
Pembantaian dimulai.
Saat ini Ars terus menyerang pasukan musuh dengan bentuk naga petir dengan brutal dan kelihatannya dia juga sangat menikmati membunuh iblis dan makhluk upnormal lainnya.
Teriakan dapat terdengar dimana-mana dan bunyi benda yang besar menghantam tanah menambah kebisingan disini. Setiap serangan Ars pasti menyebabkan korban jiwa atau paling tidak luka parah bagi mereka yang terkena serangan tersebut.
Fandy juga tidak ketinggalan dengan menyerang anak panahnya secara diam diam dan beberapa pasukan mati sekejap dengan satu tembakan. Tembakan panah yang dia lontarkan bahkan menembus beberapa orang sehingga mereka mati dalam sekejap. Saat ini tidak ada yang memperhatikan tembakan Fandy karena mereka hanya fokus memperhatikan Ars yang dalam bentuk naganya menyerang mereka.
Sedangkan Satya hanya berdiri di dekat ku dan menonton serangan mereka. Saya masih mengamati pertempuran ini dan membuat
Ars mulai terbang keatas langit dan meniru gerakan naga untuk mengumpulkan energi petir di dalam mulutnya. Energi itu perlahan mulai terbentuk dan terkumpul tetapi salah satu komandan pasukan unit sihir melemparkan sihir api tepat mengenai energi itu dan menyebabkan energi sihir yang berbeda bertabrakan.
Bola energi yang dikumpulkan Ars pecah dan meledak mengenai dirinya sendiri.
*Dddwwaarr
Ars terjatuh dari langit dan menabrak bukit. Terguling hingga ke bawah dengan keras dan dia kembali ke bentuk aslinya.
Dengan sangat cepat musuh langsung mengelilingi dan menyerang dengan segala yang mereka bisa. Tembakan panah, sihir dan benda tajam mengarah kepada Ars yang meringkuk di tanah.
Fandy dengan inisiatif sendiri maju dengan kecepatan penuh dan melesat sangat cepat menerobos pasukan musuh tanpa menyentuh mereka sedikitpun. Dengan kedua digger yang dipegangnya dia membunuh iblis dan monster yang berusaha menyerang Ars, gerakan Fandy sungguh sangat cepat dan lincah saat berlari dan memotong musuh.
Fandy adalah seorang atlit junior yang mengharumkan nama sekolah asalnya dulu. Dia pernah memenangkan lomba lari jarak dekat, renang dan juga memanah. Sayangnya, impian dia untuk menjadi atlit harus kandas di tengah jalan akibat permasalahan di dalam keluarganya hingga membuat dia depresi dan menyerah untuk mengejar mimpinya. Bahkan dia tidak mau melanjutkan ke perguruan tinggi dalam bidang olahraga.
Bakat Fandy menjadi sia sia setelah itu dan ketika depresinya hilang, dia memutuskan untuk hidup mandiri dan bekerja bersama kakaknya membuat usaha warung makan agar dapat membiayai kehidupannya sehari-hari.
Sebelum Fandy sampai untuk menyelamatkan Ars, Ars sudah beberapa kali diserang hingga keadaannya cukup mengenaskan. Ratusan pasukan menyerang satu orang yang terbaring lemah sudah wajar jika sebentar saja mengakibatkan orang itu terluka sangat parah.
*Ssrrrtt
*Aaghhkk
*Sssrrtt
Potongan tubuh iblis dan monster terjatuh ke tanah. Erangan dan teriakan iblis yang tidak mati oleh serangan Fandy dapat terdengar hingga ke tempat kami berada. Fandy mengangkat tubuh Ars dan mundur secepat mungkin dari kepungan musuh. Dia menghindar dan bergerak dengan lincah tetapi sesekali dia terlihat sangat kesulitan dalam menyeimbangkan tubuhnya karena berlari sambil menggendong sesuatu itu sulit.
Saya mengeluarkan sihir cahaya dan membentuknya seperti bola, bola itu terbang ke atas langit dekat dengan tempat Fandy yang berlari menggendong Ars. Saya membuat bola cahaya itu meledak sehingga cahaya yang sangat menyilaukan membuat semua orang di area itu menutup matanya dengan tangan atau benda karena tidak tahan cahaya yang begitu terang.
Fandy tidak terkecuali terkena kilauan cahaya dan menyipitkan matanya. Seperti kami sudah merencanakan ini sebelumnya, Fandy mengerti apa tujuan saya mengeluarkan sihir seperti ini. Dia tidak berhenti berlari dan memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan ini untuk melarikan diri.
Setelah Fandy sampai ke tempat kami, dia meletakkan tubuh Ars dengan posisi tertidur di tanah. Sungguh suatu keajaiban bahwa Ars masih hidup hingga sekarang karena kondisinya berlumuran darah dan banyak luka akibat tebasan benda tajam, terbakar dan juga anak panah yang masih menempel di berbagai anggota tubuhnya.
Ars pingsan tetapi saya masih merasakan bahwa dia sedang sekarat. Kenapa dia sangat ceroboh dan maju sendirian? Dia adalah support di tim kami tetapi kenapa dia merasa seakan dia adalah demage dealer yang menyerang di garis depan?
Memang benar bahwa saya yang menyuruhnya maju tetapi tidak sendirian dan tanpa rencana juga. Saya merasa bersalah karena memberikan perintah yang tidak jelas kepada teman saya sendiri sehingga sekarang dia terluka.
Saya berkata kepada Satya dan juga Fandy "Satya, kau lindungi kami agar tidak ada yang menyerang ku saat menyembuhkan Ars. Kondisi dia sekarang sangat parah dan sepertinya dia bisa mati kapan saja, tolong jangan mengeluh ya." Satya membalas dengan anggukan.
"Fan, kau serang mereka semua untuk menyingkirkan musuh yang menyerang kesini. Cobalah bunuh mereka secepat mungkin" Kata ku dengan terburu buru.
Pasukan musuh sekarang terfokus kepada kami berempat karena tidak ada lagi naga yang mengalihkan perhatian mereka. Seperti tsunami, mereka menyerang kami yang hanya tidak sampai hitungan jari melawan mereka yang sekarang berjumlah kurang dari sepuluh ribu.
*Cttakk
*Cttakk
*Cttakk
Bunyi Fandi menenbakkan anak panah ke arah pasukan yang tidak ada habisnya.
"Barrier!" Teriak Satya. Setelah dia berkata mantra itu, muncul penghalang berbentuk kubus yang mengelilingi saya dan Ars. Barrier ini semi transparan dan agak berwarna kuning sehingga saya dapat melihat dengan jelas kondisi disekitar saya.
Satya berdiri di depan kami untuk menghalau musuh menyerang kami. Sepertinya mereka semua juga sudah paham dengan cara kerja kemampuan mereka sendiri jadi saya tidak perlu mengkhawatirkan perkembangan mereka.
Selama saya menyembuhkan Ars, Satya dan Fandy terus menyerang dan juga bertahan dari serangan musuh. Mereka sangat kesulitan melawan mereka semua hanya dengan berdua saja. Sesekali terdegar suara ledakan dari lokasi Xander dan kura kura yang sedang bertarung, sepertinya mereka masih terus bertarung dan belum ada yang keluar sebagai pemenang.
Binatang buas dan juga monster sangat sering memukul dan mengelilingi kami yang di dalam barrier Satya tetapi barrier ini tetap kokoh bahkan tidak lecet sedikitpun. Terima kasih untuk Satya karena pertolongan ini.
Tentu saja dengan ribuan musuh yang menyerang tidak akan mungkin menghalangi mereka semua untuk menyerang kami. Terkadang saat bertahan, Satya melihat ke belakang untuk mengecek kondisi kami saat ini dan apakah pelindung yang dia pasang telah hancur.
Setelah lima menit, Ars akhirnya mulai tersadar kembali. Dia bangkit dari tidurnya dan mengerang sedikit karena sakit yang ada masih belum sembuh sepenuhnya. Memegang kepalanya dengan tangan kanan dan memeriksa apakah ada darah masih mengalir dari situ.
Darah Ars sebagian besar sudah saya bersihkan sehingga tidak ada lagi yang tampak jelas. Hanya ada sisa noda yang menempel di pakaiannya yang tidak mungkin saya bersihkan.
"Jangan terlalu ceroboh *** untuk menyerang mereka sendirian. Kenapa kau malah meniru Xander? Kupikir kita akan sama sama menyerang mereka." Kata ku pada Ars yang masih melihat kondisi tubuhnya saat ini.
Saya tidak bertanya mengenai keadaannya dan langsung memarahinya. Menurut saya sangat canggung kalau sesama lelaki menunjukkan perhatian seperti bertanya keadaan atau sebagainya, apalagi kami sudah sangat dekat dan di tambah saya juga sudah tau separah apa lukanya saat ini.
Ars belum bisa dibilang sembuh total tetapi sudah tidak dalam keadaan sakit parah. Posisi kami saat ini sedang dalam keadaan terdesak, kami harus bisa membalikkan keadaan yang tidak menguntungkan ini.
"Woi sadar dulu kau ***, jangan tiduran lagi. Kita lagi perang ini bukan lagi di pantai yang bisa santai-santai dengan tangan yang melambai" Kata ku sambil menambar perlan wajah Ars untuk menyadarkan dia.
Setelah bangun Ars malah mau merebahkan badannya kembali. Mungkin sudah di dalam alam bawah sadar dia yang menyukai rebahan sehingga bahkan dalam keadaan setengah sadar dia ingin kembali rebahan.
"Apaan sih Zan, kok malah pantun pula kau" Balas Ars sedikit tidak nyaman saat wajahnya saya tampar pelan.
"Sadar kau dulu makanya. Kita lagi terpojok ini, bisa bisa kita mati lagi kalau terus seperti ini."
Ars memperhatikan sekitar kami dan dia menyadari bahwa kami sudah sangat terkepung, "Kalau gitu tunggu sebentar, aku mau sembuhkan luka ku dulu. Ini masih terasa sakit."
"Ehhh...tunggu dulu. Ini kau Zan yang sembuhkan aku? Kok bisa kau...bukannya kau tidak ada pilih keterampilan healer ya?" Tanya Ars setelah tau bahwa saya yang menyembuhkan dia.
"Pakai ini!" Balasku dengan menunjuk kepala.
"Hilih bicit!" Kata Ars sambil bercanda.
Ars menyembuhkan diri dia sendiri dan muncul cahaya lembut yang menerangi dirinya. Tidak sampai sepulu detik, cahaya itupun menghilang beserta luka yang diderita Ars.
"Oke, Jadi bagaimana rencana kita kapten?"
Sangat jarang Ars memanggilku seperti itu. Saya juga heran kenapa sekarang dia memanggilku 'kapten' saat ini tetapi tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu.
Setelah diam dan berpikir sejenak, saya menjawab "Jadi seperti ini rencananya. Saat ini posisi kita sedang tidak bagus, jadi lebih baik kita mundur sebentar untuk menyerang mereka kembali dari depan. Sekarang kita terkepung dari berbagai arah dan itu sangat tidak menguntungkan kita"
"Caranya bagaimana? Kalau hanya bicara saja sih enak."
"Setelah barrier Satya terbuka, kau langsung pakai gravity untuk menerbangkan kita semuanya termasuk musuh hingga sangat tinggi. Saat sudah di atas, kita cari Satya dan Fandy dan fokuskan skill mu untuk menerbangkan kita berempat ke tempat yang lebih aman. Untuk musuhnya yang ikut terbang, tinggal kau lepaskan saja gravity mu atau banting mereka biar sekalian mati."
"Hhmm...boleh juga, oke Zan. Oh iya, selama kita terbang jangan lupa serang mereka juga biar makin cepat kita selesai"
"Siap bos!"
Kami mendekat ke ujung barrier yang paling dekat dengan Satya dan berteriak agar dia bisa mendengar kami "Woi Satya! Sudah bisa kau buka pelindungnya!"
Tidak ada respon dari Satya, dia saat ini sedang sangat sibuk berurusan dengan dengan para iblis dan monster yang menyerang dirinya.
"Woi! Buka!" Teriak kami sambil memukul-mukul barrier ini.
Dia tetap mengabaikan kami. Apakah ini kedap suara sehingga tidak ada yang terdengar hingga keluar?
"Buka!"
"Woi Satya buka!"
Ooohhh sial. Kenapa malah kami yang terkurung di pelindung ini!