Too Ez For Us

Too Ez For Us
chapter 20 - Saatnya Pembantaian (3)



chapter 20


"Woi Satya, buka dulu pelindung ini! Kami mau keluar!" Teriak Ars


"Kok bisa dia tidak mendengar kita Ars? Kalau gitu lebih baik kita hancurkan saya perisai ini dari dalam" Kata ku sambil melihat Satya yang tidak terlalu jauh dari posisi kami, dia sedang bertarung dengan para musuh. Walaupun beberapa serangan musuh berhasil mengenai dia, tidak ada luka yang terlihat di tubuhnya, hanya perlengkapan yang dia pakai terlihat mulai kotor.


"Coba kau hancurkan Zan, nampaknya ini sangat keras dan sulit untuk dihancurkan."


"Akan ku coba." Aku mengeluarkan sihir api di tangan kanan dan melempar nya ke arah pelindung. Api tersebut hanya menyebar dan tidak ada efek terhadap perisai, pertahanannya sangat kokoh dan sulit ditembus.


Jika perisai ini mudah dihancurkan, maka kami sebelumnya akan dalam keadaan yang berbahaya.


Monster terus menyerang Fandy dan Ars yang ada di luar pelindung, kami berdua juga termasuk target amarah mereka. Tidak henti-hentinya mereka menyerang dari semua sisi pelindung ini dan berusaha menghancurkannya.


Kami juga berharap pelindung ini hancur, untuk sekarang ini lebih bisa disebut sebagai penjara, bukannya pelindung.


Melihat serangan ku yang bahkan tidak meninggalkan jejak kepada pelindung itu, Ars mulai mengambil tindakan.


"Sebelum kau datang, aku sempat dimakan oleh ular raksasa itu, tetapi aku bisa bebas karena menghancurkan perut ular menggunakan transformasi membesar dari dalam tubuh ular ." Ars mulai menggunakan keterampilannya dan mulai membesar menjadi raksasa.


Tembok itu bahkan tidak bergeser sedikitpun dengan dorongan tubuh Ars yang hampir memenuhi pelindung ini. Saya bahkan mulai kesulitan bernafas karena sedikit terjepit oleh badan Ars.


Satu menit berusaha mendorong atap perisai yang berbentuk kubus itu, Ars menyerah.


"Hahh...susah untuk menghancurkannya." Keluh Ars. "Ada cara lain Zan?"


"Hmm...gimana ya, akan ku coba serang dengan semua sihir yang ku punya."


Saya mengeluarkan petir yang membentuk seperti tombak yang berukuran sekitar satu meter dan melemparkannya.


*Dduaarr


Petir dengan kuat menghantam pelindung tersebut, aliran petir mulai tersebar dan memantul di dalam pelindung kubus ini. Saya dan Ars juga merasakan dampak dari serangan ku sendiri, Badan ku sedikit terasa seperti kesemutan.


Retakan kecil mulai terlihat dan muncul harapan bahwa saya bisa menghancurkan pelindung ini.


Monster dan iblis itu semakin heboh karena melihat serangan yang hampir mengenai mereka, jika tidak ada pelindung itu maka mereka yang ada di luar sudah pasti mati. Bodohnya, mereka menganggap ini sebagai peluang dan mulai mengarahkan retakan itu sebagai pusat serangan. Tidak sepenuhnya salah, tetapi itu sangat beresiko bagi mereka untuk terkena serangan saya berikutnya.


"Coba serang lagi pakai petir mu Zan, sepertinya itu cukup efektif." Kata Ars yang juga melihat retakan itu.


"Oke, tapi aku mau coba elemen lain sebelumnya Ars, dari tadi aku penasaran sama elemen kegelapan, cuma belum pernah ku pakai. Biasanya pratagonis anime isekai pakai elemen kegelapan kan ***, aku mau kayak gitu, keren juga kan."


(***, cuy, cok, men, dsb. adalah sebutan akrab diantara kami semua untuk mengganti nama salah satu diantara kami)


"Suka mu lah Zan." Balas Ars dengan biasa.


Saya mengumpulkan sihir kegelapan dan melemparkannya, terlihat seperti hanya melempar lumpur ke tembok. Kegelapan yang seperti bayangan itu hanya mengenai pelindung dan jatuh ke bawah.


Ars yang melihat ini mulai mencemooh saya "Kau makan itu kegelapan." Saya hanya tersenyum sedikit malu.


Melihat lebih dekat, bayangan itu tidak seketika hilang dan tetap berada di bawah pelindung. Setelah beberapa detik, bayangan itu hilang dan menimbulkan kerusakan yang cukup kepada pelindung. bagian pelindung yang bersentuhan dengan bayangan mulai terlihat mengalami korosi yang cukup parah.


Lubang lubang kecil mulai membekas dan monster monster itu semakin giat untuk memukul bagian yang berlubang.


'Jika seperti itu cara kerjanya, lebih baik saya gabungkan saya elemen petir dengan kegelapan'


Saya menciptakan tombak petir yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya dan menambahkan elemen kegelapan di dalamnya. Petir yang semula berwarna biru agak ke kuning kuningan berubah menjadi hitam kelam, seperti api gelap yang menyambar.


Ars yang tidak ingin terkena dampak serangan ku mulai mundur hingga ke ujung pelindung yang berlawanan. Jika serangan petir kecil saya sudah mulai terasa kepada dia, apalagi serangan yang seperti ini.


*Wwuusshhh...Dduuarr


Tombak petir hitam itu melesat dan menyambar pelindung yang mulai berlubang itu. Terjadi ledakan yang cukup dahsyat sehingga menyebabkan dua meter lubang yang terbuka dari pelindung ini.


Monster monster yang ada di balik perisai tercampak cukup jauh dan gosong terkena petir hitam yang kuat itu.


Suara ledakan itu menyebabkan Satya melihat kami dan tau bahwa saya yang menghancurkan pelindung dia. Perhatian semua musuh yang berada di dekat kami teralihkan menuju kami berdua yang ada di dalam.


Setelah membunuh beberapa monster dan iblis yang teralihkan pandangannya kepada kami yang berada di dekat Satya, dia berbicara.


"Telat kau sialan!" Balas Ars kesal "Sudah capek kami teriak untuk panggil kau."


"Tidak dengar aku ***, tau lah kau kan kalau ramai kali monster jelek disini" Jawab Satya datar.


Fandy yang mendengar suara itu juga langsung berusaha mendekat ke arah kami.


Anehnya, monster dan iblis disini tidak menyerang kami dan menikmati kami berbicara. Ya benar, mereka memang sangat bodoh.


"Untuk apa kalian hanya melihat saja? Serang dan bunuh mereka!" Teriak iblis yang sepertinya salah satu komandan iblis unit pemanah.


"uuuoooo!" Teriakan para monster yang kembali menyerang kami.


"Ars, Sesuai rencana!" Kata ku dengan cepat.


Karena saat ini kami berempat tidak terlalu jauh dan berpencar, Ars hanya menggunakan gravity kepada kami saja untuk terbang melarikan diri.


Rencana awalnya adalah menerbangkan semuanya hingga cukup tinggi sambil melihat dimana keberadaan Satya dan Fandy, lalu menjatuhkan kembali sisa monster yang tidak berkepentingan.


Kami berempat terbang cukup tinggi ke atas pasukan musuh dan mencoba mencari lokasi yang tidak terlalu berbahaya untuk mengatur kembali posisi kami yang sebelumnya tidak menguntungkan.


"Tetap serang mereka!" Teriak salah satu dari sepuluh komandan unit sihir.


Berbagai jenis serangan mulai di tembakkan kepada kami mulai dari panah, sihir, tombak dan kapak yang melayang dengan kami sebagai targetnya.


"Barrier!" Satya menciptakan pelindung seperti sebelumnya kepada kami berempat, kali ini berbentuk bola. Dari jauh pemandangan ini terlihat seperti bola raksasa yang sedang melambung tinggi di langit.


Berbagai serangan yang dilontarkan musuh tidak ada yang berhasil mengenai kami, serangan tersebut hanya memantul, lalu jatuh ke bawah.


Lima komandan sihir membentuk barisan dengan pola lingkaran dan membaca mantra yang tidak jelas. Dari bagian depan sebagai pusat mereka, muncul pola aneh yang tidak saya kenali dan berputar seperti kipas.


Hampir sama dengan bola energi yang dikeluarkan oleh kura kura biru, titik tengah lingkaran itu menjadi pusat sihir mereka yang tepat mengarah kepada kami. Api yang cukup besar mulai menyambar dari lingkaran itu sebagai serangan gabungan mereka.


Sihir itu lebih kuat dari serangan api saya yang sebelumnya, tetapi jika dibandingkan dengan serangan sihir petir kegelapan tadi, ini masih kurang kuat.


Api itu sampai kepada kami yang terbang cukup jauh dari mereka. Menilai dari jaraknya, api itu bisa mengenai kami dengan tetap mempertahankan bentuk awalnya itu cukup hebat, tetapi seperti yang ku duga, serangan seperti itu belum bisa menghancurkan kemampuan bertahan dari pelindung ini.


"Wahh...kok kurang ajar mereka ini, minta dibasmi ini namanya. Gas Zan" Kata Ars.


"Oke Ars. Satya, bisa kau hilangkan dulu barrier mu. Aku mau memberi serangan balasan kepada mereka."


"...Sudah" Satya menghilangkan barrier dan giliran saya untuk menyerang.


Dalam game, saya sering mengambil peran mage ataupun support yang sering memberi demage AoE (Area of Effect) pada saat war ataupun burst demage untuk membunuh satu lawan tunggal. Masing-masing tipe serangan ini mempunyai kelebihan dan kekurangan, dimana AoE memberikan serangan kepada banyak lawan, sedangkan burst demage dengan sihir yang dapat membunuh lawan dengan sangat cepat tetapi hanya berhasil jika targetnya sedikit.


(AoE merupakan singkatan dari Area of Effect yang berarti efek dari skill milik hero yang mencakup suatu wilayah dan dapat mengenai beberapa target sekaligus)


"Ayo request, kalian mau aku menyerang mereka dengan tipe apa?" Ujar ku.


"Sudah, gas saja langsung" Jawab Satya.


"Pakai kegelapan saja seperti tadi, aku belum lihat dengan jelas serangan mu barusan" Jawab Ars


"Apa saja Zan, Gunakan sebanyak yang kau bisa." Jawab Fandy


Saya hanya tersenyum, saya juga penasaran bagaimana serangan yang saya punya.


Jantung saya berdetak semakin cepat karena semakin tidak sabar dan juga gugup, ini tidak seperti saya yang biasanya yang hanya mengkatagorikan diri saya sendiri sebagai 'manusia normal'.


Dengan kondisi sekarang yang jauh dari kata normal, bagaimana saya harus bersifat normal?


Seperti perkataan orang cerdas "Masalah baru membutuhkan solusi yang baru pula."


Sudah saatnya berubah menjadi diriku yang baru, mengawali semua dari nol bersama dengan teman teman saya di dunia baru yang keras ini.


Sekarang adalah waktunya untuk membantai mereka semuanya.