The Story Of Miss Buket

The Story Of Miss Buket
Bab 14 Misbuk



Kringg.... Kringg....


Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi. Semua siswa siswi berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah masing-masing. Termasuk Ririn, dia membereskan peralatan tulisnya dan memasukkan ke dalam tas.


Dia menyelesaikan catatan yang dipelajarinya hari ini. Dia segera bangkit dari kursinya, berjalan sendirian keluar kelas karena dirinya adalah murid terakhir yang pulang sekolah.


Sesampainya didepan pintu kelas, dia dihadang oleh geng the judes. Nisa yang notabennya ketua the judes maju melangkah ke hadapan Ririn.


"Minggu lalu aku liat kamu jalan sama Ilham. Kalian ada hubungan?" Rupanya bukan cuman kekasihnya yang melihat kejadian dimana ia dan Ilham makan berdua di taman melainkan Nisa juga melihatnya.


"Aku gak sengaja ketemu sama dia," jawab Ririn dengan wajah khawatir. Saat ini dia ketakutan karena sekolah mulai sepi.


"Halah ga usah ngeles kamu. Kamu sama Ilham pacaran kan? Ngaku aja." Tuduh Nisa dengan tatapan tajamnya.


"Nggak Nis, aku gak pacaran sama dia." Ririn mulai memundurkan langkahnya ketika Nisa melangkah maju ke depan.


"Dengar ya, Ilham itu cuman punya aku. Cewek kayak kamu ga ada apa-apanya dibanding aku. Sok-sokan mau jadi pacar Ilham lagi. Mimpi!" Nisa berkata lagi dengan nada mengejeknya. Dia tidak suka melihat kedekatan Ilham dengan Ririn.


"Aku ga pacaran sama dia, Nis. Aku cuman gak sengaja ketemu sama dia waktu itu. "


"Gak usah banyak omong kamu!" sentak Nisa dengan jari telunjuk menunjuk wajah Ririn. Setelah itu ia menyuruh kedua temannya untuk menangkap Ririn.


Ririn yang melihat itu pun berusaha lari, tapi sayang dia telat melarikan diri. Kini tangannya sudah di pegang oleh kedua teman Nisa.


Plak!


Suara tamparan keras yang dilayangkan ke pipi seseorang, pelakunya adalah Nisa. Dia menampar pipi kanan Ririn karena kesal.


"Itu buat kamu yang udah berani deketin Ilham. "


Seakan tidak puas dengan menampar saja, Nisa juga menjambak rambut Ririn.


"Aaakh, Nisa sakit. Tolong lepasin. " Suara rintihan Ririn terdengar begitu sakit saat mendengarnya.


"Waktu itu aku liat kamu jalan sama cowo, dan minggu lalu kamu jalan sama Ilham. Cih, dasar cewe murahan! Kamu ga pantes sama Ilham. " Hina Nisa.


"To-tolong sakit...sakit Nis. " Ririn semakin menangis ketika tambutnya ditarik kuat oleh Nisa. Bahkan rambutnya rontok, terbukti ketika melihat Nisa membuang beberapa helai rambut yang ada ditangannya.


"Itu akibatnya kalo kamu berurusan dengan aku. " Setelah itu Nisa and the geng meninggalkan Ririn dengan kondisi yang memprihatinkan. Pipi kanan yang memerah akibat tamparan, dan rambut yang sangat berantakan.


Ririn kini menangis sejadi-jadinya. Dia tidak tahu jika pertemuannya dengan Ilham minggu lalu akan berdampak buruk bagi dirinya. Dia merasa sakit, sakit fisik dan juga hatinya. Sakit hati karena hinaan yang diucapkan oleh Nisa. Dia memang dari keluarga kurang mampu tapi dia tidak pernah berbuat seperti yang Nisa katakan.


"Mama hiks... hiks... " Siapa pun yang mendengar suara rintihannya dia tahu seberapa sakitnya menjadi Ririn.


"Sakit.." Hatinya sesak, sakit rasanya. Dia memukul-mukul dadanya untuk mengurangi rasa sesaknya.


Jambakan dikepalanya tadi membuatnya pusing, dia merasakan jika tarikan Nisa sangat kuat hingga membuatnya seperti ini. Mata Ririn mulai sayup, dia tidak sanggup lagi menahan sakitnya.


Seorang pemuda berjalan di koridor sekolah, seharusnya dia sudah pulang ke rumah tetapi dia kembali lagi setelah mengingat ada yang tertinggal di kelasnya.


Dia berjalan dengan santainya menuju kelasnya. Segera dia mengambil barang yang tertinggal tadi. Saat dia melewati kelas Mipa 5 samar-samar dia mendengarkan suara lirih seseorang.


Pintu kelas Mipa 5 tertutup rapat. Karena penasaran dia pun membuka pintu tersebut. Betapa terkejutnya saat dia mendapati Ririn yang sudah pingsan di dalam sana.


⭐⭐⭐


Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan atau... Terdengar suara operator dari dalam benda elektronik yang sedang dia tempelkan ditelinganya.


Rianti mematikan ponselnya, dia sudah menunggu Ririn dari setengah jam yamg lalu. Saat ini dia berada di rumah Ririn.


"Gimana An? Ririn udah jawab belum?"


"Belum tan. Ririn kemana sih kok ga pulang-pulang?"


"Ga biasanya loh dia pulang telat. " Jawab ibu Ririn.


"Huh kalo gini aku bakal pergi sendiri." Jawab Rianti dengan pelan.


"Ya udah tan, aku pergi sendiri aja deh. Kalo Ririn udah pulang bilangin aja kalo aku udah pergi."


"Kamu yakin pergi sendiri? Ya udah nanti tante sampaiin ke Ririn. Kamu hati-hati ya sayang. "


Rianti sudah mengenal ibu Ririn dan menganggap seperti ibunya sendiri, begitu juga dengan ibunya Ririn yang sudah menganggap teman Ririn itu sebagai anak.


"Iya tante. Aku pergi dulu assalamualaikum."


Setelah mendapat jawaban salam, Rianti bergegas untuk pergi dari toko buket tersebut.


Rianti menunggu kekasihnya di dalam cafe, sudah 10 menit berlalu dari waktu yang dijanjikan tetapi kekasihnya itu belum datang juga.


"Hufftt... Kak Fatah dimana sih? Lama banget." Rianti mulai bosan menunggu. Dia segera membuka ponselnya untuk bermain game, mengusir rasa bosannya.


5 menit kemudian terdengar suara pintu cafe yang terbuka.


"Maaf sayang. Tadi macet banget. " Seorang laki-laki duduk dihadapan Rianti.


"Lama tau ga? Aku udah nunggu kakak dari tadi. Bosen banget tauuu. " Adu rianti.


"Iya maaf ya, janji ak ga bakal kayak gitu lagi." Laki-laki yang bernama Fatah itu mengelus puncak kepala kekasihnya.


"Ya udah kamu pesen gih. "


Mereka berdua memesan menu yang diinginkan. Mereka berdua sangat serasi dengan Rianti yang memakai dress hitam selutut dan Fatah yang memakai kemeja hitam. Mereka makan, bercanda, dan tertawa bersama. Menikmati waktu berdua.


Tanpa mereka sadari, keduanya diperhatikan oleh seseorang dari kejauhan.


⭐⭐⭐


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍