
*flashback on*
Malam ini Ilham tidak bisa tidur. Rasanya ia gelisah sekali. Bagaimana tidak. Cewek yang ia selama ini selalu perhatikan diam-diam tadi pagi jalan dengan cowok lain. Entahlah, tapi ia tidak memperhatikan dengan jelas muka orang itu. Ia hanya melihat Ririn ngobrol dan senyum-senyum bahagia. Sebelumnya ia tidak pernah melihat Ririn senyum selepas itu.
“Duuhhh, kenapa mataku belum ngantuk juga yah. Padahal ini udah jam 10 malam. Biasanya juga sudah terlelap nih mata,” gerutu Ilham sambil bolak balik guling-guling diatas kasurnya.
“Cowok yang deketin Ririn itu siapa sih? Aku kira selama ini dia begitu polos. Tapi nyatanya ia sudah punya pacar. Argh...,” lanjutnya sambil menarik rambutnya sendiri.
Karena insiden insomnia tersebut, Ilham akhirnya melampiaskannya dengan cara bermain game. Sebelumnya ia tidak pernah tertarik dengan hal seperti ini.
Akan tetapi, karena ia tidak tahu harus berbuat apa, maka ia pun memutuskan untuk bermain game. Ia mendownload game ‘tembak-tembak’ seperti yang kebanyakan anak muda mainkan sekarang.
“Seru juga game ini,” kata Ilham dalam hati.
Sampai pada akhirnya jam menunjukkan pukul 02.30 pagi. Namun ia belum berhenti dengan permainannya. Kejadian tadi pagi membuatnya lupa waktu. Ini semua karena Ririn, gadis yang selalu ada dalam benaknya.
“Hoam, udah ngantuk banget ini. Tidur ah, besok harus ke sekolah.”
Akhirnya Ilham pun tertidur.
⭐⭐⭐
Pukul 07.20
“Suf, kamu lihat Ilham? Mama tidak lihat dia dari tadi pagi,” tanya Mama kepada Yusuf yang sedang sibuk bermain gadget.
“Nggak Mah. Yusuf juga belum lihat tuh anak. Kayaknya belum bangun deh Mah.”
“Astagfirullah. Tuh anak. Gak biasanya kayak gini. Apa semalam dia begadang yah?”
Dengan langkah terburu-buru, Bu Maryam melangkahi anak tangga menuju kamar anak bungsunya itu.
“Ilham...Ilham... Bangun, ini sudah jam berapa Nak,” titah Bu Maryam yang sedang menggoyang-goyangkan badan Ilham.”
“Masih jam 6 Mah.. Cepet banget banguninnya,” jawabnya dengan mata yang masih tertutup.
“Jam 6... Jam 6... Lihat jam tuh. Ini sudah jam 7 lewat Ilham.”
“Astagfirullah Mamah. Kenapa gak bangunin Ilham sih Mah? Kalau gini, Ilham sudah terlambat Mah,” pinta Ilham pada Mamanya sambil berlari menuju ke kamar mandi.
Sungguh ia tidak menyangka kalau kejadian semalam bisa membuat dirinya lalai dan lupa diri. Ilham pun cepat-cepat memakai pakaian dan menyantap sarapan paginya lalu mengambil kunci motornya dan menuju garasi.
“Hati-hati sayang,” seru Mama.
“Iyaaa Mah, Aku berangkat yah. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
*flashback off*
“Iya Pak, saya memang terlambat. Tapi ini bukan salahnya Ririn kok Pak,” jawab Ilham.
“Kalau begitu, kalian berdua tidak bisa masuk. Ini sudah sangat terlambat.”
“Oh iya, aku kan pernah diajak Mikaila lewat jalan pintas masuk ke Sekolah. Apa aku lewat situ aja yah,” batin Ririn.
Ririn pun langsung menarik tangan Ilham. Namun ditepis oleh Ilham.
“Apaan sih narik tangan aku?”
“Emangnya kamu gak mau masuk kelas? Aku tau jalan buat masuk ke sekolah tanpa lewatin gerbang. Kalo kamu mau ikut ya udah, kalo ga mau juga gapapa. Itu kan urusan kamu.”
“Aku ikut.”
Mereka berdua berjalan menuju tempat yang dimaksud Ririn. Ilham diam-diam menatap kagum Ririn yaang berjalan di depannya.
Dia pertama kali melihat Ririn ketika hendak membantu seorang anak kecil yang sedang terjatuh, dia juga pernah melihat Ririn membantu orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan, sudah beberapa kali dia melihat kebaikan dari seorang Ririn.
Ketika tahu Ririn bersekolah di sekolah yang sama dengannya, Ilham merasa bahagia. Tapi di satu sisi dia juga merasa kasihan karena Ririn adalah korban bully dari geng The Judes. Ilham tahu sifat Nisa yang sebenarnya kepada Ririn.
“Ayo cepet, keburu telat kita.” Kata Ririn membuyarkan lamunan Ilham.
Ilham hanya tersenyum lalu mengangguk menghampiri Ririn. Mereka berdua diam-diam masuk ke jalan samping sekolah untuk masuk ke kelas masing-masing.
Ririn hanya berharap bahwa tidak ada guru atau anak osis yang berjaga di dekat pintu yang di lewatinya. Sedangkan Ilham juga memperhatikan ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan agar tidak ketahuan.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan kelas Ririn, Mipa 5.
“Kamu gapapa ’kan jalan sendirian? Kelas kamu ada di depan. Aku minta maaf ya ga bisa nganterin kamu ke depan.” Kata Ririn dengan tatapan mengarah ke Ilham.
“Iya gapapa. Ya udah sana masuk kelas kamu.”
“Kamu pergi dulu aja, nanti kalo kamu udah jalan baru aku masuk kelas.”
Ilham pun mengangguk dan melanjutkan jalannya menuju kelasnya, Mipa 1. Ririn menatapnya dengan diam, dia tersenyum mengingat momen saat Ilham tersenyum kepadanya.
Sejak melewati pintu samping, Ririn tahu jika dia diperhatikan dari belakang oleh Ilham tetapi dia berpura-pura tidak mengetahuinya. Segera saja Ririn memasuki kelasnya setelah melihat Ilham menjauh.
⭐⭐⭐
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍