
"Guru, bagaimana keadaanmu saat ini?" Seorang anak berumur 8 tahun membuka pintu dan bertanya dengan hormat kepada seorang wanita cantik di tempat tidur kayu.
Wanita itu mengedipkan matanya dengan lembut dan memberikan isyarat kepada anak itu untuk mendekat.
"Ada apa guru? " budian bertanya dan mencondongkan kepalanya lebih dekat dengan wajah gurunya.
" Sudah berapa lama semenjak guru menerimamu sebagai murid budian? " tanya wanita cantik itu dengan lembut.
Budian memikirkannya sebentar, lalu menjawab," 10 hari guru"
Wanita cantik itu menganggukkan kepalanya,
"Itu sudah cukup lama. Murid, guru saat ini terluka dan tidak dapat membimbingmu, tapi aku percaya kamu pasti bisa melakukan hal ini. "
Budian bingung," Hal apa yang dimaksudkan guru? "
Wanita cantik itu mengangkat tangannya dan sebuah token mengkilap dengan lukisan pedang biru di tengahnya.
" Ambil token ini. Token ini akan membawamu pada sekte yang cocok denganmu. " kata wanita cantik itu dengan lemah.
Budian tidak mengambil token tapi malah menatap wanita yang terbaring lemah di tempat tidur dengan mata merah.
" Apakah budian bukan lagi murid guru? Apakah budian melakukan sesuatu yang salah? Budian... Tidak ingin pergi, hiks, hiks" air mata jatuh ke pipinya dan ia mulai merengek.
Tatapan wanita cantik itu melembut, ia menggosok kepala botak muridnya.
"Budian guru bukan begitu maksud guru. Guru ingin kamu pergi berlatih untuk saat ini. "
" T-tidak, budian tidak mau. Budian ingin menemani guru disini. " anak itu menolak, menepis tangan gurunya.
Wanita cantik itu memukul dahi muridnya dengan jarinya yang ramping." Jangan merengek seperti itu murid. Kamu akan tetap pergi berlatih. "
" siapa yang akan menjaga guru saat budian tidak ada? "
" Gurumu bisa menjaga dirinya sendiri. Jangan banyak tanya lagi, mendekat sedikit lagi, guru akan memberimu sesuatu yang baik. " kata wanita cantik itu.
Budian lantas mendekatkan kepalanya. Wanita cantik itu menyentuh dahi halus budian dengan jarinya.
" Pelajari itu dengan baik. Kamu membutuhkannya untuk masuk ke sekte. " Xiyun tersenyum, lalu menutup matanya.
" Ap-apa?! Sakit sekali, kepalaku sakit!" Budian memegangi kepalanya, keningnya berkerut hebat dan wajahnya memerah.
Orang-orang di sekitar rumah mendengar teriakan budian dan segara mendekat tapi tidak berani untuk masuk.
Xiyun merasakan mereka tapi tidak mengatakan apa-apa untuk menenangkan mereka.
Dia memeriksa tubuhnya dan berpikir butuh 3 hari lagi sebelum dirinya dapat terbebas dari pengaruh negatif mana jatuh ini.
Tidak melakukan apa-apa selama 3 hari sangat menyiksa untuk orang seperti dirinya.
"Tidak terjadi apa-apa, aku hanya meneruskan teknik abadi pada budian. " kata Xiyun dari dalam rumah.
Orang-orang yang mendengar hal itu menarik napas lega, dan kembali ke pekerjaan mereka membereskan benda-benda yang terbang akibat letusan besar.
Xiyun menatap muridnya yang masih berguling di lantai tanah liat keras dan menutup mata dengan tenang.
Beberapa menit berlalu sakit pada kepalanya berkurang. Ia menarik napas dan menghembuskannya dengan kuat. Budian tetap berbaring di lantai dengan kepala bengkak penuh warna merah membara.
"Gu-guru bi-bisakah kamu mengajari budian dengan cara lain selain yang tadi? Itu sangat menyakitkan! "
" Le-lebih menyakitkan daripada di gigit oleh serigala raksasa milik pemimpin desa serigala itu. "
Budian mengeluh dan mengadu pada gurunya bahwa itu benar-benar menyakitkan.
" Tanpa resiko tidak akan ada hasil yang besar. Itu adalah metode paling cepat untuk memberikan petunjuk padamu. Juga yang paling cocok ketika keadaan guru saat ini yang tidak bisa mengajari kamu, budian. "
" Ta-tapi itu sangat menyakitkan! Bisakah guru berjanji tidak akan menggunakan itu lagi? "
" Guru tidak bisa berjanji untuk hal yang tidak pasti budian. Lupakan hal itu. Lihat apakah kau mendapatkan sesuatu dari teknik yang guru berikan? "
Budian menutup mata, mencari sesuatu di pikirannya. Beberapa saat kemudian sebuah teknik lengkap di putar dalam pikirannya.
" Teknik sepuluh ribu pedang? "
" Teknik yang sangat kuat! Apakah ini benar teknik darimu guru? " budian terkejut
" Kenapa? Kamu tidak menginginkannya? " Xiyun membuka mata, tangannya menunjuk dahi budian mengancam akan menarik kembali teknik ini dari kepalanya.
Dengan cepat, budian membalikkan tubuhnya, menyembunyikan dahinya yang lebar.
"Bagus, jangan banyak bertanya dan pelajari itu dengan baik."
"baik guru! " kata budian dengan wajah menghadap lantai tanah liat keras.
"Dua minggu. Tahap pertama harus kamu kuasai dalam dua minggu. Kalau belum, teknik itu tidak cocok denganmu, muridku yang baik."
Xiyun menggosok jari telunjuknya yang ramping dengan jempolnya yang indah.
Budian yang melihat itu dari sudut matanya khawatir. Menggigit giginya budian berkata dengan keras, "Dalam satu minggu aku akan menguasainya guru!"
Xiyun yang mendengar itu tersenyum, "Tidak, Lima hari pasti cukup kan? Guru akan memberimu hadiah jika kamu menguasai tahap pertama dalam lima hari." senyum jahat mengukir di wajah cantiknya.
Budian mengecilkan lehernya, dia tidak memiliki kepercayaan diri menguasai tahap pertama teknik itu dalam lima hari.
"Kenapa? Kamu tidak percaya diri? Betapa lemahnya. Sepertinya guru mengambil murid yang salah selama ini, sungguh mengecewakan. "
" budian akan berusaha guru! " anak laki-laki melompat dan berdiri tegak menatap gurunya dengan semangat yang membara.
Xiyun tersenyum dan mengarahkan jari telunjuknya ke dahi budian.
" Ap-apa? " budian segera menutup dahinya tapi kalah cepat dengan sinar cahaya yang menembus sampai kedalaman otaknya.
" Aaaaaargh, sakit sekali! Guruuu, kenapa kamu kembali melakukannya! " budian berguling-guling sambil memegangi kepalanya.
Xiyun tersenyum puas," Itu sedikit pemahaman guru pada pedang. Akan ada harapanmu untuk menguasai tahap pertama dalam lima hari jika kamu mencernanya dengan baik muridku. "
" Itu hanya untuk referensi dan jalan pintas agar kamu dapat mencapai pintu jalan pedang yang sebenarnya. "
________
Shouyu tiba di sebuah kota kecil tempat transit ke lembah tak berpenghuni.
" Kota apa ini buyutku Qing? " Shouyu bertanya pada gadis cantik di sampingnya.
" Kota ini disebut sebagai 'Yang satu' leluhur. Kota ini penuh dengan manusia dan ras lain yang menawarkan jasa mereka mengantar pelanggan untuk keluar dari lembah tak berpenghuni. "
" Kota ini juga sebagai penyangga wilayah kekaisaran Qin dengan lembah tak berpenghuni yang cukup berbahaya bagi kultivator yang berada di bawah ranah abadi. "
" Hmmm, kota ini memang cukup megah. " kata Shouyu ketika dia melihat kastil di pusat kota.
" Itu adalah kastil marquis scandinger. Keluarga Scandinger di angkat untuk menjaga perbatasan dan mengelola tanah ini dengan baik. "
Shouyu dan Qingyu tiba di gerbang besar yang terbuka lebar. Ketika keduanya masuk kilauan menyelimuti tubuh keduanya dan segera hilang.
" Formasi penjagaan berkembang baik di era ini. " kata Shouyu