The Story Of Miss Buket

The Story Of Miss Buket
Bab 19 Misbuk



Sepulang dari cafe, keduanya memutuskan untuk berbelanja. Yusuf yang mengajak, ah lebih tepatnya memaksa kekasihnya. Dia ingin membelikan sesuatu yang disukai Ririn.


"Kak jangan itu. Liat tuh harganya. Mahal tau."


Yusuf yang mendengar keluhan Ririn pun terkekeh, dia bisa membelikan semua yang Ririn inginkan. Harga segitu belum ada apa-apanya jika Yusuf pikir. Bukan bermaksud sombong tapi keluarga Yusuf memang sekaya itu.


"Gapapa, kamu mau itu? Ambil aja. Aku bisa bayarin."


"Ngga kak yang lain aja."


Mereka berkeliling untuk mencari baju yang Ririn inginkan.


"Nah ini aja kak. Bagus kan?"


"Baju apapun kalo kamu yang make pasti bagus." Yusuf memulai gombalannya lagi.


"Huuuh kakak gombal mulu."


"Ya udah kamu mau baju itu?" Ririn mengangguk dan mengambil satu baju yang sama.


"Mau couplean?"


"Boleh sayang."


Mereka menuju kasir untuk membayar barang yang diambil. Setelah itu Yusuf membawa Ririn kembali pulang ke rumah karena jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ririn takur jika ibunya mengkhawatirkan dirinya karena sebelum pergi menemui Yusuf dia tidak berpamitan.


Ibunya sedang berada di toko buketnya untuk membuat buket pesanan pelanggan. Ririn juga sering membantu ibunya membuat buket tapi akhir-akhir ini dia jarang membantu karena disibukkan dengan tugas sekolah dan masalahnya dengan Yusuf yang membuat pikirannya kacau. Tapi sekarang tidak lagi karena hubungan keduanya sudah baik-baik saja.


"Makasih ya kak buat bajunya. Nanti kalo kita ketemu lagi, pakai baju itu ya." Kata Ririn dengan senyuman diwajahnya.


"Iya pasti. Ya udah sekarang kamu masuk. Aku mau pulang dulu ya."


"Hati-hati ya kak."


⭐⭐⭐


"Mik, tugas bahasa Indonesia kamu udah belum? Aku lupa kalo hari ini ada pelajaran bahasa."


"Udah dong. Aku kan anak pintar jadi udah selesai ngerjain tugas." Ucap Mikaila sombong.


"Bagi dong Mik. Nanti aku traktir di kantin." Tawar Putri, sekretaris kelas Mipa 5


Saat ini keduanya sedang berada di depan pintu kelas Mipa 5. Putri lupa mengerjakan tugasnya, ia pikir tugas pelajaran bahasa Indonesia akan dikumpul minggu depan, tapi ternyata salah hari ini tugas itu akan dikumpul.


"Ayo lah Mik."


"Gak mauuu. Sana kamu kerjain sendiri masih ada waktu."


"Iih kamu pelit banget sih."


"Biarin. Sana kamu ngerjain, masih ada waktu 10 menit."


Setelah mengatakan itu Mikaila langsung keluar dari pintu kelas. Dia menghampiri Ririn dan merangkul bahunya ketika sudah berpapasan.


"Makasih ya Rin, buat tugas bahasa Indonesia nya hehehe."


Parah! Ternyata Mikaila sama saja dengan Putri. Dia bahkan lebih parah karena menyontek pekerjaan Ririn. Untungnya Ririn berbaik hati untuk memperlihatkan jawabannya kepada sahabatnya.


"Iya sama-sama Mik. Oh iya katanya hari ini Bu Dina ga masuk. Pas aku lewat depan ruang guru, aku gak sengaja dengar percakapan guru-guru."


"Hah? Beneran Rin? Yessss jamkos."


Mikaila menarik tangan Ririn guna mempercepat langkah mereka menuju ruang kelas.


"Dengar semua. Tadi aku dengar guru-guru bilang kalo Bu Dina lagi sakit. Jadi hari ini kita jamkosss."


Ririn hanya menggelengkan kepala melihat tingkah absurd teman-temannya. Mereka semua asik, tidak ada kata geng dalam kelas ini, semuanya menganggap seperti saudara mereka sendiri. Saling menyayangi, melindungi dan menjaga satu sama lain layaknya keluarga.


"Rin, ayo ke kantin. Aku traktir deh. Lagi bahagia banget ini gak ada Ibu Dina."


"Nanti aja Mik, ini masih pagi loh."


Ririn hanya diam, duduk dibangkunya dan mengeluarkan buku novel yang dibawanya. Dia membaca dnegan tenang menghiraukan teman-temannya yang bertingkah seperti orang yang sedang berpesta.


Tak terasa waktu pulang telah tiba. Ririn dan Mikaila menunggu didepan gerbang sekolah.


"Kamu beneran gak mau ikut aja?"


"Ngga Mik, aku nunggu angkot aja. Udah sana kamu pulang, hati-hati ya."


"Iya deh, aku pulang duluan ya Rin. " Ucap Mikaila sambil melambaikan tangan.


Ririn melihat sekitar, tidak ada tanda-tanda ngakot akan datang. Karena sudah lama menunggu dan mulai merasa bosan akhirnya Ririn memutuskan untuk berjalan-jalan. Dia melihat ke kiri dan kanan, menoleh kearah kanan dia dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Diseberang sana terlihat kekasihnya, Yusuf sedang menyuapi perempuan yang Ririn tidak ketahui siapa karena perempuan tersebut membelakangi dirinya. Ririn membuka ponselnya, membuka obrolannya dengan Yusuf dan menelfon.


"Kakak lagi dimana?" Tanya Ririn dengan mata masih menatap tajam.


"Aku lagi nongkrong Rin, kenapa?"


"Nongkrong sama siapa?" Tanya Ririn lagi.


"Sama teman. Kenapa?"


"Gapapa kak." Ririn langsung mematikan sambungan telfon miliknya.


Dia tidak menyangka jika kekasihnya akan berbuat seperti ini. Dia sudah berjanji untuk tidak menyakitinya, tapi sekarang apa? Yusuf bahkan berbohong kepadanya mengenai perempuan itu. Ririn segera pergi dari sana, dia merasa sedih telah dibohongi oleh kekasihnya.


Kesempatan yang diberikan kepada kekasihnya itu ternyata hanya dianggap angin lalu saja. Berhenti dipinggir jalan, Ririn menghapus air matanya. Hatinya sakit lagi karena ulah Yusuf. Kenapa sakit sekali? Dia baru bahagia karena beberapa hari yang lalu hubungannya mulai membaik, tapi sekarang Yusuf melukainya lagi bahkan lebih dalam dari sebelumnya.


Ririn akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki pulang ke rumah. Dia tidak merasakan letih saat sampai di rumah, padahal jarak rumah dan sekolahnya terbilang cukup jauh. Tapi saat ini dia tidak memikirkan hal itu. Hatinya sakit, sangat sakit saat melihat kejadian tadi.


"Hiks... Hikss.. Kenapa kak? Kenapa kakak lakuin itu? " Ririn menangis sejadi-jadinya. Untung saja ibunya tidak ada di rumah jadi dia bisa menangis sepuasnya. Kepercayaan yang diberikan hanya di sia-siakan oleh Yusuf.


Ririn memukul-mukul dadanya untuk mengurangi rasa sesak yang dialaminya. Tubuhnya lelah, pikirannya kacau dan hatinya sangat sakit. Dia menangis sesenggukan di dalam kamarnya. Karena kelelahan menangis, Ririn akhirnya tertidur.


Sementara di tempat lain terlihat seorang pemuda tengah memperhatikan kedua pasang kekasih yang sedang makan dalam restoran.


Pemuda itu tampak marah, terlihat dari rautnya yang memerah dan menampilkan otot wajahnya. Dia menekan nomor pada ponselnya dan mulai menelfon.


"Pulang! Kamu dicariin mama." Setelah mengatakan itu, pria tersebut mematikan telfonnya.


Terlihat dari dalam restoran, sang wanita berdiri setelah berpamitan kepada sang kekasih. Mereka berdua berpisah di depan pintu restoran.


Pemuda yang menjadi kekasih wanita tadi langsung pergi meninggalkan restoran. Dia tidak tahu jika dirinya tengah di ikuti oleh seseorang.


Merasa jika gerakannya di ikuti, pemuda itu berbalik cepat dan mendapati seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengannya.


"Ada yang bisa saya bantu?" Fatah bertanya kepada lelaki di depannya.


Ya, pemuda yang dimaksud dengan pacarnya itu adalah Fatah. Dan perempuan yang bersamanya adalah Rianti.


"Putusin perempuan tadi!"


⭐⭐⭐


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍