
Pagi ini sekolah dihebohkan dengan pertengkaran Mikaila dan Nisa yang beradu mulut di depan kelas Mipa 5.
"Heh jangan mentang-mentang kamu Mipa 1 seenaknya aja bilang kalo kelas bawah tuh ga bisa apa-apa," seru Mikaila dengan tatapan tajam ke arah Nisa.
"Dih emang benarkan kelas kamu itu gak ada apa-apanya. Lihat kelas kita dong, semua muridnya berprestasi," balas Nisa dengan wajah angkuhnya.
Ya, mereka berdua meributkan siapa kelas yang paling unggul dan berprestasi di sekolah.
"Halah gak semuanya, buktinya kamu gak bisa. Kamu ada di Mipa 1 karena orangtua kamu!" Wajah Nisa langsung memerah saat Mikaila mengatakan kalimat tadi. Dia malu, kesal, marah karena apa yang dikatakan Mikaila memang benar. Tapi dia tidak suka jika ada yang membuatnya malu di depan umum.
"Berani kamu sama Aku?" Kini keduanya saling menatap benci satu sama lain.
"Mika!" Ririn berteriak memanggil Mikaila agar menghentikan perdebatan yang terjadi. Dia tidak mau sahabatnya sampai masuk ruang BK karena berhadapan dengan anak pemilik yayasan di sekolah ini.
"Mik udah, ini masih pagi," kata Ririn sambil menarik tangan Mikaila menjauh dari pandangan Nisa.
"Aku masih ada urusan sama tuh nenek lampir. " kata Mikaila yang menatap Nisa dengan tatapan bencinya.
Nisa juga menatap Mikaila dengan tatapan yang sama. Tapi dia tidak membalas ucapan Mikaila. Dia juga ditarik oleh teman geng-nya untuk menjauh agar tidak ada lagi keributan yang terjadi.
"Mik, kamu kenapa sih? Kamu tau 'kan Nisa itu siapa? Kalo kamu berurusan sama dia kamu bisa aja dikeluarin dari sekolah."
"Aku kesel Rin, dia nganggep kelas kita tuh kelas yang gak bisa apa-apa. Padahal kan kamu ada, kamu salah satu siswa berprestasi yang masuk peringkat 3 besar dari angkatan kita," ujar Mikaila dengan nada kesalnya.
"Udah Mik. Kamu harus janji sama aku gak bakal kayak gitu lagi!"
"Hufft... Iya aku janji."
"Aku gak mau kamu dikeluarin dari sekolah Mik. Aku bakal kehilangan kalo itu terjadi," kata Ririn dengan raut wajah sedih. Dia tidak bisa jika sahabatnya yang satu ini meninggalkannya.
"Iya maafin aku Rin. Kamu jangan sedih dong aku kan jadi ikutan sedih nih."
"Hai semuaaa." Rianti datang setelah percakapan keduanya selesai.
"Loh kok pada nangis sih? " Bingung Rianti, dia baru masuk kelas tetapi sudah disuguhi dengan pemandangan wajah kedua sahabatnya yang sedang menangis.
"Hehe gapapa kok An. Tadi ada masalah kecil tapi udh selesai kok. "
"Iya An, kita gapapa." Jawab Mikaila yang kini memanggil Rianti dengan sebutan Ana.
"Ish kalian jangan sedih dong. Harus bahagiaaa. " Rianti langsung memeluk kedua sahabatnya.
"Oh iya Rin, Mik kalian tau ga kemarin aku udah ketemu sama cowo itu. "
"Hah? Bukannya kamu pulang?" Tanya Ririn. Dia kaget ketika tahu Rianti bertemu dengan cowo yang dikenalnya melalui aplikasi dating itu. Setahunya Rianti langsung pulang setelah mengantarnya ke rumah.
"Iya Rin. Pas pulang dari rumah kamu tuh aku di chat lagi sama dia. Ke taman buat ketemu gitu. Katanya aku harus pergi sendiri aja biar surprise gitu." Kata Rianti senang yang terlihat jelas dari wajahnya. Dia bahkan tertawa kecil saat mengingat kejadian kemarin.
"Oh jadi abis dari rumah aku kamu langsung ketemu sama dia."
Rianti mengangguk sambil tersenyum-senyum. Mikaila juga sudah tahu pembahasan yang diceritakan. Karena penasaran, Mikaila pun bertanya.
"Trus kamu udah ketemu sama dia? Gimana? Dia ganteng ga?" Tanya Mikaila yamg penasaran.
"Ah kalian ga perlu tau" Rianti masih senyum-senyum sendiri sampai tidak memperhatikan bahwa Mikaila dan Ririn menatapnya aneh.
"Kayaknya Rianti udah gila deh. Dari tadi dia senyum-senyum ga jelas. Huuu jadi takut aku Rin. Atau jangan-jangan dia lagi kerasukan."
⭐⭐⭐
"Mah, ini pesanannya mau dianterin kemana? "
Sepulang sekolah Ririn bergegas ke toko ibunya untuk membantu dan mengantarkan pesanan buket milik pelanggan.
Setelah ibunya mengatakan alamat pemilik buket, Ririn segera menaiki motornya dan mengendarai dengan hati-hati. Dia menerima uang yang seharga dengan buket yang ibunya jual. Sepanjang perjalanan Ririn bersenandung kecil untuk menikmati suasana siang hari ini dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah cantiknya.
"Ririn? " Sesosok laki-laki yang datang menghampiri Ririn lalu memanggilnya.
"Kak Yusuf? Kakak ngapain disini? " Ternyata orang yang memanggilnya adalah kekasihnya sendiri.
"Sengaja jalan-jalan mau ke cafe seberang itu, tapi liat kamu disini jadi mampir dulu. "
"Oh gitu ya kak. Aku abis nganterin buket pesanan orang kak. " Jelas Ririn.
"Aku mau ngajakin kamu ke cafe. Mau ya? " Kata Yusuf berharap Ririn mau menerima ajakannya.
⭐⭐⭐
"Aku mau ngajakin kamu ke cafe. Mau ya? " Kata Yusuf berharap Ririn mau menerima ajakannya.
"Hm gimana ya kak, aku harus izin ke mama dulu."
"Kalo gitu biar aku yang telfon mama kamu. "
"Eh... Jangan kak, aku aja."
Ririn langsung menelfon ibunya untuk meminta izin. Setelah mendapatkan izin mereka segera menuju ke cafe yang Yusuf katakan tadi.
"Kamu mau pesan apa sayang? "
Kaget. Ya satu kata yang tepat menggambarkan Ririn sekarang. Dia terkejut mendengar kata yang keluar dari mulut kekasihnya itu.
"Sa-sayang? " Tanya Ririn malu-malu.
"Iya sayang. Kita kan udah pacaran jadi boleh dong aku panggil kamu sayang. "
Ririn hanya mengangguk malu. Dia belum terbiasa dengan sebutan itu.
Mereka memesan beberapa menu dan minuman. Sambil menunggu, Yusuf mengeluarkan gombalan untuk kekasihnya.
"Kamu tau ga, mie apa yang bikin seneng?"
"Mielikin kamu seutuhnya," Jawab Ririn dengan tersenyum. Dia tau jawaban dari gombalan Yusuf.
"Ah ga asik. Kamu udah tau duluan." Kesal Yusuf.
"Iya kak. Itu aku udah dengar dari teman aku."
"Teman kamu gombalin kamu?" Rupanya Yusuf sedang cemburu.
"Iiih bukan aku kak. Tapi cowo di kelas suka gombalin kalimat tadi buat adek kelas, makanya aku tau kalo jawabnnya kayak gitu."
"Kirain kamu yang digombalin." Kata Yusuf masih kesal, dia tidak suka jika kekasihnya deket dengan cowo lain.
"Ngga kok. Udah ah ngambeknya. Tuh makanannya udah datang."
"Siapa yang ngambek?"
Ririn hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Yusuf yang sedang cemburu. Siang itu mereka berdua memakan makanannya dengan sesekali mendengarkan ocehan Yusuf untuk menghibur Ririn.
⭐⭐⭐
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 🤭