The Story Of Miss Buket

The Story Of Miss Buket
Bab 13 Misbuk



"Kakak?" Kata seorang perempuan yang memanggil laki-laki didepannya dengan sebutan 'kakak'.


"Kakak kapan datang? Aku kangen. "


Laki-laki itu langsung menarik tangan adiknya untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Kakak kok baru kesini sih? Aku kan ga ada temennya." Perempuan itu berkata seraya menatap ke atas karena tingginya hanya sebatas dagu sang kakak.


"Iya maafin kakak. Kakak sibuk sama kerjaan yang papa kasih. " Kata pemuda itu.


"Gimana kabar kakak?"


"Seperti yang kamu lihat, baik."


"Syukur deh kalo gitu. Trus abis ini kakak mau kemana?"


"Temenin kamu."


Mata perempuan itu membulat sempurna, merasa bahagia karena kakaknya pasti akan menemaninya seharian.


"Beneran kak? Aku mau jalan-jalan sama kakak, udah lama ga nemenin aku belanja. Kakak sibuk mulu."


Laki-laki itu tersenyum melihat tingkah adiknya yang menggemaskan. Dia tahu adiknya pasti merindukan kebersamaan mereka. Dia senang mengetahui adiknya yang dulu masih kecil, suka nangis, sering dia jahili kini sekarang tumbuh menjadi gadis imut yang berparas cantik tetapi satu yang tidak berubah dari adiknya sifat kekanakannya.


"Ayo kak."


"Kamu udah punya pacar?" Pertanyaan tiba-tiba yang muncul dari mulut sang kakak.


"Apa Sih kak."Perempuan itu mengelak ucapan sang kakak.


"Jujur sama kakak. Kakak tau kamu udah punya pacar. "


"Dia baik kok kak, dia juga jagain aku. Kakak tenang aja ya, dia ga bakal kecewain aku kok. "


Perempuan tersebut mengetahui bagaimana sifat posesif kakaknya. Dia tidak mau jika adiknya salah pilih pasangan.


"Udah ih ayoo kita berangkat."


Sang kakak berharap pilihan adiknya itu tepat, dia mau agar adiknya selalu bahagia.


⭐⭐⭐


Sepasang pemuda pemudi terlihat sedang duduk berdua di bangku taman, mereka asik memakan cemilan yang dibawa.


"Oh iya, kamu kok bisa ada disini? Ini kan hari minggu, kamu gak main sama teman-teman kamu? "


"Ngga Rin, hari ini aku lagi males nongkrong."


Ya, pemudi yang dimaksud adalah Ririn. Dan sang pemuda yang berbicara dengannya adalah Ilham.


"Kamu sendiri kenapa gak main? "


"Teman-teman aku sibuk semua, Mikaila lagi liburan sama keluarganya. Ana katanya mau main ke rumah sepupunya." Jelas Ririn.


Ilham hanya mengangguk mendengarkan penjelasan Ririn. Mereka berdua tidak sengaja bertemu di taman ini.


"Aku pulang duluan ya, Mama udah nyuruh pulang soalnya. "


"Mau aku anter? " Tawaran Ilham dibalas gelengan kepala oleh Ririn.


"Yasuda aku duluan ya, Ham. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." Jawab Ilham sembari menatap Ririn yang menjauh dari taman.


Siapa yang tahu jika sedari tadi ada yang memperhatikan keduanya dari kejauhan.


Seperti biasa, Ririn selalu bersenandung ketika dia sedang berjalan-jalan. Dia tidak memakai motor karena jarak taman dengan rumahnya lumayan dekat. Ketika hendak menyebrang jalan dia dihentikan oleh motor yang pemiliknya seorang laki-laki.


"Kak Yusuf? Hai kak."


Bukannya menjawab sapaan Ririn, Yusuf dengan wajah marahnya langsung menarik tangan Ririn ke pinggir jalan.


"Kakak kenapa sih narik tangan aku. "


"Kamu bilang kenapa? Aku yang harusnya bilang ke kamu kenapa jalan sama cowo lain?" Kata Yusuf dengan nada marahnya. Tadi saat hendak ke taman dia melihat kekasihnya duduk berdua dengan cowo. Dia tidak dapat melihat wajah cowo itu karena terhalang oleh pohon.


"Itu cuman teman aku kak."


"Teman? Makan cuman berdua masih dibilang teman hah? "


"Kak, beneran aku sama dia cuman teman."


"Halah ga usah bohong kamu. Kalo bosen sama aku bilang ga gini caranya. "


"Aku sama dia cuman teman kak. Dia teman sekolah aku." Ririn kini mulai meninggikan suaranya.


"DIEM KAMU, KAMU UDAH SALAH MASIH AJA CARI ALASAN." Yusuf membentak dengan suara kerasnya.


Ririn yang mendengar itu kaget, dia tidak pernah dibentak sekeras itu. Papanya saja tidak pernah memarahinya sekasar itu. Dia menangis, rasa takut, sedih, kecewa dan marah bercampur menjadi satu karena perkataannya tidak dipercaya oleh Yusuf.


"Aku mau pulang. "


"Hah pulang? Kamu mau ketemu lagi sama cowok tadi?" Yusuf semakin membuat Ririn merasa sakit.


"Aku mau pulang kak."


"Kamu masih... " Belum sempat melanjutkan perkataannya, Yusuf dikejutkan dengan suara Ririn.


"AKU MAU PULANG KAK." Ririn sudah muak dengan Yusuf, dia hanya ingin pulang untuk menenangkan dirinya.


"RIRIN!" Tak disangka Yusuf hampir saja menampar Ririn, tangannya sudah dia angkat ke udara, tapi dia sadar yang didepannya ini adalah seorang perempuan.


Ririn langsung berlari meninggalkan Yusuf dengan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. Dia tidak menyangka jika kekasih yang dia banggakan akan menampar dirinya tadi. Dia kecewa, sangat kecewa dengan perlakuan Yusuf kepadanya. Seharusnya Yusuf percaya dengannya karena selama pacaran dia tidak pernah berbuat kesalahan.


"Hiks... hiks... Kenapa kak Yusuf gak percaya sama aku? Dia bahkan tega membentak aku." Saat ini Ririn sedang berada di kamarnya. Dia merasa sangat sedih setelah dirinya bertemu dengan Yusuf. Untung saja ibunya sedang berada di toko buketnya, jadi dia tidak perlu khawatir untuk ditanya.


"Kenapa sakit banget." Ririn masih menangis tersedu-sedu. Hatinya sakit mengingat kejadian tadi. Bermenit-menit dia larut dengan kesedihannya hingga tanpa sadar Ririn ketiduran karena lelah.


⭐⭐⭐


Seminggu setelah kejadian dimana Ririn sakit hati karena Yusuf tidak mempercayainya, bisa dikatakan jika hubungan keduanya tidak baik-baik saja. Mereka saling acuh satu sama lain. Tidak ada yang mau meminta maaf. Ririn merasa jika Yusuf lah yang harus meminta maaf karena dia tidak melakukan apa yang dikatakan Yusuf padanya minggu lalu.


"Rin, kamu kok diam aja sih?"


"Hah? Iya kenapa An?"


"Kamu ga denger penjelasan aku?"


"Maaf ya An. Ya udah kamu cerita apa tadi? "


"Huh Ririn nyebelin. Ya gini loh aku kan udah jadian sama cowok yang aku temuin di aplikasi dating itu trus hari ini dia mau ngajakin aku jalan. Kamu bisa ga nemenin aku? "


"Maksudnya aku jadi nyamuk gitu? " Canda Ririn.


"Iih bukan gitu. Aku cuman mau ditemenin sama kamu. " Rianti berharap Ririn menyetujuinya. Dia bukan bermaksud menjadikan Ririn 'nyamuk' tapi dia tidak mau jika berdua saja dengan kekasihnya.


"Pulang sekolah ya? Tapi aku mau izin sama mama dulu. "


"Iya Rin, tapi kalo diizinin kamu mau kan? "


"Iya Ana." Jawab Ririn menyetujui.


"Yeyy makasih ya Ririn." Rianti merasa bahagia karena Ririn selalu menemaninya baik keadaan senang maupun saat dia sedang dalam kesusahan.


⭐⭐⭐


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading ya 😍