya dengan ragu mengambil pisau dan berjalan ke tempat ular itu pergi dengan melihat jejak ular yang ada di tanah.
"Kelemahan ular ada di kepalanya dan juga jika ekornya kau potong, itu akan menjadi kerugian besar bagi ular" Kata ayah ketika melihatku pergi mengejar ular.
Saya berjalan dan memeriksa rerumputan sekitar. Sangat banyak serangga dan bintang kecil lainnya yang sedikit menjijikkan tetapi saya tetap mencari ular tersebut. Memgibaskan rumput dan tumbuhan lain yang menghalangiku, aku terus berjalan mencari jejak ular.
Akhirnya setelah lima menit mencari, saya menemukan ular itu yang sedang bersembunyi. Ketika saya melihatnya, dia langsung melompat dan menyerang wajah saya. Beruntung, saya terjatuh karena terkejut dan ular itu tidak mengenai saya.
Saya berdiri dengan pisau di tangan kanan saya dan badan yang sedikit menunduk untuk melihat pergerakan ular itu. Saya menunggu hingga ular menyerang lagi untuk dapat melakukan serangan balasan, hal tersebut ternyata memberi ular waktu untuk pergi menjauh.
Saya mengejar lagi dan melempar batu namun tidak mengenai ular yang merayap di tanah itu. Saya frustasi dan memutuskan untuk melompat ke arah ular dengan pisau di tangan saya.
Anehnya, kali ini saya berhasil mengenai badan. Badan ular itu tertusuk dan saya juga terjatuh akibat lompatan yang terlau tergesa-gesa.
Ular tidak mati dan kembali menggigit lengan saya disaat saya masih belum berdiri.
Gigitannya terasa menyakitkan. Saya menjadi geram dan mecabik cabik badan ular tersebut agar gigitan ular terlepar dari lengan saya. Badan ular terbelah dua tetapi ular tidak juga mati dan melepas gigitannya.
Ayah memperhatikan saya dari belakang secara diam-diam dan mendekat.
"Ingat, kelemahan mahkluk hidup biasanya berada di kepalanya dan ular tidak terkecuali" Ayah dengan tangannya memegan mulut ular dan ular itu akhirnya melepaskan gigitan.
Ayah melemparkan lagi ke tanah, menyuruh saya untuk membunuh ular itu lagi.
"Sekarang bunuh"
Ular menggeliat dengan darah yang bercucuran dari badan yang telah saya potong sebelumnya. Ular itu terlihat sekarat dan bahkan jika saya tidak membunuhnya, dia akan mati sendiri karena kekurangan darah.
Saya bersiap untuk memenggal kepala ular tetapi tidak akan sembrono seperti sebelumnya. Saya menangkap kepala ular dan mendekapnya ke tanah. Ular berusaha melepaskan diri dari tangan saya, usaha dia sepenuhnya sia sia ketika pisau yang ada di tangan saya berhasil memotong kepala ular.
Badan dan kepala ular itu terbelah menjadi dua bagian, Ular itu pun mati.
Ayah tersenyum ketika melihat saya berhasil membunuh ular "Bagus Ars, kamu berhasil membuhun binatang buruan pertama dengan cukup lumayan baik."
Saya hanya tersenyum kembali sebagai balasan. Saya juga cukup bangga berhasil memenuhi perkataan ayah.
"hhmm...sepertinya tangan kamu sedikit terluka...tetapi jangan khawatir karena racun ular itu tidak terlalu berbahaya dan untuk seusia mu hanya menyebabkan pusing ringan saja." Ayah kemudian melanjutkan "Tapi...ayah tidak ingin kamu merasakan sakit sedikitpu, coba ambil peralatan medis dan berikan obat kepada putraku sebagai pertolongan pertama" Perintah ayah kepada penjaga.
Saya disuntik dan juga diberi obat ringan untuk pencegahan racun.
Betapa khawatirnya ayah terhadap saya
"Baiklah, mari kita lanjutkan perburuan hari ini!"
"Baik tuan!" Kata pengawal serempak.